It’s not about the place, but the person


J. Co Ciwalk 7.30pm

Cappuccino, donuts and J.Cool couple

Short moment, simple conversation only two of us.

Nice place with nice lighting

But you should know, it’s not about the place, but the person

Comfortable each other when we didn’t talk about heart feeling

Advertisements

Di Satu Perjalanan Pulang

Aku tidak tahu sudah berapa puluh kali aku melewati jalanan yang sama ini atau mungkin justru ratusan? coba saja hitung, aku sudah hampir 7 tahun ada di kota ini. Jika dulu tahun pertama aku seminggu sekali pulang dan pada tahun kedua mulai menjadi dua atau tiga minggu sekali sedangkan pada tahun ketiga mulai tiga minggu atau bahkan sebulan sekali dan sekarang hampir dua tahun terakhir ini frekuensi pulangku semakin jarang. Ah sudahlah, aku bukan ingin menceritakan pelajaran berhitung, aku hanya ingin menggambarkan seberapa sering aku melewati jalan yang sama ini. Dan ini adalah pertama kali aku naik bis lagi, sehingga aku bebas untuk membaca, mendengar musik, atau sekedar menulis notes.

Jalanan yang sama dengan ukuran bis yang semakin menciut saja. Akan terlihat bis jelas bis mana yang menuju ke rumahku, bis kecil dengan warna pink centil. Dulu bis nyaman menuju kota kecilku berwarna hijau terang. Sejenak aku kembali mengingat cerita hidupku sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Begitu banyak mimpi yang aku bawa dari rumah, dan begitu banyak cerita dan pengalaman yang aku bawa ketika pulang.

Dulu, jarang sekalia aku menghabiskan waktuku di jalanan ini sendirian. Selalu saja ada teman yang kadang sengaja berangkat bersama dari kampus atau memang tidak sengaja bertemu di terminal atau bahkan di bis. Masa itu adalah masa dimana teman adalah segalanya, saat beban hidup tidak lebih dari kuliah, pacar dan kehidupan pertemanan yang tidak selalu baik. Masih dapat aku menceritakan dengan jelas bagaimana setiap akhir minggu adalah saat yang dinanti dan pasti saja begitu banyak orang yang berebut bis untuk pulang. Kadang ketika bis nyaman itu sudah tidak ada di terminal, maka perjuangan naik bis ekonomi pun dimulai. Menunggu bis itu berangkat saja sudah lama, belum dalam perjalannya begitu sering bis ekonomi itu berhenti. Perjalanan yang seharusnya hanya 2 jam saja, bisa menjadi 4 jam. Tapi perjalanan itu tidak pernah sepi dari tawa atau kadang cerita sedih dari teman dan berakhir dengan gelap sepanjang sisa perjalanan, alias tidur nyenyak sampai terminal tujuan.

Beruntung aku pernah mengalami banyak hal dan masih bisa kau ceritakan. Apakah teman-teman perjalananku masih ingat cerita-cerita ini? Mungkin ya, mingkin juga tidak karena ingatan mereka sudah tertutup oleh begitu banyak cerita lain yang lebih penting. Dulu, aku melihat kota ini sangat jauh. Bagaimana tidak, papahku selalau menyiratkan sepertinya kota ini jauh sekali. Mungkin papahku hanya khawatir, bagaimanapun aku tetap putri kecilnya. Bahkan aku tidak diijinkan untuk menaiki bis umum dan lebih dipilihkan travel. Setelah semakin sering aku pulang pergi, semakin pintar juga aku memilih kendaraan umum untuk pulang pergi. Aku mengalami ongkos bis AC mulai 7000, 9000, 12000, 17000, 15000 dan sekarang ongkos bis mini ini 13000. Aku juga tidak sedang menceritakan pelajaran ekonomi, aku hanya ingin memperlihatkan seberapa besar perubahan itu terjadi selama ini.

