Cita-cita Baru

Jika seseorang bertanya “cita-citanya mau jadi apa?” saya sudah pasti akan bingung menjawabnya. Karena saya bukan orang yang pernah merasa terobsesi dengan sesuatu, tidak punya artis favorit, musik, buku, warna atau apapun yang membuat saya tertarik dalam waktu yang lama.

Pernah ingin jadi polisi wanita tapi keinginan yang sering saya bilang dari dulu hanya satu “ingin jadi ibu rumah tangga” Bayangkan reaksi orang tua ketika anaknya yang sekolahnya lama terus ingin jadi ibu rumah tangga.

Sampai pada suatu saat, saya bertemu dengan dunia mengajar dan saya suka bahkan semakin tertantang untuk melakukannya. Awalnya bicara di depan mahasiswa dan sekarang saya bisa berbicara di depan banyak dosen salah satu kampus teknik ternama di Bandung. Saya senang bicara di depan banyak orang, dengan mudah bicara di depan puluhan bahkan mulai ratusan orang tentang satu dan lain hal.

Sekarang saya mengajar ilmu teknik elektro, membawakan materi training desain pembelajaran elearning, bercerita tentang strategi bisnis atau sekedar sharing pengalaman hidup saja di kelas kecil atau kelas besar sekalipun baik online atau offline. Ternyata kegiatan ini membuat saya bahagia meski dibalik 1 kelas 1.5-3 jam berarti saya akan belajar jungkir balik seminggu penuh bahkan lebih, buka banyak sekali buku atau jurnal ilmiah atau menghabiskan malam untuk berlatih membawakan materi tapi saya bahagia!

Sampai akhirnya cita-cita itu muncul, saya ingin jadi pengajar/ trainer/ narasumber yang artinya saya harus jadi mahir di satu bidang. Pun itu bidang yang saya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yaitu desain elearning. Seumur sekolah saya selalu tertarik dengan fisika listrik, matematika, tidak pernah bisa belajar dan menghapal biologi, selalu gagal membuat jurnal di pelajaran akutansi, tidak bisa tau arah mata angin dengan benar dan ternyata saya berakhir di dunia pendidikan.

Saya masih jauh dari tujuan saya untuk jadi trainer tapi saya yakin tidak lama lagi kesempatan itu pasti datang. Iya, sama halnya dengan debut seorang artis saya rasa menjadi ahli pakar pun begitu. Membangun image di wilayah terkecil sampai akhirnya kesempatan untuk menjadi besar datang dan ya! begitulah.

Jadi, ketika saya sampai di titik terlelah sekalipun saya kembali ingat bahwa saya ingin menjadi seorang trainer yang mahir di bidang elearning. Semoga ini bukan seperti yang terdahulu. Saya pernah sangat suka warna kuning lalu menguap begitu saja, sangat senang dengan karakter Tweety lalu lupa, begitupun dengan yang lainnya

Advertisements

Wisata ke Dunia Fantasi dengan Balita

Haiiiii…
Bersih-bersih debu dulu di blog (saking dikunjungi cuma sebulan sekali)

Hari Sabtu Minggu kemarin kebetulan ada jadwal Family Gathering kantor dan pilihannya jatuh ke Jakarta dengan tujuan Dufan dan Taman Mangrove. Berangkat dari Bandung sekitar jam 6 pagi dan kami sampai tepat pas Dunia Fantasi beroperasi. Dari awal saya sudah pesimis akan daya tarik Dufan saat ini tapi berhubung Harsya ini udah hepi banget dengan alasan “naik bis” jadi Ibu sama Ayah yang udah bosen naik bis manut aja lah ikutan bahagia.

Kostum siap dingin-dingin di bis

Susahnya sama Harsya nih, dia ini kalau udah ada disounding mau pergi ke satu tempat pasti antusiasmenya luar biasa. Jadi kalau harus menunggu dengan alasan yang susah dia ngertiin jadinya rewel. Padahal Ibu harus nunggu karena tiket masuknya belum dipegang.

Tiket masuk khusus rombongan. Karena Harsya di bawah 100cm jadi masih gratis.

