Merawat Anak setelah Khitan

Sudah lewat 2 minggu  dari setelah Harsya disunat. Hari-hari saya sudah dipenuhi sama rengekan manja “Ibu, ini sakit. Ibu, tiupin. Aku ga mau diobatin, sakit, takut” dll

Wajar? Yaiyalah, namanya luka masa iya ga sakit. Tapi sedikit pengalaman saya sama luka terbuka dan luka jahit jadinya ga terlalu panik dan harus TEGA demi kesembuhan anak.

Baca : Tentang Khitanan Harsya

Jadi nih, kemarin setelah sunat selesai saya dibekali 1 botol obat tetes yang sampai sekarang masih jadi misteri sebetulnya kandungannya apa, 1 botol ibuprofen sirup, 1 botol amoxilin yang belum dilarutkan.  Instruksinya di hari pertama dan kedua teteskan obat tetesnya 1 jam sekali, ibuprofen sampai di hari kedua saja, dan antibiotik sampai habis. PATUHI!

Tips untuk merawat anak pasca khitan/ sunat/ sirkumsisi dengan cara konvensional

1. Luka harus selalu kering. Ini aturan yang wajib dipatuhi, karena ternyata implikasinya penyembuhan luka jadi lebih cepat dan sempurna. Kebetulan Harsya ini beberapa jam setelah sunat udah mau pipis tapi di 3 hari setelah sunat ini kemapuannya menahan pipis jauh berkurang. Jadi pas baru bilang “Ibu, mau pipis” baru jalan ke kamar mandi udah keburu pipis di depan pintu. Sementara setelah sunat posisi pipis anak harus diatur biar ga kena luka jahitan. Kalem nanti dikasih tau kok di kliniknya.

2. Teteskan obat tetes ke seluruh luka jahit dan kulit terbuka. Jangan hemat-hemat, beneran deh ini bikin lukanya cepet kering. Kalau Harsya merengek saya cuma ajak berdoa, tarik nafas dalam dan setelah itu alihkan dengan mainan atau tontonan. Di akhir-akhir malah Harsya merasa lebih baik kalau diijinkan melihat apa yang dilakukan ke luka sunatnya.

3. Kurangi aktifitas anak. Aslinya ya Harsya itu sepulang ke rumah pasca sunat malah lari-lari, duduk sembarangan aja sampe yang paling epic pengen ikut boncengan di motor sama Abah Haji-nya. Tentunya ini sebelum efek anastesi habis, karena beberapa jam setelah itu dia mulai berjalan lebih kalem dan mau tiduran. Yang terjadi ketika anaknya terlalu aktif adalah lukanya bengkak, sedikit ada pendarahan dan kalau Harsya sih jadinya banyak  ngigau. Terbukti di hari kedua setelah sunat banyak orang ngumpul di rumah bikin Harsya sama sekali ga tidur siang dan motah banget sama temen-temennya. Malam itu rasanya malam terberat saya menjaga Harsya karena setengah jam sekali anaknya mengeluh sakit dan dini hari dibuat heboh karena ada banyak darah karena bekas luka yang kering copot sebelum waktunya. Kasih apapun yang bisa bikin anak lebih banyak diam

4. Berikan makanan sehat dan protein tinggi. Ga usah takut kasih makan anak kecuali yang bikin alergi. Protein bikin anak cepet pulih, kalau Harsya saya tambah vitamin. Mungkin ada yang mau tambahkan madu, sari kurma atau habatussauda juga boleh. Saya pilih vitamin karena Harsya dikasih madu pasti muntah, terlalu manis buat dia. Kasih buah-buahan yang vit C nya tinggi juga biar pemulihan luka makin cepet

5. Miliki support system yang baik. Setelah sunat anak hampir seperti abis ngelahirin. Perlu butuh banyak dukungan dan bantuan. Begadang satu pas 3 malam pertama setelah sunat jagain anak ketika tidur, jaga agar posisinya selalu terlentang atau kalaupun miring tetap terjaga luka sunatnya agar tidak bergesekan dengan paha. Begadang dua pas luka udah kering dan gatel karena anak suka tanpa sadar menggaruk luka pas tidur. Sampe sekarang saya masih belum tidur nyenyak karena selalu ada yang keluhan ini itu yang muncul. Kondisi fisik dan mental orang tua harus kuat. Ga bisa “takut” ketika menghadapi luka, kelelahan yang berujung sakit dll. Jadi selain mikirin anak juga harus mikirin diri sendiri.