Banyak cerita di jalanan ini, dari pulang bersama si pacar, lalu si pacar ini berganti oleh mantan sahabat yang akhirnya jadi pacar juga (mantan sahabat???hmm…), kadang bersama para sahabat yang akan menghabiskan berderet-deret kursi. Berbagi kursi yang seharusnya untuk berdua jadi digunakan untuk bertiga (dulu aku masih kurus sekali, dan hal itu tidak bisa dipraktekan sekarang), berdiri karena kehabisan tempat duduk, bahkan pingsan karena kehabisan oksigen dalam bis ekonomi ketika sedang puasa (hahaha), berkenalan dengan orang baru yang ternyata temannya teman, ngobrol dengan ibu atau bapak atau kakek nenek atau dengan anak kecil yang baru aku kenal di bis. Lihatlah, aku yang pendiam dan pemalu telah bertransformasi banyak karena cerita di jalanan. Dan yang paling penting, aku tidak pernah sendirian.

Hari ini, dijalanan yang sama saat matahati bergerak berganti dengan lampu-lampu mobil dan lampu jalan aku sedang bercerita sendirian. Dimana teman-temanku? Hilang? Bukan, mereka bukan hilang mereka masih saja ada untukku dalam bentuk yang berbeda. Mereka adalah sahabat yang tetap ada meski ceritaku bukan lagi cerita bahagia, atau mereak akan tersenyum dengan pelukan hangat ketika aku membawa cerita dengan penuh senyum di wajahku. Dengarlah, betapa aku rindu kalian sahabatku…

Bis kecil ini masih bergerak menuju rumahku, aku duduk melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan atau kadang melihat ke arah bulan yang ada diantara awan-awan. Kehadiran bulan membuat keadaan lebih dramatis, alasannya sederhana, aku tidak pernah berani melihat ke arah matahari dengan mata kosong tanpa pelindung seperti aku bebas melihat bulan. Berada di jalanan seperti ini aku seperti sedang merefleksikan diriku, jalanan yang tidak selalu lurus dan mulus, kadang belok, kadang berlubang, kadang melambat atau malah berhenti sama sekali, tapi bis kecil ini tetap berjalan menuju tujuan. Khusus kali ini, aku bebas memandang kiri kanan dan membaca setiap tulisan yang ada atau mengomentari sesuatu dalam hati. Tidak seperti biasanya waktu aku memacu Shaggy dengan kecepatan diatas 60 km/jam, aku harus tetap fokus pada jalanan yang memang selalu ramai.

Tiba-tiba seorang teman menghubungiku, hanya untuk menceritakan tadi dia melihat seorang laki-laki “smart looking” di angkot, katanya mirip dengan “Lex Luthor” berpenampilan seperti eksekutif muda dan dia bilang “untung saja tidak membabi buta tiba-tiba meminta nomor telepon orang itu” (hahaha)..untung saja, karena biasanya eksekutif muda tidak naik angkot, mungkin dia hanya salesman.

Cerita terakhir memberikan sedikit tawa di perjalanan ini. Perjalananku baru setengahnya dan mataku sudah minta untuk diistirahatkan meski rasanya berat mengorbankan pemandangan lampu malam. Sebentar lagi bis ini akan melewati turunan yang terkenal dengan kemacetannya ketika musim liburan tiba.

**menulis dalam perjalanan ditemani oleh earphone yang terpasang di telinga memutar lagu-lagu yang memang sesuai dengan suasana hati**

Rasanya seperti membaca "RECTOVERSO"

Mungkin aku sudah setahun lalu membaca buku ini, tapi didukung dengan cuaca hati yang sama dengan cuaca Bandung hari ini aku jadi mengingat kembali seperti apa rasanya membaca RECTOVERSO. Cuaca Bandung hari ini dimulai dengan hujan di pagi hari, lalu mendung, lalu terang, lalu hujan. Seperti itulah kira-kira hatiku.