Kebahagiaan dapat tiket gratis untuk Harsya ternyata hanya sementara 😀

Peta informasi lokasi wahana bermain DUFAN

Setelah berhasil masuk ke area bermain Dunia Fantasi hal pertama yang dilakukan adalah mencari peta. Karena saya jauh dari hafal lokasi wahana di sana, terakhir ke DUFAN itu rasanya 8 tahun lalu.

Dimanapun memungkinkan pertolongan pertama pada kelaparan adalah GORENGAN

Pas baru masuk permintaan pertama suami adalah cari makanan karena lapar setelah perjalanan (ada yang gini juga ga kalau habis perjalanan jauh?), sempat lihat Yoshinoya di sana tapi setelah berjalan lebih jauh kami melihat counter gorengan (bahagia)
Lihat daftar harga
tahu isi Rp. 2.000
pisang coklat Rp.5.000
teh botol Rp. 7.000
Masih masuk akal lah ini, jadilah kami menghabiskan Rp.40.000 hanya untuk gorengan dan minuman dingin 😀

Setelah perut rada kenyang, kami memutuskan untuk mulai menyusuri wahana di Dufan. Tujuan pertama yang dikeceng anak kecil adalah Ubanga-banga, itu lho permainan bumpercars yang ternyata ga bisa dimainkan Harsya karena tingginya kurang dari 100cm (kasian), akhirnya Ibu menghiburnya dengan ngajak naik Poci-poci yang bikin anak kecil sumringah karena bisa naik wahana permainan.

Seneng karena bisa naik Poci-Poci

Lanjut ke permainan berikutnya yang bisa dinikmati, yaitu Rumah Jahil 

Di depan Rumah Jahil, karena bukan permainan favorit jadi antriannya aman
Sebelum pusing-pusing cari jalan keluar (masih senyum)

Anak kecil sempet panik karena ga bisa keluar, jalannya salah terus. Tapi sebisa mungkin Ibu mengalihkan pikirannya dengan bilang “wah seru ya de, lihat deh ada banyak bayangannya di kaca” padahal mah Ibunya juga kesel karena mulai pengap dan susah nyari jalan keluar.

Berhasil keluar dan disambut oleh marching band yang menyambut tamu rombongan. Kebetulan ada 3 perusahaan besar yang bikin acara family gathering di DUFAN waktu itu. Karena Harsya sedang terobsesi dengan drum, jadi anaknya antusias banget lihat rombongan marching band itu.

Rumah miring 😀

Lanjut ke Rango-rango yang lokasinya tidak jauh dari sana. Ini rumah miring yang cukup bikin ngos-ngosan karena lelah ya mendaki rumah miring begitu.

Turangga-rangga

Akhirnya naik wahana yang ngantrinya lumayan bikin sebel. Tapi antri seharusnya ga jadi masalah karena Harsya sudah dibiasakan, ternyata ini jadi masalah banget karena panasnya Jakarta bikin jengkel. Alhamdulillah masalahnya bisa selesai dengan akhirnya bisa melewati pintu antrian wahana ini.

Antrian Istana Boneka

Duh, andai boleh mundur aja dari antrian tapi sayang udah panas-panas. Ternyata anak ini juga ngantuk pas udah di tengah antrian jadinya “mau gendong aja, akunya cape” pindah-pindah dari ayah ke ibu sampai akhirnya bisa naik juga ke kereta airnya. Sambil sepanjang terowongan Ibu harus cerewet ceritain setiap boneka yang dilihat. (Nak, Ibu lemah dalam pelajaran seperti ini. Kasih rumus Fisika aja lah) Satu-satunya yang bikin Harsya betah adalah mainin air selama di keretanya dan yang bikin ibu betah adalah AC meski pengap banget bau lembab. Uyuhan itu boneka udah berapa lama disimpen di sana.

