Pesona Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2

 

aac2

Sepanjang nonton film ini yang terungkap adalah “aaaaaaah…Aa fedi nih” sampe sedikit tersipu gitu deh. Dari awal nonton AAC2 ini sempat mikir, ini lokasinya dimana ya? Sampai akhirnya satu scene muncul sebuah jembatan yang familiar karena sering lihat di youtube channel orang lain yakinlah bahwa itu di Edinburgh. (lupa pernah ada teman yang tinggal di Edinburgh yang posting kalau anaknya jadi pemeran anak di film ini) Ya, saya jarang nonton trailer film sebelum masuk ke ruang teater. Supaya tidak ada ekspektasi apapun dan tidak perlu kecewa, cukup nikmati saja filmnya. Continue reading “Pesona Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2”

Advertisements

Long Weekend Part 1-Nginep di The Arnawa Hotel Pangandaran

Libur panjang awal bulan Mei ini jadi bahan buat liburan keluarga merayakan “kepulangan” Pak Suami ke rumah. Jadi dari jauh-jauh hari udah direncanakan mau liburan tujuannya hanya luar kota. Beberapa tempat sempat jadi pilihan Bali, Anyer, Ancol, Pangandaran, dan Jogja. Tapi karena masih maju mundur tentang rencana kepergian karena ada masalah lain akhirnya sampai akhir bulan April masih belum juga nentuin tujuan liburan. Tempat yang perlu tiket kereta dan pesawat udah pasti dicoret, akhirnya antara Pangandaran dan Jakarta kami kembali memilih Pangandaran dengan alasan masih bisa mampir ke Garut buat nengokin orang tua kami di perjalanan kembali menuju Bandung.

Karena last minute buat nyari hotel di Pangandaran dan referensi kami hanya The Arnawa jadinya pilih hotel yang sama tempat kami menginap pertama kalinya di Pangandaran beberapa bulan lalu. Alasannya, saya ini super manja pengen tidur di tempat yang enak setelah perjalanan lama dari Bandung, ada kolam renang yang nyaman buat anak, deket ke pantai dan gampang diakses dari gerbang masuk lokasi wisata Pangandaran.

Cuma dapet hotel untuk 1 malem karena tanggal 5-8 sudah full book, ya kali orang udah pesen dari sebulan sebelumnya sementara saya baru 2 hari sebelum liburan 😀 tapi itu sama sekali ga menggugurkan niat liburan ke pantai buat lihat laut dan naik perahu.

Kami sampai di Pangandaran sore dan langsung check in hotel. Suka banget deh dengan The Arnawa hotel ini karena view pertama ketika check in adalah kolam renang, anak kecil yang tadinya udah super duper bosen di perjalanan langung nyengir bahagia dan bilang “mau berenang!” sementara badan saya dan Pak Suami masih berasa kayak mau patah. Beda dengan yang pertama kalinya dulu, kali ini saya mendapat kamar di lantai 2 dengan alasan yang di bawah sudah penuh semua tapi kalau menurut Pak Suami enak yang di atas karena rasanya lebih luas padahal menurut saya sama saja. Ya udah manut aja sama suami 😀

IMG-20160505-WA0003Double bed, jadi kalau kita pesen lewat travel agent tinggal isi nanti berapa yang nginep mereka akan bantu untuk request kamar sesuai kebutuhanIMG-20160505-WA0002Fasilitas ruangan yang menurut saya cukup untuk kegiatan liburan singkat (maafkan itu semua tas yang udah ga beraturan)

IMG-20160505-WA0000 Kamar mandi dengan air hangat, tanpa bathtub tapi cukup cuma sayang sikat giginya dikasih satu 😦

Karena anak kecil udah berisik minta berenang, akhirnya kami segera bersiap berenang. Cuma di Pangandaran bisa berenang malem tanpa takut kedinginan. Dari awal memang niatnya mau berenang, jadi baju renang saya dan Pak Suami udah pasti masuk ke list barang bawaan sementara anak kecil cuma pake training pants aja karena baju renangnya udah kekecilan.

20160504_210816

Kegirangan karena diijinkan berenang malam

Selesai berenang yang sebetulnya cuma nyemplungin diri ke air aja, kami memutuskan untuk makan di hotel karena udah pernah nyoba untuk makan segala seafood di perjalanan ke Pangandaran dan karena yakin badan udah pengen banget rebahan. Jadi tinggal angkat telepon buat pesen cumi kalamari sama capcay seafood, nasinya bekel dari rumah. hahahaha…ngirit abis.

zzzz….tidur dan bersiap buat aktifitas liburan sebenarnya.