Intinya isi buku itu sedih, tapi karena dituliskan dengan cara yang bagus maka jadi cerita sedih yang bagus. Aku merasa hidupku satu bulan terakhir ini penuh dengan cerita. Ada cerita bahagia, sedih, marah bahkan terpuruk dan rasanya ingin tenggelam ke dasar bumi yang jika diceritakan satu persatu sudah pasti akan menghabiskan banyak sekali chapter. Hari ini aku diingatkan kembali dengan rasa membaca Rectoverso, setiap chapter dalam buku itu menceritakan sedih dan betapa kenangan itu bisa menjadi sesuatu yang indah. My heart feeling blue..mungkin seperti itu yang akan dikatakan oleh para pujangga.

Ada cerita bahagia yang sangat ingin aku ceritakan dengan meluap-luap. Ada cerita sedih yang aku ceritakan dengan tangis yang masih tersisa. Ada juga rasa marah yang aku tuliskan dengan bahasa yang aku kemas sedemikian rupa agar tidak menyinggung. Ada rasa terpuruk yang ingin aku bagikan untuk sedikit kembali tersenyum.

Aku seperti biasanya selalu bisa menceritakan ulang apa yang aku alami dalam hidupku dengan mudah. Rasanya aku masih bisa mengingat setiap rasa detik perdetiknya, aku sudah membiasakan ini dari kecil. Aku bisa menceritakan dari awal aku menginjakkan kaki di teras rumah samapai kembali ke dalam rumah. Hal ini membiasakanku untuk terus dapat mengingat setiap pengalaman baik dan buruk dalam hidupku.

Mungkin seharusnya aku sedang merasa bahagia, tetapi entah kenapa bahagiaku terhalang oleh kabut tebal yang dengan menggunakan lampu besar sekalipun tidak bisa ditembus. Aku berpikir apa yang salah? Tapi tidak juga aku menemukan alasan kenapa aku merasa ada yang salah. Memang semua tidak perlu aku ketahui alasannya. Aku harus mengalah pada rasa penasaran yang berlebihan, aku harus bertarung dengan perasaanku yang mengalir deras, aku harus membendungnya untuk kebaikanku.

Berharap pilihanku benar adanya, jangan sampai aku menyesal. Aku teringat satu quote yang aku baca “Never regret. If it’s good, it’s wonderful. If it’s bad, it’s experience”. Kalimat sederhana, yang sangat berarti banyak. Hope there’s so many wonderful thing…

***Really wait for those wonderful, and I never expect that my feeling will be so blue, will you make it red?***

Orang yang Jatuh Cinta Diam-Diam – MMJ- Raditya Dika

Akhirnya bisa baca buku ini, buku tidak penting yang justru jadi sangat penting di saat-saat seperti ini. Pertama mencari di Gramedia Merdeka ternyata habis, sempat kesal tapi akhirnya bisa dapat buku ini di Gramedia IP. Kronologisnya gini, aku masuk ke Gramedia, mencari di komputer dengan kata kunci “Marmut Merah Jambu”, dan whoalaaaaa ada! stocknya tinggal 34 buku tapi masalah berlanjut, aku tidak bisa langsung menemukan buku itu, bahkan tidak ada petugas yang bisa ditanyai di mana buku itu berada. Tapi beruntung seorang teman menemukannya,dan berakhirlah buku itu di tanganku sekarang.

Chapter pertama yang dibaca sebenarnya How I Met You, Not Your Mother. Tapi sepertinya me-review satu-satu lebih enak. Membaca Orang yang Jatuh Cinta Diam-Diam ini sebetulnya membuatku merasa ini sangat AKU. Paragraf terakhir dari chapter pertama itu

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yg ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yg jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yg kita inginkan. Terkadang yg kita inginkan bisa jadi yg tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yg kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yg jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yg mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian

ya orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Tapi jelas kalau aku tidak menginginkan ini. Jatuh cinta diam-diam itu melelahkan, kita membiarkan seluruh dunia tahu bahwa kita jatuh cinta kecuali orang yang kita cintai itu hanya dengan alasan gengsi atau mungkin justru malu atau malah tidak mampu untuk mencintai dengan terang-terangan.

