Harsya 4 tahun

Alhamdulillah sampai di tahun keempat juga diamanahi anak lelaki luar biasa.
Harsya, anak kecil yang ngakunya udah besar😁😁😁

Udah mau punya adik, tapi Ibu cuma punya Aca

Beratnya udah 17kg tapi hobinya digendong

Tingginya? Ibu udah lama ga ukur😁

Pinter ngedebat apapun kata Ibu tapi cemberut kalau kalah argumen

Tukang berantem sama Abah Haji tapi paling cerewet minta cepet ke Garut

Mau tidur sendiri tapi tengah malem pindah ke kamar Ibu Ayah

Bisa makan sendiri tapi suka tiba-tiba berhenti dan minta disuapi

Sayang banget sama Ibu tapi ga sayang Ayah

Alhamdulillah, apapun pencapaiannya Ibu dan Ayah selalu bangga. Ada banyak yang ga mungkin Ibu ceritakan karena setiap harinya Harsya selalu bawa cerita yang berbeda

We love you, Harsya Alfatih Raufa 

Advertisements

Tentang Mengukur Diri

Jika ditanya apa yang tersisa di malam hari dari seorang Nina yang setiap pagi tampil dengan alis on fleek, winged eye liner, pipi merona segar dan tentu saja bibir yang tertutup oleh lipstik?

Baru saja kemarin saya menyadari betapa lelah wajah yang ada di hadapan cermin setelah seluruh makeup itu dihapus. Kantung mata yang menghitam,  bibir yang pucat dan kering, mata yang sayu dan rambut yang dirasa semakin tipis.

Menjalani keseharian sebagai seorang ibu bekerja dengan 3 bidang sekaligus adalah sesuatu yang saya sudah ukur resikonya. Seorang Ibu dari 1 balita, staf kantoran, dosen dan juga pebisnis online. Setiap pagi dan sore mengarungi kemacetan hampir 3 jam, menghadapi peraturan kantor yang kalau telat 1 menit dipotong honor sekian persen, berarti setiap pagi adalah EMOSIONAL.

Kok curhat? LOL
Nih, saya kasih gambaran setiap harinya. Bangun pagi, sholat, mandi, bersiap, bangunin anak, mandiin, masak, masukin semua bekal makan, nyetir dan sementara di jalan macam-macam gaya orang  bawa kendaraan. Karena merasa masih pagi banyak yang bawa kendaraan itu pelan di jalur kanan (berasa kayak mau liburan gitu) kadang ada yang sambil ngerokok, telepon, ada juga yang sambil dandan atau yang hanya ingin santai dan lebih parahnya ada yang berkemudi pelan karena sudah mau sampai tujuan tanpa peduli di belakangnya masih ada kendaraan yang mungkin 15km lagi baru akan sampai tujuan.

Kok bisa tahan? karena saya butuh hasil dari resiko yang saya jalani itu setiap harinya. Bangun ga boleh telat, mandi ga usah lama-lama, masak ga usah ribet tapi harus sehat, nyetir harus cepet tapi aman, baju tetep harus pantas dilihat dan masih banyak lainnya. Mudah aja kan?

Percayalah, sebulan pertama saya menjalani rutinitas ini bulan berikutnya saya kena hepatitis 2 minggu ga bisa aktifitas. Karena saya lelah dan karena saya tidak DISIPLIN. Kadang masih begadang, kadang masih bangun telat, kadang masih kepikiran males masak makanan sehat dan masih banyak hal lain yang saya anggap biasa implikasinya tidak biasa.

Padahal dari masih kecil saya sering dengar Papah bilang “jadi orang itu harus DISIPLIN, jangan LELET dll”

Untuk saya yang masih remaja, kata-kata disiplin itu menguap begitu saja. Karena oh tentu bosan mendengar hal yang sama setiap pagi. Sementara sekarang, setelah menjadi orang tua ternyata hal itu adalah sesuatu yang sakral. 

Jadi bagaimana saya menjalankan hari-hari saya dengan waras? 

1. Tentukan prioritas

Bahkan setiap hari, saya punya jadwal ini itu yang sama sekali tidak bisa dilewat dan diabaikan susunannya. Contohnya mandi dulu baru masak, karena kalau masak dulu baru mandi udah bisa dipastikan saya telat berangkat.