Pas udah selesai dari Istana Boneka udah waktunya makan siang, kami dapat voucher makan Super Bento (tapi sayangnya makanannya kurang pas di lidah), dengan menu mirip Ho*ben tapi rasanya jauh. Saya hanya menikmati teriyaki dan Harsya hanya makan nasi putih dengan air putih (udah kayak yang puasa mutih LOL)

Taman Mangga

Sambil istirahat karena nemu taman buat duduk-duduk, lumayan lah sedikit istirahatin kaki dan kebetulan anak kecil mau pee sementara saya bahkan ga punya keinginan untuk itu padahal biasanya beser. Kebetulan ada beberapa counter makanan dan minuman, pilihan jatuh ke Popcorn dan air mineral dingin sambil nanya “Apa McD masih ada di Dufan?” karena saya lapar dan pengen anak kecil makan. Mbaknya bilang ada di deket wahana Perang Bintang (alhamdulillaah) Rp.40.000 kedua yang dikeluarkan.

Yang bahagia bisa makan nasi ayam krispi (ga sehat tapi enak dan dia bisa makan)

Ketemu McD rasanya tuh bahagia luar biasa, ngebayangin makanan yang rasanya bisa diterima lidah, es krim dan minuman soda dingin. Duh…iya ga sehat tapi enak 😀 Beli Panas 2, 1 Frech Fries Medium sama McFrlurry Oreo kalau ga salah habis Rp 90.000

Setelah makan siang ini kami hanya menghabiskan waktu di mesjid tanpa menaiki wahana apapun lagi sampai saatnya berkumpul di meeting point untuk check in hotel.

Yakin ga berfungsi sih, tapi masih ada lho telepon begini di Dufan
He’s obsessed with vending machine
Kapanpun ketemu kipas langsung mau berdiri di depannya
Ayah with his biggest fans
Untungnya pake sepatu begini, kalau pake sendal aku GEMPOR
“Aku mau fotonya sambil begini aja” Harsya-4 th
“Ibu, lihat aku sembunyi” Harsya-4th
Ibu Ayah “We’re family since 2011”
Harsya “I’m coming since 2013”

Harsya 4 tahun

Alhamdulillah sampai di tahun keempat juga diamanahi anak lelaki luar biasa.
Harsya, anak kecil yang ngakunya udah besar😁😁😁

Udah mau punya adik, tapi Ibu cuma punya Aca

Beratnya udah 17kg tapi hobinya digendong

Tingginya? Ibu udah lama ga ukur😁

Pinter ngedebat apapun kata Ibu tapi cemberut kalau kalah argumen

Tukang berantem sama Abah Haji tapi paling cerewet minta cepet ke Garut

Mau tidur sendiri tapi tengah malem pindah ke kamar Ibu Ayah

Bisa makan sendiri tapi suka tiba-tiba berhenti dan minta disuapi

Sayang banget sama Ibu tapi ga sayang Ayah

Alhamdulillah, apapun pencapaiannya Ibu dan Ayah selalu bangga. Ada banyak yang ga mungkin Ibu ceritakan karena setiap harinya Harsya selalu bawa cerita yang berbeda

We love you, Harsya Alfatih Raufa 

Tentang Mengukur Diri

Jika ditanya apa yang tersisa di malam hari dari seorang Nina yang setiap pagi tampil dengan alis on fleek, winged eye liner, pipi merona segar dan tentu saja bibir yang tertutup oleh lipstik?

Baru saja kemarin saya menyadari betapa lelah wajah yang ada di hadapan cermin setelah seluruh makeup itu dihapus. Kantung mata yang menghitam,  bibir yang pucat dan kering, mata yang sayu dan rambut yang dirasa semakin tipis.

Menjalani keseharian sebagai seorang ibu bekerja dengan 3 bidang sekaligus adalah sesuatu yang saya sudah ukur resikonya. Seorang Ibu dari 1 balita, staf kantoran, dosen dan juga pebisnis online. Setiap pagi dan sore mengarungi kemacetan hampir 3 jam, menghadapi peraturan kantor yang kalau telat 1 menit dipotong honor sekian persen, berarti setiap pagi adalah EMOSIONAL.