Buatku bagian paling menyentuh dari chapter ini justru ketika Dika mengutip kalimat Oscar Wilde

“Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain, tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun,kita tidak punya apa pun untuk dikatakan”

See that, memang seperti itulah orang yang jatuh cinta diam-diam. Begitu seringnya bersinggungan, tapi kadang terlalu sulit untuk membuat sinyal. Mengetahui bahwa kita telah berpapasan, lalu aku malah berusaha lari sekuat mungkin tapi ini bukan karena aku benci, malah justru karena aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri. Jangankan bertemu, hanya dengan memikirkan saja aku sudah dag dig dug, hanya dengan mendengar suaranya di telepon aku bisa merekam jelas seperti apa suaranya, hanya dengan melihat di situs jejaring sosial lalu dengan terus menekan older post sampai lelah aku bisa tersenyum puas sendirian, hanya ketika teman mengingatkan aku padanya wajahku bisa terasa sangat panas. Begitulah orang yang jatuh cinta diam-diam, senang, sedih, kangen hanya bisa dirasa sendirian.

“Orang yang jatuh cinta diam-siam memenuhi catatannya dengan perasaan hati yang tidak tersampaikan..”

Sama saja sepertiku, catatanku penuh tentangnya, entah berapa puluh postingan blog selama 6 bulan yang aku hapus, entah berapa lembar buku harian yang selalu saja bercerita tentang dia, entah berapa banyak arsip sms yang berasal dari dia (jika saja si putih tidak pernah rusak), atau entah berapa banyak received call dan dialled number yang tidak pernah terhapus (kembali jika saja si putih tidak pernah rusak), bahkan gilanya aku masih menyimpan tagihan kartu pasca bayarku yang menuliskan seberapa sering aku menghubunginya (which is tagihan ini adalah tagihan 3 tahun lalu). Memang begitu orang yang jatuh cinta diam-diam, seperti Raditya Dika tuliskan “Orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detil semua informasi orang yang dia taksir, walaupun mereka belum pernah ketemu”.

*Aku tidak ingin hanya jadi orang yang jatuh cinta diam-diam
. Chapter ini sudah memberitahu dan mengingatkanku akan banyak hal

Oh no! I’m Fat!

I’m fat…and more fat day after day…huks huks…
hard for me to lose some weight, but wait not only some but a lot weight. Just imagine, my height 165cm and my weight is xxkg (I can’t write it off)..i need to lose maybe about 15-20kg. and how it could be?

Berpikir untuk rajin olahraga tapi berpikir lagi mau olahraga dimana, kalau lari pagi mau lari pagi kemana?POLBAN terlalu horor, ke daerah atas lebih horor lagi. Fitness malah diganti jadwalnya jadi jumat pagi, bagaimana caranya setelah berkeringat lalu harus masuk kerja?Jadi olahraga jadi hanya tinggal keinginan saja.

Berencana untuk mengatur pola makan, berakhir dengan makan gorengan pagi hari, makan berlemak di siang hari, dan makan semaunya di malam hari.

Tidur teratur, ah hanya mimpi saja. Jam 10-11 kadang masih belum bisa tidur, jam 2 bangun dan sulit tidur lagi, jam 4 bisa tidur dan jam 5 atau 5.30 harus sudah bangun lagi

Haduuuh….mulai stress dengan baju yang mulai tidak nyaman dipakai, perut yang semakin tidak enak dilihat, pipi yang semakin chubby, sedih setiap kali berniat membeli baju malah jadi manyun karena tidak ada baju yang pas ukurannya, aku mau lebih kurus!

Baiklah, dalam 3o hari kedepan aku harus bisa menurunkan minimal 5-10 kg. Tapi bagaimana caranya?

1. Mengatur makan. Sarapan harus dikosan, lalu makan siang dan makan malam? di usahakan dikosan juga. Yang artinya, aku harus mencari lauk yang lebih tahan lama. Lidahku masih sering tergoda makan gorengan…

2. Mulai olahraga lagi. Disadari bahwa kegemukan mengakibatkan sering jatuh karena sepertinya kaki tidak kuat menahan berat badan. Waktu untuk olahraga biasanya akan lebih menarik jika digunakan untuk tidur…

3. Tidur teratur. Baiklah, berhenti memikirkan hal lain-lain, dan tidur lebih cepat. Sekarang kan sudah karyawan total, bukan lagi karyawan berstatus mahasiswa jadi tidak ada lagi alasan untuk begadang.