6. Sebaiknya ga pake celana khusus sunat. Iya ga salah baca kok, sebaiknya luka dibiarin terbuka aja paling pake pelindung yang bentuknya seperti topi dan pakaikan sarung aja untuk aktifitas di rumah. Selain itu, pengalaman saya pakai celana sunat itu malah bikin luka kesenggol sama batoknya dan tentunya segala drama dan rengekan kembali terjadi.

7. Biarkan anak berendam di air hangat setelah luka kering. Ini biar si hitam-hitam bekas luka bisa copot tanpa paksaan. Harsya mah kepinteran, tiba-tiba  tengah malam dia nyamperin saya dan bilang “Ibu, yang item-itemnya udah aku copotin. Aku udah sembuh sekarang, liat deh” tentunya ini bikin ibu panik liat dan buru-buru bersihin bekas lukanya yang belum sembuh sempurna.

Sedikit cerita tambahan yang tentang luka Harsya yang memang disunat karena phimosis, setelah sunat udah dikasih warning sama suster mungkin masa penyembuhan akan lebih lama terutama akan muncul lapisan getah bening yang normal terjadi. Lalu karena sempat terjadi pipis yang kena luka ini bikin bagian bawah penis masih basah sementara luka lain udah kering. Saya selalu membersihkan lukanya demi pemulihan jadi luka basah ini ga terlalu parah.

Tenang, karena banyak yang mengalami ini jadinya bisa pakai bioplacenton yang dioleskan,  ditutup dengan framycetin sulphate tulle dan kassa steril buat pemulihan. Tentunya ini dilakukan setelah kontrol ke klinik sunatnya.

Selalu bersihkan bagian selangkangan anak setelah sunat karena selalu ada sisaan obat tetesnya atau ada sedikit kotor kalau lukanya belum kering. Bisa pakai rivanol, cairan infus (NaCl) atau air hangat yang diusap pakai kassa steril. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan setelahnya ya ☺

Beberapa barang yang wajib disiapkan ketika merawat anak setelah sunat/ khitan

1. Sarung anak minimal 3 buah

2. Topi/ celana sunat 3 buah

3. Gunting, kassa, plester (kassa biasanya dikasih dari klinik)

4. Tissu kering. Disimpan ditempat yang mudah dijangkau

Semoga sharing ini bermanfaat buat yang akan mengkhitan anak lelakinya.

Salam dari mata panda yang selalu begadangin anaknya selama 2 minggu terakhir 😎😎😎

Tentang Khitanan Harsya

 

Alhamdulillah,

Tepat hari ini satu lagi sunnah Rasulullah SAW sudah dilaksanakan. Kami sudah mengkhitankan anak kecil yang umurnya 3 tahun 9 bulan. Beberapa pertanyaan muncul ketika mendengar Harsya mau sunat, “memang anaknya udah mau?”” Duh, ga nunggu nanti aja udah sekolah” “Kan masih kecil, kenapa buru-buru?” jawaban saya adalah “karena kami sudah niat”

Iya, memang niat ini dulu pernah tersampaikan ketika Umi-nya Harsya (Allahu yarhamha) masih ada. Saya bilang, nanti Harsya sunat kalau udah bisa membedakan sakit dan udah berkomunikasi dengan baik. Nah, tahun ini Harsya udah ada di usia threenager yang membuat segala hal lebih mudah dan lebih kompleks (hehe).

Beberapa lama yang lalu, Ayah ngobrol sama Abah Haji-nya Harsya dan munculah petuah untuk segera khitan sebelum 4 tahun. Sebetulnya saya juga udah ada niat untuk melakukannya ketika libur Idul Fitri yang tahun ini lebih lama dibanding biasanya. Jadi cocok kan? pilah pilih jadwal awalnya akan dilaksanakan ketika sesampainya kami di Garut. Tapi kok ternyata mepet banget ke Lebaran ya…hitung lagi dan jatuhlah di tanggal 18 Juni 2017.

Selanjutnya pilih tempat khitan yang mana untuk Harsya. Kami awalnya bersepakat bahwa metode khitan yang konvensional lah yang akan kami pilih. Sedikit ulasan tentang metode biasa ini, melalui proses sebagai berikut :

  • Pembiusan lokal
  • Pemotongan menggunakan pisau/gunting bedah oleh tenaga medis yang professional
  • Menggunakan benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan untuk menghentikan pendarahan yang timbul.