Kok curhat? LOL
Nih, saya kasih gambaran setiap harinya. Bangun pagi, sholat, mandi, bersiap, bangunin anak, mandiin, masak, masukin semua bekal makan, nyetir dan sementara di jalan macam-macam gaya orang  bawa kendaraan. Karena merasa masih pagi banyak yang bawa kendaraan itu pelan di jalur kanan (berasa kayak mau liburan gitu) kadang ada yang sambil ngerokok, telepon, ada juga yang sambil dandan atau yang hanya ingin santai dan lebih parahnya ada yang berkemudi pelan karena sudah mau sampai tujuan tanpa peduli di belakangnya masih ada kendaraan yang mungkin 15km lagi baru akan sampai tujuan.

Kok bisa tahan? karena saya butuh hasil dari resiko yang saya jalani itu setiap harinya. Bangun ga boleh telat, mandi ga usah lama-lama, masak ga usah ribet tapi harus sehat, nyetir harus cepet tapi aman, baju tetep harus pantas dilihat dan masih banyak lainnya. Mudah aja kan?

Percayalah, sebulan pertama saya menjalani rutinitas ini bulan berikutnya saya kena hepatitis 2 minggu ga bisa aktifitas. Karena saya lelah dan karena saya tidak DISIPLIN. Kadang masih begadang, kadang masih bangun telat, kadang masih kepikiran males masak makanan sehat dan masih banyak hal lain yang saya anggap biasa implikasinya tidak biasa.

Padahal dari masih kecil saya sering dengar Papah bilang “jadi orang itu harus DISIPLIN, jangan LELET dll”

Untuk saya yang masih remaja, kata-kata disiplin itu menguap begitu saja. Karena oh tentu bosan mendengar hal yang sama setiap pagi. Sementara sekarang, setelah menjadi orang tua ternyata hal itu adalah sesuatu yang sakral. 

Jadi bagaimana saya menjalankan hari-hari saya dengan waras? 

1. Tentukan prioritas

Bahkan setiap hari, saya punya jadwal ini itu yang sama sekali tidak bisa dilewat dan diabaikan susunannya. Contohnya mandi dulu baru masak, karena kalau masak dulu baru mandi udah bisa dipastikan saya telat berangkat.

2. Lakukan rutinitas yang sama 

Ada banyak teori tentang ini. 21 hari, 28 hari, 66 hari, 90 hari dll. Yang penting bagi saya hanya biasakan setiap hari. Begitupun anak, setiap hari tidur dan bangun di jam yang sama. Kok anak dipaksa? Ya sis, anak saya mah di daycare berangkat sama pulang bareng ibunya jadi harus begitu biar sama-sama sehat jiwa raga

3. Miliki waktu untuk merencanakan

Setiap malam, saya punya waktu “sendiri” setelah anak tidur. Kadang sekedar mikir mau ngerjain apa besok tapi seringnya sambil nyicil siapin itu itu sebelum tidur.

3 hal itu saya lakukan demi saya bisa mengukur diri. Bahwa tidak semua bisa saya lakukan dalam satu waktu, setidaknya saya menularkan beberapa kebiasaan baik untuk anak. Agar dia belajat disiplin, bukan diteriaki agar disiplin  

Ditulis untuk #satuminggusatucerita

Merawat Anak setelah Khitan

Sudah lewat 2 minggu  dari setelah Harsya disunat. Hari-hari saya sudah dipenuhi sama rengekan manja “Ibu, ini sakit. Ibu, tiupin. Aku ga mau diobatin, sakit, takut” dll

Wajar? Yaiyalah, namanya luka masa iya ga sakit. Tapi sedikit pengalaman saya sama luka terbuka dan luka jahit jadinya ga terlalu panik dan harus TEGA demi kesembuhan anak.

Baca : Tentang Khitanan Harsya

Jadi nih, kemarin setelah sunat selesai saya dibekali 1 botol obat tetes yang sampai sekarang masih jadi misteri sebetulnya kandungannya apa, 1 botol ibuprofen sirup, 1 botol amoxilin yang belum dilarutkan.  Instruksinya di hari pertama dan kedua teteskan obat tetesnya 1 jam sekali, ibuprofen sampai di hari kedua saja, dan antibiotik sampai habis. PATUHI!