Berharap dengan ini aku akan sukses menurunkan berat badan, bisa memakai baju dengan lebih nyaman, bisa merasa lebih sehat, bisa menurunkan tekanan darah, dan merasa badan lebih ringan.

Amiin

*fat makes me crazy!*

Confession of an American bride


Film ini sebetulnya film yang tidak sengaja Aku tonton dini hari tadi. Aku bangun jam 2.37 karena sakit perut, kedinginan, dan kasur yang tiba-tiba tidak nyaman. Karena Aku penakut, jadi ketika tidur harus ada bunyi yang didengar dan akhirnya TVku tidak pernah dimatikan. Film ini sedang diputar disalah satu stasiun televisi, jadilah aku menonton film ini sampai selesai.

Ini film drama, yeah..i’m a drama movie lover,film drama apapun pasti Aku tonton dengan alasan di film ini tidak ada tembak-tembakan, darah yang berceceran, hantu, psikopat yang meneror, atau alien-alien jahat yang bisa membunuh peradaban manusia. Meski kadang-kadang aku menonton film action, kolosal, science, horor (kecuali horor Indonesia soalnya takut ketemu hantunya, hantu-hantu dari luar negeri sana tidak akan bisa sampai ke Indonesia kan?).

Confession of an American bride, sebetulnya confession itu bisa dirasakan oleh calon pengantin manapun sepertinya. Ketika perempuan sudah dilamar, dan mengatakan “Yes, I do” sepertinya hidup calon pengantin itu mendekati sempurna. Artinya, perempuan itu sudah punya seseorang untuk berbagi sampai akhir hidupnya (so happy ending). Tapi jika kemudian perempuan itu bertemu dengan seseorang dari masa lalunya, yang dulu selalu ada dalam pikirannya, dan ternyata seseorang itu juga punya perasaan yang sama dengannya. Whoala!she’s happy for a momment, dan berpikir andai saja….”…”, perempuan itu hanyut dalam perasaaannya dan secara kebetulan calon suaminya menjadi sangat menjengkelkan maka masalah itu terjadi, dan akhirnya calon pengantin itu memutuskan untuk membatalkan pernikahannya, mengembalikan semua hadiah yang sudah diterima, mencoba menjalani hubungan dengan seseorang dari masa lalunya itu, dan kemudian menyadari bahwa calon suaminya adalah pasangan terbaik yang pernah dia miliki, and then they have a happy marriage ever after.

Pelajaran dari film ini adalah :

  • Finish all of your heart business with person from the past before you say “yes, I do”. Ya jodoh memang tidak ada yang tahu, tapi kan selalu ada tanda yang diberikan untuk setiap pasangan yang berjodoh. Jangan sampai setelah memutuskan untuk hidup dengan seseorang, lalu masa lalu datang untuk menggoda, dan akhirnya tergoda, lalu menyesal.
  • Pernikahan itu butuh perencanaan dan persiapan yang baik. Melihat dari pengalaman pernikahan teman-teman (karena Aku belum menikah), persiapan pernikahan itu banyak sekali, tapi dengan perencanaan yang baik, semua jadi lebih mudah dan pada saat acara berlangsung tidak ada kepanikan yang tidak seharusnya terjadi.
  • Pernikahan itu bukan hanya milik pengantin wanita atau pengantin pria, tapi milik keduanya dan seluruh keluarganya. Sesuatu yang dikerjakan berdua akan lebih baik dibanding dikerjakan sendirian, minta pendapat keluarga minimal orang tua untuk setiap keputusan yang diambil.
  • Nikmati saat pernikahan itu berlangsung. Ya apalagi yang harus dilakukan ketika persiapan sudah dilakukan dengan baik? Nikmati saja, itu pesta penikahanmu dan sudah seharusnya pengantin itu berbahagia.