Dari awal ittenary kita cuma main ke pantai, naik perahu, lihat laut. Itu terus yang di sounding ke anak kecil dan alhamdulillah dia sangat excited untuk naik perahu (dia belum tau seperti apa tantangan di depan.hahahaha). Jadi pagi hari kita mulai dengan BERENANG (lagi), kayaknya emang semua anak kecil selalu suka air deh, jadi kami memutuskan untuk kembali berenang dengan baju renang bekas tadi malem. Karena dengan kesadaran penuh ini hotel bakal rame banget jadi bangun sepagi mungkin untuk beraktifitas. Sarapan, berenang lalu melaut hanya itu yang ada di pikiran kami untuk menikmati Pangandaran.

20160505_071159

Ibu, mau makan kokokang (coco crunch)

20160505_072921

Berenang lagi, lagi dan lagi

20160505_080918

Dapet hadiah pelampung dari Kakak Rahman pas ulang taun yang kedua kemarin, baru dipake sekarang

Yang enak dari The Arnawa ini emang kolam renangnya enak, dibagi 3 ada yang kecil dangkal untuk anak ada yang kecil agak dalem dan ada yang untuk dewasa. Semuanya sebetulnya ga terlalu dalem jadi enak. Tapi yang paling nyaman memang kolam yang untuk dewasa ini karena airnya cukup hangat dibanding yang lain. Setelah puas sarapan, berenang akhirnya bersih-bersih dan bersiap main ke pantai.

Bersambung..

Tentang “Sabtu bersama Bapak”

Buku yang satu ini memang sering muncul di timeline twitter saya karena kang Adhit sering banget munculin retweet tentang bukunya.

Saya penasaran sebetulnya seperti apa cerita buku ini, sejak saya melahirkan ini adalah buku pertama yang saya beli. Tidak perlu waktu lama untuk saya bisa menikmati cerita yang disuguhkan oleh penulisnya.

Sebagai seorang perempuan saya menikmati semua tokohnya,Bapak, Mamah, Satya, Saka, istrinya Satya, bahkan calon istrinya Saka. Semua tokohnya hidup!

Saya jatuh cinta sama Bapak, lelaki hebat yang bahkan dalam ketiadaannya di dunia bisa tetap menemani keluarganya dalam maya. Meski saya yakin, seorang istri dan anak pasti perlu pelukan suami dan bapaknya tapi dengan caranya sendiri Gunawan sudah menjadi Bapak yang ideal bagi anak dan keluarganya.

Saya suka sosok Mamah yang kuat dan mandiri. Perempuan yang bisa menjadi teman hidup kedua anaknya, meskipun sering kali hati serba manusiawi. Ada waktunya Mamah ini sangat merindukan kehadiran anaknya pada saat keadaan terlemahnya. Tapi kembali, suaminya sudah menyiapkan segalanya.

Satya, lelaki ideal untuk dilihat oleh orang kebanyakan. Pintar, tampan, mapan. Tapi ketika dia menerima email dari istrinya yang mengatakan sebaiknya dia jangan dulu pulang ke rumah karena Satya bukan orang yang diinginkan di rumah. Hebatnya, kembali Bapaknya adalah penolong rumah tangga mereka. Satya lelaki yang bisa berubah dan sadar bahwa tegas bukanlah marah, ideal bukan sempurna, dan cinta adalah segalanya.

Saka, siapapun yang membaca buku ini diawal akan menyadari bahwa Saka bukan lelaki “wah”. Tapi tidak perlu sesuatu yang WAH untuk membuat Ayu jatuh cinta padanya, karena Bapak sudah mengajarkannya banyak hal. Kepribadian Saka yang manis pasti akan membuat wanita yang dekat dengannya jatuh cinta setelah pertemuan kesekian.

Buku ini akan memberikan solusi dari masalah kehidupan yang biasa kita temui. Kang Adhit bisa membuat laki-laki yang membaca buku ini untuk mulai berubah seperti Bapak, Satya dan Saka sedangkan perempuan yang baca pasti pengen punya lelaki seperti mereka.