Tips untuk merawat anak pasca khitan/ sunat/ sirkumsisi dengan cara konvensional

1. Luka harus selalu kering. Ini aturan yang wajib dipatuhi, karena ternyata implikasinya penyembuhan luka jadi lebih cepat dan sempurna. Kebetulan Harsya ini beberapa jam setelah sunat udah mau pipis tapi di 3 hari setelah sunat ini kemapuannya menahan pipis jauh berkurang. Jadi pas baru bilang “Ibu, mau pipis” baru jalan ke kamar mandi udah keburu pipis di depan pintu. Sementara setelah sunat posisi pipis anak harus diatur biar ga kena luka jahitan. Kalem nanti dikasih tau kok di kliniknya.

2. Teteskan obat tetes ke seluruh luka jahit dan kulit terbuka. Jangan hemat-hemat, beneran deh ini bikin lukanya cepet kering. Kalau Harsya merengek saya cuma ajak berdoa, tarik nafas dalam dan setelah itu alihkan dengan mainan atau tontonan. Di akhir-akhir malah Harsya merasa lebih baik kalau diijinkan melihat apa yang dilakukan ke luka sunatnya.

3. Kurangi aktifitas anak. Aslinya ya Harsya itu sepulang ke rumah pasca sunat malah lari-lari, duduk sembarangan aja sampe yang paling epic pengen ikut boncengan di motor sama Abah Haji-nya. Tentunya ini sebelum efek anastesi habis, karena beberapa jam setelah itu dia mulai berjalan lebih kalem dan mau tiduran. Yang terjadi ketika anaknya terlalu aktif adalah lukanya bengkak, sedikit ada pendarahan dan kalau Harsya sih jadinya banyak  ngigau. Terbukti di hari kedua setelah sunat banyak orang ngumpul di rumah bikin Harsya sama sekali ga tidur siang dan motah banget sama temen-temennya. Malam itu rasanya malam terberat saya menjaga Harsya karena setengah jam sekali anaknya mengeluh sakit dan dini hari dibuat heboh karena ada banyak darah karena bekas luka yang kering copot sebelum waktunya. Kasih apapun yang bisa bikin anak lebih banyak diam

4. Berikan makanan sehat dan protein tinggi. Ga usah takut kasih makan anak kecuali yang bikin alergi. Protein bikin anak cepet pulih, kalau Harsya saya tambah vitamin. Mungkin ada yang mau tambahkan madu, sari kurma atau habatussauda juga boleh. Saya pilih vitamin karena Harsya dikasih madu pasti muntah, terlalu manis buat dia. Kasih buah-buahan yang vit C nya tinggi juga biar pemulihan luka makin cepet

5. Miliki support system yang baik. Setelah sunat anak hampir seperti abis ngelahirin. Perlu butuh banyak dukungan dan bantuan. Begadang satu pas 3 malam pertama setelah sunat jagain anak ketika tidur, jaga agar posisinya selalu terlentang atau kalaupun miring tetap terjaga luka sunatnya agar tidak bergesekan dengan paha. Begadang dua pas luka udah kering dan gatel karena anak suka tanpa sadar menggaruk luka pas tidur. Sampe sekarang saya masih belum tidur nyenyak karena selalu ada yang keluhan ini itu yang muncul. Kondisi fisik dan mental orang tua harus kuat. Ga bisa “takut” ketika menghadapi luka, kelelahan yang berujung sakit dll. Jadi selain mikirin anak juga harus mikirin diri sendiri.

6. Sebaiknya ga pake celana khusus sunat. Iya ga salah baca kok, sebaiknya luka dibiarin terbuka aja paling pake pelindung yang bentuknya seperti topi dan pakaikan sarung aja untuk aktifitas di rumah. Selain itu, pengalaman saya pakai celana sunat itu malah bikin luka kesenggol sama batoknya dan tentunya segala drama dan rengekan kembali terjadi.