Keuntungan sunat biasa :

1. Kemungkinan terpotongnya glands penis sangat rendah.

2. Tindakan medis yang dilakukan sangat akurat sehingga hasilnya relatif paling baik

3. Semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Kelemahan sunat biasa :

1. Menimbulkan pendarahan yang lebih banyak

2. Proses sunat yang berlangsung relatif lama

3. Proses penyembuhan pasca sunat lebih lama

Untuk yang lainnya, boleh googling sendiri aja ya 🙂

Ada dua klinik yang sering saya dengar untuk khusus khitan di Bandung. Pusat Khitan Paramedika di Jl. Sukarno Hatta dan Klinik Seno Jl. Ahmad Yani. Kontak udah punya dan survey hanya dilakukan via telepon. Saya sudah mengerucutkan pilihan supaya ga kelamaan liat sana sini.

Pusat Khitan Paramedika
Biaya kelas VIP : 1juta dengan waktu khitan maksimal 5.30 pagi. Bedanya dengan kelas umum adalah obatnya.

Klinik Khitan Seno

Kami akhirnya pilih Seno dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah. Iya jarak sangat berpengaruh  untuk mengambil keputusan.

Tapi rencana manusia tetap Allah yang menentukan, 8 Juni 2017 Harsya resmi kena cacar air. Kami akhirnya hanya menunggu kondisi Harsya siap, jika sembuh maka khitan dilakukan 18 Juni, tapi jika tidak memungkinkan ya berarti di Garut aja pas mudik nanti. Teleponlah ke Klinik Seno dan setelah diperiksa (ini wajib sebelum khitan) maka Harsya bisa khitan tanggal 17 Juni karena kliniknya libur di hari Minggu.

Hasil pemeriksanaan ternyata phimosis, jadi sebaiknya memang khitan dilaksanakan sesegera mungkin sebelum terjadi infeksi atau pembengkakan. Kan, memang Allah yang menentukan kapan waktu terbaiknya

Persiapan sebelum anak dikhitan, untuk anak seperti Harsya segala bujuk rayu itu ga akan mempan. Kami sudah terbiasa berkomunikasi dan negosiasi sampai akhirnya sepakat. Jadi, langkah awalnya adalah SOUNDING.

Ibu : “Aca, mau sunat ga?”  jawabnya jelas sekali “ga mau, takut”

Ibu : “Kenapa takut? padahal sunat itu dibersihin lho. Mau ga jadi bersih?”

Harsya : “mmm..tapi aku takut digunting” mari salahkan orang disekitar yang nakut-nakutin anak laki-laki dengan sunat

Ibu: “Sunat itu dibersihin sayang, Ayah, Abah haji, Abah Dede, Om, Mamang, Uwa semua udah disunat”

Harsya :”Tapi nanti sakit”

Ibu : “Iya, kalau sakit kan bisa ditiupin sama Ibu. Kalau Aca jatuh sakit kan sama ibu suka ditiupin sambil berdoa biar sembuh. Jadi mau sunat?” Harsya : “mau” sambil ragu. 

Pembicaraan ini terus berulang setiap hari sampai akhirnya yang diulang adalah “Aca mau kok sunat, tapi mau dibeliin tas, sepatu, tenda buat tempat sembunyi sama kotak makan. Nanti kalau sakit, ga apa-apa biar ditiupin sama ibu sampai sembuh” Semua benda yang dijadikan syarat sudah diberikan, bahkan tenda sampai saya jahit sendiri. Semua contoh kejadian yang sudah sunat dari film kartun yang sering ditontonnya juga jadi bahan sounding. Ini dialog setelah nonton film Adit dan Sopo Jarwo

Ibu:  “Lihat deh Adit berani lho disunat”

Harsya : “Tapi kalau Denis takut tau, aku mah berani”

Ibu :”Iya, aca mah berani ya. Tapi Denis juga akhirnya berani lho. Malah katanya sunat itu cepet banget” 

Kenapa saya tetap membawa isu bahwa sunat ini sakit, karena ini kenyataannya yang harus dihadapi Harsya. Jadi dia tidak merasa dibohongi, penting buat saya supaya Harsya juga tahu resiko dari sunat ini selain segala keuntungan yang dia dapatkan.

Alhamdulillah…
Sekarang saatnya ibu menjalani drama “Ibu, ini sakiiiit….tiupiiiiiin”