Menu Lebaran

1437202124455

Jadi tahun ini saya dapet jadwal lebaran di rumah orang  tua saya, kami punya kesepakatan selama orang tua ada maka kami akan bergiliran lebaran di rumah orang tua kami.  Selain karena jarak juga dekat juga karena kami harus adil bersikap pada orang tua 🙂

Nah, berhubung saya ini anak perempuan pertama di keluarga saya dan di rumah mertua juga saya kebagian jadwal masak maka saya udah merencanakan menu lebaran yang akan dimasak. Standar ya, lebaran itu selalu ada menu berbagai daging dan kentang. Bumbu cabe, santan dan bersiap dengan kolesterol.

Nanti klo lagi punya “hidayah” saya posting juga deh resep-resep makanan yang saya masak kemarin 🙂

See you,

xoxo

Tentang belajar mengelola uang

previewDisclaimer : Ini bukan tips-tips ala pakar keuangan yang gelarnya panjang banget itu. Ini murni cuma cerita bagaimana saya belajar mengelola uang selama ini.

“Ya enak atuh kamu mah kerjaan 2 kan double gajinya, suami juga kerja masih kadang dapet dari proyekan juga, anak baru satu. Saya mah tanggungan udah banyak banget”

Alhamdulillah, kalo patokannya cuma pendapatan sih ya begitu pandangannya. Tapi kalo saya ceritain apa saja pos biaya yang harus saya keluarkan setiap bulannya pasti paham kenapa saya dan suami bisa sampai mendapat penghasilan seperti sekarang.

Perjalanan saya mengelola keuangan bukan penuh sukses sampe punya tabungan banyak, tapi yang pasti saya diajari mamah saya sejak masih kelas 5 SD. Saya masih ingat uang jajan saya saat itu seribu rupiah sehari, sekolah dari senin sampe sabtu dikasih uang mingguan 5rb rupiah saja!. Cukup? ya harus cukup, berhasil ga? engga! hahaha…awal-awal saya dikasih uang 5000 sekaligus uangnya udah habis di hari ke 3, soalnya waktu itu baru ada supermarket di kota saya dan saya menghabiskan uangnya untuk beli alat tulis lucu-lucu. Sisanya gimana? saya cuma nyisain uang buat ongkos pulang pergi sekolah aja, tanpa jajan. Tersiksa banget, udah uang jajannya dipotong sehari masih harus ngatur juga keuangannya. Padahal umur saya baru 10 tahun waktu itu. Lulus SD saya masuk asrama pesantren, yang meski dekat rumah berarti saya harus belajar mengatur keuangan dan kehidupan saya.  Mamah mulai memberi uang 2 mingguan, yang sering berujung saya jalan kaki dari sekolah ke rumah soalnya uangnya habis ditengah 2 minggu itu.

Mulai beranjak SMA, mamah saya memberikan tantangan lebih. Uang jajan mulai dikasih bulanan dan termasuk bayar spp sekolah, bayar les, ongkos sekolah dan les dan uang jajan. Ga banyak cuma 60rb aja sampai kelas 3 SMA saya punya uang bulanan 140 ribu tapi harus nanggung semuanya. Susah, berat apalagi kalau lihat teman-teman punya barang baru lucu-lucu, jajan bisa apa saja dimana saja bahkan sampai bisa main kemana saja.

Nah, pas awal kuliah justru saya merasa sedikit berlebih dibanding dengan sebelumnya karena waktu kuliah saya kembali diberi uang mingguan dengan ongkos pp rumah-kosan ditanggung papah. Setiap pulang diberi bekal makanan yang bisa bertahan minimal untuk 2 atau 3 hari. Dari tabungan kecil-kecilan sisa uang jajan saya bisa beli hp baru motorola warna putih yang saya lupa tipenya dan berakhir dengan jatah uang bekal saya dipotong karena masih bisa nabung :)) Papah saya punya prinsip yang kaku soal uang bekal, seharusnya uang bekal itu untuk makan dan ongkos kalau ada kebutuhan lain diluar itu harus bilang ke papah. Tapi, bukan berati papah saya memanjakan kami anak-anaknya karena kami hanya punya sesuatu yang baru ketika tahun ajaran baru berupa seragam, tas, sepatu serta momen lebaran. Adik saya bergelimpangan mainan ketika mereka disunat sedangkan saya punya barang baru karena berhasil dapat beasiswa karena mendapat IP jurusan teknik lebih dari 2,75.