7. Biarkan anak berendam di air hangat setelah luka kering. Ini biar si hitam-hitam bekas luka bisa copot tanpa paksaan. Harsya mah kepinteran, tiba-tiba  tengah malam dia nyamperin saya dan bilang “Ibu, yang item-itemnya udah aku copotin. Aku udah sembuh sekarang, liat deh” tentunya ini bikin ibu panik liat dan buru-buru bersihin bekas lukanya yang belum sembuh sempurna.

Sedikit cerita tambahan yang tentang luka Harsya yang memang disunat karena phimosis, setelah sunat udah dikasih warning sama suster mungkin masa penyembuhan akan lebih lama terutama akan muncul lapisan getah bening yang normal terjadi. Lalu karena sempat terjadi pipis yang kena luka ini bikin bagian bawah penis masih basah sementara luka lain udah kering. Saya selalu membersihkan lukanya demi pemulihan jadi luka basah ini ga terlalu parah.

Tenang, karena banyak yang mengalami ini jadinya bisa pakai bioplacenton yang dioleskan,  ditutup dengan framycetin sulphate tulle dan kassa steril buat pemulihan. Tentunya ini dilakukan setelah kontrol ke klinik sunatnya.

Selalu bersihkan bagian selangkangan anak setelah sunat karena selalu ada sisaan obat tetesnya atau ada sedikit kotor kalau lukanya belum kering. Bisa pakai rivanol, cairan infus (NaCl) atau air hangat yang diusap pakai kassa steril. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan setelahnya ya ☺

Beberapa barang yang wajib disiapkan ketika merawat anak setelah sunat/ khitan

1. Sarung anak minimal 3 buah

2. Topi/ celana sunat 3 buah

3. Gunting, kassa, plester (kassa biasanya dikasih dari klinik)

4. Tissu kering. Disimpan ditempat yang mudah dijangkau

Semoga sharing ini bermanfaat buat yang akan mengkhitan anak lelakinya.

Salam dari mata panda yang selalu begadangin anaknya selama 2 minggu terakhir 😎😎😎

Lebaran tahun ini

Apa kabar Ramadhan tahun ini? Saya ngerasanya sibuk banget dan lelah.

Jadwal harian saya nih, jam 3.30 bangun masak buat sahur sekeluarga. Abis subuh kalau mau tidur ya tidur-tidur ayam doang atau bablas ga tidur lagi sama sekali. Jam 6.15 berangkat ngantor dan 14.30 jalan pulang dari kantor. Jemput Harsya di daycare dan nyampe rumah jam 16.00. Abis itu ga bisa leyeh-leyeh karena lanjut ngapain buibuuuuu? Yak tentu saja masak buat buka puasa. Abis isya bisa tidur? Tentu tidak, ada kerjaan kantor yang biasanya harus dibawa ke rumah karena jam kerja berkurang tapi target kerjaan tetap sama. Jam 23.00 baru bisa tidur dan besoknya berulang.

Jadi ya lelah pastinya. Sama macet pagi ga terlalu berasa cape, tapi macet sore itu lho duh ampun deh. Pernah beberapa hari baru nyampe rumah 10 menit menuju maghrib, tapi juga ga ada makanan karena boro-boro lah mampir beli makanan buat buka puasa. 

Di tengah rutinitas tiba-tiba Harsya cacar, setelah sembuh lanjut mendadak sunat. Makin lah rasanya “kesenangan” menyambut lebaran itu pupus setitik demi setitik. Tapi, sebagai sulung dan satu-satunya anak perempuan di rumah dan rumah mertua tentunya malas pun tetap harus siapin ini itu. 

Meski tahun ini kurang Mamah yang biasanya udah nyodorin list keinginan ketika lebaran tiba tapi saya memutuskan untuk membuat ritual baru di keluarga. Kami akan kumpul, saya akan masak besar, saya ingin kami berfoto keluarga dll. Mamah pasti bahagia, insyaallah 😇

Mudik jadi cerita seru saya tiap tahunnya. Mobil kecil penuh sama barang bawaan bertiga plus persiapan masak yang selalu saya bawa dari Bandung karena belanja ke pasar menjelang lebaran itu terlalu bikin pahala puasa bisa menguap begitu saja😫😫😫

Saya mudik cuma 50km aja dari rumah. Cuma ke Garut yang jalur mudiknya fenomenal itu lho macetnya kalau dari Bandung. Keluar rumah jam 9 malam dengan harapan jalanan masih kosong, ternyata baru 5km dari rumah saja kendaraan sudah berjejer rapi di jalan. Jadilah neng ayla muter balik menuju jalan pintas yang penerangannya terbatas dan lebarnya juga cuma secukupnya yang penting sampai lebih cepat dan selamat. 