2. Lakukan rutinitas yang sama 

Ada banyak teori tentang ini. 21 hari, 28 hari, 66 hari, 90 hari dll. Yang penting bagi saya hanya biasakan setiap hari. Begitupun anak, setiap hari tidur dan bangun di jam yang sama. Kok anak dipaksa? Ya sis, anak saya mah di daycare berangkat sama pulang bareng ibunya jadi harus begitu biar sama-sama sehat jiwa raga

3. Miliki waktu untuk merencanakan

Setiap malam, saya punya waktu “sendiri” setelah anak tidur. Kadang sekedar mikir mau ngerjain apa besok tapi seringnya sambil nyicil siapin itu itu sebelum tidur.

3 hal itu saya lakukan demi saya bisa mengukur diri. Bahwa tidak semua bisa saya lakukan dalam satu waktu, setidaknya saya menularkan beberapa kebiasaan baik untuk anak. Agar dia belajat disiplin, bukan diteriaki agar disiplin  

Ditulis untuk #satuminggusatucerita

Merawat Anak setelah Khitan

Sudah lewat 2 minggu  dari setelah Harsya disunat. Hari-hari saya sudah dipenuhi sama rengekan manja “Ibu, ini sakit. Ibu, tiupin. Aku ga mau diobatin, sakit, takut” dll

Wajar? Yaiyalah, namanya luka masa iya ga sakit. Tapi sedikit pengalaman saya sama luka terbuka dan luka jahit jadinya ga terlalu panik dan harus TEGA demi kesembuhan anak.

Baca : Tentang Khitanan Harsya

Jadi nih, kemarin setelah sunat selesai saya dibekali 1 botol obat tetes yang sampai sekarang masih jadi misteri sebetulnya kandungannya apa, 1 botol ibuprofen sirup, 1 botol amoxilin yang belum dilarutkan.  Instruksinya di hari pertama dan kedua teteskan obat tetesnya 1 jam sekali, ibuprofen sampai di hari kedua saja, dan antibiotik sampai habis. PATUHI!

Tips untuk merawat anak pasca khitan/ sunat/ sirkumsisi dengan cara konvensional

1. Luka harus selalu kering. Ini aturan yang wajib dipatuhi, karena ternyata implikasinya penyembuhan luka jadi lebih cepat dan sempurna. Kebetulan Harsya ini beberapa jam setelah sunat udah mau pipis tapi di 3 hari setelah sunat ini kemapuannya menahan pipis jauh berkurang. Jadi pas baru bilang “Ibu, mau pipis” baru jalan ke kamar mandi udah keburu pipis di depan pintu. Sementara setelah sunat posisi pipis anak harus diatur biar ga kena luka jahitan. Kalem nanti dikasih tau kok di kliniknya.

2. Teteskan obat tetes ke seluruh luka jahit dan kulit terbuka. Jangan hemat-hemat, beneran deh ini bikin lukanya cepet kering. Kalau Harsya merengek saya cuma ajak berdoa, tarik nafas dalam dan setelah itu alihkan dengan mainan atau tontonan. Di akhir-akhir malah Harsya merasa lebih baik kalau diijinkan melihat apa yang dilakukan ke luka sunatnya.

3. Kurangi aktifitas anak. Aslinya ya Harsya itu sepulang ke rumah pasca sunat malah lari-lari, duduk sembarangan aja sampe yang paling epic pengen ikut boncengan di motor sama Abah Haji-nya. Tentunya ini sebelum efek anastesi habis, karena beberapa jam setelah itu dia mulai berjalan lebih kalem dan mau tiduran. Yang terjadi ketika anaknya terlalu aktif adalah lukanya bengkak, sedikit ada pendarahan dan kalau Harsya sih jadinya banyak  ngigau. Terbukti di hari kedua setelah sunat banyak orang ngumpul di rumah bikin Harsya sama sekali ga tidur siang dan motah banget sama temen-temennya. Malam itu rasanya malam terberat saya menjaga Harsya karena setengah jam sekali anaknya mengeluh sakit dan dini hari dibuat heboh karena ada banyak darah karena bekas luka yang kering copot sebelum waktunya. Kasih apapun yang bisa bikin anak lebih banyak diam

4. Berikan makanan sehat dan protein tinggi. Ga usah takut kasih makan anak kecuali yang bikin alergi. Protein bikin anak cepet pulih, kalau Harsya saya tambah vitamin. Mungkin ada yang mau tambahkan madu, sari kurma atau habatussauda juga boleh. Saya pilih vitamin karena Harsya dikasih madu pasti muntah, terlalu manis buat dia. Kasih buah-buahan yang vit C nya tinggi juga biar pemulihan luka makin cepet