Free your mind, and face your life happily ever after

UP IN THE AIR


Setelah hampir 3 bulan tidak menonton film karena kesibukan menyelesaikan TA, akhirnya minggu ini Aku mulai kembali untuk menonton film yang seharusnya ditonton sejak berbulan-bulan lalu. Sebetulnya film pertama yang ditonton adalah Avatar, tapi cerita yang itu nanti dulu ah.

Up in the air, film ini sebenarnya sempat mengingatkanku pada saat Aku menghabiskan waktu di darat, air dan udara untuk sebuah pekerjaan 3 tahun lalu. Packing adalah sebuah rutinitas yang selalu dilakukan, semua barang berada dalam koper yang sama agar mudah dibawa kemanapun dan tentu saja untuk lebih menghemat waktu. Koper dan backpack adalah dua jenis tas yang selalu dibawa kemanapun.

Koper, isi tas yang ini adalah beberapa potong celana jeans, banyak kaos, banyak jilbab, banyak undies (karena setiap datang ke satu daerah selalu membeli baru), sarung, kaos kaki, sandal jepit, sepatu dan bantal kecil.

Backpack, isi tas yang ini adalah laptop, buku kecil, buku besar, beberapa pena, baju kaos, jilbab, alat shalat, alat mandi, handuk, lotion anti nyamuk, tisu basah, dompet, charger hp, dan kacamata.

Jadi flyers untuk beberapa saat karena harus berangkat dari satu kota ke kota lain, jadi penumpang mobil selama berminggu-minggu untuk menempuh satu desa ke desa lain, dan menjadi penumpang kapal laut untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lain. Tapi tetap ada satu tempat yang ingin selalu dituju yaitu rumah. Ya, rumah dimana keluargaku akan selalu ada.

Up in the air, film yang memberikan beberapa pelajaran penting (kita akan selalu dapat mendapat pelajaran dari apapun).

  • Sebuah kesempurnaan itu datang dari kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Ryan dapat melakukan persiapan perjalanan dinas dengan mudah dan cepat karena dia telah melakukan itu selama 322 hari dalam satu tahun. Sedangkan Natalie, seorang karyawan baru yang baru akan melakukan perjalanan dinas berjalan lambat dengan sebuah koper lama dan barang-barang yang sama sekali tidak cocok untuk dibawa dalam sebuah perjalanan dinas.
  • Personal touch itu penting dalam dunia kerja dan kehidupan pribadi. Begitu banyak kemajuan teknologi saat ini yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya perjalanan dinas atau ongkos pulang ke rumah. Tapi dalam kenyataannya, ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan melalui YM, MySpace, e-mail, telepon, fax, atau sms. Teknologi itu hanya alat bantu yang tidak lebih pintar dari manusia.
  • Idealisme karyawan baru dan pengalaman kerja para karyawan senior adalah sesuatu yang dapat di gabungkan untuk mendapatkan hal yang jauh lebih baik. Seorang karyawan baru dengan pengetahuan baru dan segala idealisme yang dimiliki akan menjadi nilai tambah bagi sebuah perusahaan, dan seorang karyawan dengan pengalaman yang banyak dan sudah tahu segala hal tentang perkerjaannya juga merupakan nilai tambah. Karyawan baru membagi pengetahuannya pada senior, dan senior membagi pengalamannya pada junior. Ini merupakan sesuatu yang jauh lebih positif dibandingkan saling mempertahankan keinginan masing-masing dan akhirnya perang dingin.
  • Keluarga adalah sebuah tempat untuk kita pulang kapanpun. Terlalu lama tidak ada di rumah, kadang membuat seseorang sangat merindukan rumah atau malah bahkan tidak ingin kembali ke rumah. Tapi pada akhirnya, rumah itu akan selalu menunggu kita untuk kembali.

Most of all, film ini sangat bagus. Alur cerita yang rapi, gambar yang bagus, kata-kata yang lugas dengan pemikiran yang baik dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini.

Life’s better with company, everybody needs co-pilot.