Begitulah saya dan kedua adik saya dididik mengenai uang, kami biasa hidup biasa saja. Kami punya apa yang orang lain punya dengan level berbeda, sepatu kami baru tapi bukan keluaran terbaru dari merk terkenal, baju kami baru bukan keluaran distro terkenal, motor kami motor biasa saja, Komputer dan laptop yang kami pakai bukan yang paling canggih tapi bisa dipastikan memenuhi kebutuhan kami selama belajar.

Pengalaman saya belajar mengenai mengelola keuangan itulah yang akhirnya bisa membuat saya bertahan mengelola keuangan rumah tangga. Sejak masih lajang dan mulai mempunyai penghasilan tetap sendiri saya mulai lepas dari sokongan dana dari papah. Saya mulai bebas untuk punya barang-barang yang saya inginkan dan butuhkan sesuai dengan gaji yang saya dapatkan.

Ini list yang pasti saya lakukan setiap bulannya :

1. Nabung; sesaat ketika uang gaji masuk minimal 10% dari gaji

2. Bayar tagihan; tagihan rumah, sekolah anak, telepon, listrik, kartu kredit, iuran keamanan&sampah komplek,arisan,cicilan ini itu lainnya

3. Belanja kebutuhan rumah bulanan; segala barang yang dipakai sama seisi rumah dibeli sekaligus supaya hemat waktu hemat bensin dan hemat uang karena sudah terstruktur.

4. Pos uang; sistem AMPLOP! ya saya masih konservatif soal ini, semua uang anggaran saya masukan ke amplop supaya mudah untuk mengetahui ketika ada kelebihan penggunaan

5. Belanja kebutuhan dapur mingguan; kalau ini tukang sayur langganan saya udah hapal banget, dia cuma akan mampir ke rumah saya 3 hari sekali dan tiap weekend karena saya akan masak besar pada hari libur dan hanya akan menghangatkan makanan ketika hari kerja. Hemat gas, hemat uang.

6. Karena kebiasaan itu saya jadi masih bisa makan diluar, jajan baju, dan seringnya sih beli-beli barangnya anak.

Kebiasannya emang sama dengan yang disuruh para pakar keuangan, ya mereka kan harusnya udah meneliti sistem yang mereka buat itu akan bekerja dengan baik. Saya belum di level bisa investasi beli reksadana atau LM karena saya masih harus banyak belajar mengelola keuangan tapi mudah-mudahan kedepannya saya bisa lebih baik lagi.

3!

Jadi kapan kita nikah?

Haha. jauh dari romantisme yang disuguhkan hampir di setiap drama.

Tanpa cincin, bunga atau  tempat makan fancy yang menyuguhkan menu berporsi sedikit.

Mau tema apa?

Mau menu apa?

Mau undangan gimana?

dan segala bla bla bla persiapan pernikahan kami bahas seperti sedang membahas proyek lapangan.

Pake berantem? ya iyalah, mana seru persiapan pernikahan tanpa drama.

Jam 5 pagi di gedung pernikahan, 20 November 2011

Saya menghela nafas panjang, mengosongkan pikiran dan menyiapkan hati.

Saya akan menjadi seorang istri.

Jam 5 pagi di tanggal 20 November 2014

Geliat serta rengekan dari mulut kecil menyita perhatian saya.

Menggendong anak, memeriksa masakan di slow cooker, sambil menggoreng.

Tak lama saya harus memandikan Harsya lalu mandi dan bersiap.

Masih berlanjut dengan cek radiator mobil lalu memanaskan mesin.

Saya sudah menjadi istri dan ibu sekarang.

Kehidupan kami masih jauh dari romantisme yang biasa disuguhkan drama.

Hari ini ketika saya mengucapkan “selamat ulang tahun pernikahan” suami saya hanya menjawab “iya sayang”. Itu saja…

Tapi siapa yang butuh kata ketika perbuatan, pelukan bahkan meski kami terpisahkan jarak 150km saya tidak pernah merasa kehilangan.

Selamat menjadi 3!

-ayah, ibu, dan harsya-

004386 07 4R

LDR (Lagi)

Sekali-kali curhat di blog deh (padahal tiap posting juga curhat)

 

Jadi gini, beberapa hari lalu suami saya bilang kalau dia akan ditugaskan lagi ke luar kota. Ya saya pikir “no big deal” udah berbulan-bulan juga kan suami saya tugas luar kota tiap 2 hari dalam satu minggu. Tapi ternyata dia ditugaskan di luar kota untuk 3 hari kerja yang tersisa artinya dia akan tugas di luar kota selama seminggu dan meninggalkan saya dan Harsya selama hari kerja. Saya otomatis galau dong, 13 bulan hidup LDR setelah menikah lalu 14 bulan hidup serumah dan sekarang harus jauh lagi dalam keadaan kami sudah punya anak. Berat buat saya mengingat akan seperti apa nanti ketika suami tidak ada selama 5 hari, gimana Harsya yang biasa mandi pagi sama ayah lalu jalan-jalan pagi sama ayah lalu dieyong tidur malam sama ayah. Akhirnya yang saya pikirkan adalah bagaimana Harsya bisa menerima kalau ayahnya harus pergi selama 5 hari lalu bisa bersama ayah hanya  2 hari libur saja. Kalau soal saya sih sudah tidak usah ditanyakan lagi, bagaimana saya yang biasa bergantung sama suami soal segala macam mulai dari pekerjaan rumah  tangga sampai kehidupan di komplek tempat tinggal kami kembali harus mengurus semuanya sendiri. Ish…bos suami saya kok ya gitu amat sih?!