Tahun ini jatah lebaran di rumah keluarga saya. Karena sejak menikah saya dan pak suami memutuskan untuk bergantian tempat shalat Ied setiap tahun. Ya..meski suami juga berasal dari kota yang sama kami berusaha untuk adil sama orang tua. 

Keluarga kami punya ritual lebaran yang berbeda. Saya hanya tinggal di Garut, tapi Mamah berasal dari Ciamis dan Papah dari Majalaya. Rute lebaran kami selalu Bandung-Garut,1 Syawal Garut-Majalaya-Garut, 3 Syawal Garut-Ciamis-Garut.  Sementara suami asli turunan Garut, jadi lebaran itu 1 syawal keliling ke keluarga Mamah, 2 syawal ke keluarga Bapak. Sisa hari libur lebaran akan kami habiskan dengan bergiliran nginep di rumah orang tua saya dan rumah mertua. 1000km bisa kami tempuh hanya dalam libur lebaran seminggu😂😂😂

Eh, beli baju lebaran ga? Kalau saya sih engga. Coba deh balik lagi ke rutinitas saya di paragraf 2, kapan waktunya buat bisa belanja. Sejak menikah saya membiasakan beli baju shalat dan sarung baru untuk suami, Harsya juga Papah ditambah mukena baru buat saya dan Mamah. Baju lain, bisa dibeli tiap bulan kan?

Anyway…

Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum.

Semoga kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.

Selamat berkumpul dengan keluarga

Tentang Khitanan Harsya

 

Alhamdulillah,

Tepat hari ini satu lagi sunnah Rasulullah SAW sudah dilaksanakan. Kami sudah mengkhitankan anak kecil yang umurnya 3 tahun 9 bulan. Beberapa pertanyaan muncul ketika mendengar Harsya mau sunat, “memang anaknya udah mau?”” Duh, ga nunggu nanti aja udah sekolah” “Kan masih kecil, kenapa buru-buru?” jawaban saya adalah “karena kami sudah niat”

Iya, memang niat ini dulu pernah tersampaikan ketika Umi-nya Harsya (Allahu yarhamha) masih ada. Saya bilang, nanti Harsya sunat kalau udah bisa membedakan sakit dan udah berkomunikasi dengan baik. Nah, tahun ini Harsya udah ada di usia threenager yang membuat segala hal lebih mudah dan lebih kompleks (hehe).

Beberapa lama yang lalu, Ayah ngobrol sama Abah Haji-nya Harsya dan munculah petuah untuk segera khitan sebelum 4 tahun. Sebetulnya saya juga udah ada niat untuk melakukannya ketika libur Idul Fitri yang tahun ini lebih lama dibanding biasanya. Jadi cocok kan? pilah pilih jadwal awalnya akan dilaksanakan ketika sesampainya kami di Garut. Tapi kok ternyata mepet banget ke Lebaran ya…hitung lagi dan jatuhlah di tanggal 18 Juni 2017.

Selanjutnya pilih tempat khitan yang mana untuk Harsya. Kami awalnya bersepakat bahwa metode khitan yang konvensional lah yang akan kami pilih. Sedikit ulasan tentang metode biasa ini, melalui proses sebagai berikut :

  • Pembiusan lokal
  • Pemotongan menggunakan pisau/gunting bedah oleh tenaga medis yang professional
  • Menggunakan benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan untuk menghentikan pendarahan yang timbul.