Saya mulai bersikap aneh sama suami, mulai dari merengek minta hal-hal yang sebetulnya ga saya butuhkan sampai hal yang tidak masuk akal sekalipun. Sampai akhirnya saya nanya “kenapa sih, ga orang lain aja? emang ga ada orang yang single? atau yang udah ga punya anak bayi kayak kita sekalian?”. Suami saya menjawab “udah dicoba sayang, ownernya nolak cv mereka” Huaaaaa….antara harus seneng atau emang nangis sesegukan. Berarti suami saya memang kualifikasinya cukup untuk mengerjakan pekerjaan itu tapi kenapa pekerjaannya menjauhkan dia dari kami keluarganya.

Berkali-kali setiap kali suami saya sounding soal harus kerja di luar kota saya pasti bilang “boleh kerja di luar kota, tapi gajinya sekian ya(jumlah yang ga mungkin didapat untuk engineer sipil kerja di perusahaan lokal) atau boleh kok keluar negeri gajinya harus segini ya (jumlah yang memungkinkan saya dan Harsya ikut dengannya)”. Saya punya keinginan kalau suami harus kerja di luar kota saya akan keluar kerja, kasian Harsya udah ga ketemu ayah lama masih juga harus ga ketemu ibu seharian. Tapi apa daya ya…

Hiks..

Kepepet Marmet

Pasti udah banyak banget busui yang denger kata marmet. Saya ini termasuk yang udah denger, baca dan nyobain praktek tapi gagal terus. Banyak banget video marmet ditonton tapi kok ya hasilnya sama aja sehingga akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan breast pump. Andalan saya sampai saat ini masih Avent Philips manual dan Medela swing hinggga akhir tahun ini masa sewa Medela swing saya habis. Saya memang memutuskan untuk sewa Medela Swing dulu untuk tahu sejauh apa performance bp ini sedangkan yang Avent Philips memang membeli karena saya yakin dengan kualitasnya.

Hari ini saya sengaja berangkat agak siang karena Harsya tidak ada yang mengasuh dan untuk membawanya lagi ke kantor rasanya egois banget. Cuaca hari ini mendung dan hujan di setengah perjalanan menuju kantor. Dengan yakin saya menggantungkan cooler bag, menyampirkan tote bag dan berangkat mengendarai motor ke kantor. Bahkan saya sempat memasukan minuman kaleng ke cooler bag dan ternyata ketika sudah waktunya pumping… ZONK!! ternyata di cooler bag hanya ada 4 botol kaca, blue ice dan tuas pompa asi. Hahahaha…ini antara merasa bodor dan bingung sebetulnya. Lah terus gmn?

Saya : help
Saya: demi apa ini pompa asi aku ketinggalan
Saya : jadi aku cuma babawa cooler bag sama tuas breaspump aja

ajeng: marmet dong teh ah
ajeng: sini kursus sama aku

Emang ibu satu ini salah satu andalan saya untuk bertanya soal asi. Karena terdesak akhirnya saya memutuskan untuk mencoba lagi marmet. Terakhir saya marmet adalah ketika kami sekeluarga pergi keluar kota dan saya lupa untuk membawa pompa asi. Akhirnya saya coba marmet meski hasilnya tumpah kemana-mana dan pd sakit tapi lumayan daripada bengkak. Kemudian saya coba teknik marmet ini bahkan langsung ditampung di botol kacanya dan saya bisa dapat sekitar 150ml, dikira-kira aja sih soalnya kan botol kaca ga ada takarannya. 150 ml itu karena udah pegel dan leher saya yang masih sedikit kurang nyaman setelah kecelakaan kecil beberapa minggu lalu masih belum pulih. Saya langsung jumawa, bangga dengan pencapaian saya. Hahaha..akhirnya saya bisa teknik marmet ini karena kepepet. The power of kepepet emang biasanya menghasilkan sesuatu yang membahagiakan. Jadi keinginan membeli Medela Swing masih harus dipenuhi ga ya?