Keuntungan sunat biasa :

1. Kemungkinan terpotongnya glands penis sangat rendah.

2. Tindakan medis yang dilakukan sangat akurat sehingga hasilnya relatif paling baik

3. Semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Kelemahan sunat biasa :

1. Menimbulkan pendarahan yang lebih banyak

2. Proses sunat yang berlangsung relatif lama

3. Proses penyembuhan pasca sunat lebih lama

Untuk yang lainnya, boleh googling sendiri aja ya 🙂

Ada dua klinik yang sering saya dengar untuk khusus khitan di Bandung. Pusat Khitan Paramedika di Jl. Sukarno Hatta dan Klinik Seno Jl. Ahmad Yani. Kontak udah punya dan survey hanya dilakukan via telepon. Saya sudah mengerucutkan pilihan supaya ga kelamaan liat sana sini.

Pusat Khitan Paramedika
Biaya kelas VIP : 1juta dengan waktu khitan maksimal 5.30 pagi. Bedanya dengan kelas umum adalah obatnya.

Klinik Khitan Seno

Kami akhirnya pilih Seno dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah. Iya jarak sangat berpengaruh  untuk mengambil keputusan.

Tapi rencana manusia tetap Allah yang menentukan, 8 Juni 2017 Harsya resmi kena cacar air. Kami akhirnya hanya menunggu kondisi Harsya siap, jika sembuh maka khitan dilakukan 18 Juni, tapi jika tidak memungkinkan ya berarti di Garut aja pas mudik nanti. Teleponlah ke Klinik Seno dan setelah diperiksa (ini wajib sebelum khitan) maka Harsya bisa khitan tanggal 17 Juni karena kliniknya libur di hari Minggu.

Hasil pemeriksanaan ternyata phimosis, jadi sebaiknya memang khitan dilaksanakan sesegera mungkin sebelum terjadi infeksi atau pembengkakan. Kan, memang Allah yang menentukan kapan waktu terbaiknya

Persiapan sebelum anak dikhitan, untuk anak seperti Harsya segala bujuk rayu itu ga akan mempan. Kami sudah terbiasa berkomunikasi dan negosiasi sampai akhirnya sepakat. Jadi, langkah awalnya adalah SOUNDING.

Ibu : “Aca, mau sunat ga?”  jawabnya jelas sekali “ga mau, takut”

Ibu : “Kenapa takut? padahal sunat itu dibersihin lho. Mau ga jadi bersih?”

Harsya : “mmm..tapi aku takut digunting” mari salahkan orang disekitar yang nakut-nakutin anak laki-laki dengan sunat

Ibu: “Sunat itu dibersihin sayang, Ayah, Abah haji, Abah Dede, Om, Mamang, Uwa semua udah disunat”

Harsya :”Tapi nanti sakit”

Ibu : “Iya, kalau sakit kan bisa ditiupin sama Ibu. Kalau Aca jatuh sakit kan sama ibu suka ditiupin sambil berdoa biar sembuh. Jadi mau sunat?” Harsya : “mau” sambil ragu. 

Pembicaraan ini terus berulang setiap hari sampai akhirnya yang diulang adalah “Aca mau kok sunat, tapi mau dibeliin tas, sepatu, tenda buat tempat sembunyi sama kotak makan. Nanti kalau sakit, ga apa-apa biar ditiupin sama ibu sampai sembuh” Semua benda yang dijadikan syarat sudah diberikan, bahkan tenda sampai saya jahit sendiri. Semua contoh kejadian yang sudah sunat dari film kartun yang sering ditontonnya juga jadi bahan sounding. Ini dialog setelah nonton film Adit dan Sopo Jarwo

Ibu:  “Lihat deh Adit berani lho disunat”

Harsya : “Tapi kalau Denis takut tau, aku mah berani”

Ibu :”Iya, aca mah berani ya. Tapi Denis juga akhirnya berani lho. Malah katanya sunat itu cepet banget” 

Kenapa saya tetap membawa isu bahwa sunat ini sakit, karena ini kenyataannya yang harus dihadapi Harsya. Jadi dia tidak merasa dibohongi, penting buat saya supaya Harsya juga tahu resiko dari sunat ini selain segala keuntungan yang dia dapatkan.

Alhamdulillah…
Sekarang saatnya ibu menjalani drama “Ibu, ini sakiiiit….tiupiiiiiin”