5. Miliki support system yang baik. Setelah sunat anak hampir seperti abis ngelahirin. Perlu butuh banyak dukungan dan bantuan. Begadang satu pas 3 malam pertama setelah sunat jagain anak ketika tidur, jaga agar posisinya selalu terlentang atau kalaupun miring tetap terjaga luka sunatnya agar tidak bergesekan dengan paha. Begadang dua pas luka udah kering dan gatel karena anak suka tanpa sadar menggaruk luka pas tidur. Sampe sekarang saya masih belum tidur nyenyak karena selalu ada yang keluhan ini itu yang muncul. Kondisi fisik dan mental orang tua harus kuat. Ga bisa “takut” ketika menghadapi luka, kelelahan yang berujung sakit dll. Jadi selain mikirin anak juga harus mikirin diri sendiri.

6. Sebaiknya ga pake celana khusus sunat. Iya ga salah baca kok, sebaiknya luka dibiarin terbuka aja paling pake pelindung yang bentuknya seperti topi dan pakaikan sarung aja untuk aktifitas di rumah. Selain itu, pengalaman saya pakai celana sunat itu malah bikin luka kesenggol sama batoknya dan tentunya segala drama dan rengekan kembali terjadi.

7. Biarkan anak berendam di air hangat setelah luka kering. Ini biar si hitam-hitam bekas luka bisa copot tanpa paksaan. Harsya mah kepinteran, tiba-tiba  tengah malam dia nyamperin saya dan bilang “Ibu, yang item-itemnya udah aku copotin. Aku udah sembuh sekarang, liat deh” tentunya ini bikin ibu panik liat dan buru-buru bersihin bekas lukanya yang belum sembuh sempurna.

Sedikit cerita tambahan yang tentang luka Harsya yang memang disunat karena phimosis, setelah sunat udah dikasih warning sama suster mungkin masa penyembuhan akan lebih lama terutama akan muncul lapisan getah bening yang normal terjadi. Lalu karena sempat terjadi pipis yang kena luka ini bikin bagian bawah penis masih basah sementara luka lain udah kering. Saya selalu membersihkan lukanya demi pemulihan jadi luka basah ini ga terlalu parah.

Tenang, karena banyak yang mengalami ini jadinya bisa pakai bioplacenton yang dioleskan,  ditutup dengan framycetin sulphate tulle dan kassa steril buat pemulihan. Tentunya ini dilakukan setelah kontrol ke klinik sunatnya.

Selalu bersihkan bagian selangkangan anak setelah sunat karena selalu ada sisaan obat tetesnya atau ada sedikit kotor kalau lukanya belum kering. Bisa pakai rivanol, cairan infus (NaCl) atau air hangat yang diusap pakai kassa steril. Jangan lupa cuci tangan sebelum dan setelahnya ya ☺

Beberapa barang yang wajib disiapkan ketika merawat anak setelah sunat/ khitan

1. Sarung anak minimal 3 buah

2. Topi/ celana sunat 3 buah

3. Gunting, kassa, plester (kassa biasanya dikasih dari klinik)

4. Tissu kering. Disimpan ditempat yang mudah dijangkau

Semoga sharing ini bermanfaat buat yang akan mengkhitan anak lelakinya.

Salam dari mata panda yang selalu begadangin anaknya selama 2 minggu terakhir 😎😎😎

Lebaran tahun ini

Apa kabar Ramadhan tahun ini? Saya ngerasanya sibuk banget dan lelah.

Jadwal harian saya nih, jam 3.30 bangun masak buat sahur sekeluarga. Abis subuh kalau mau tidur ya tidur-tidur ayam doang atau bablas ga tidur lagi sama sekali. Jam 6.15 berangkat ngantor dan 14.30 jalan pulang dari kantor. Jemput Harsya di daycare dan nyampe rumah jam 16.00. Abis itu ga bisa leyeh-leyeh karena lanjut ngapain buibuuuuu? Yak tentu saja masak buat buka puasa. Abis isya bisa tidur? Tentu tidak, ada kerjaan kantor yang biasanya harus dibawa ke rumah karena jam kerja berkurang tapi target kerjaan tetap sama. Jam 23.00 baru bisa tidur dan besoknya berulang.

Jadi ya lelah pastinya. Sama macet pagi ga terlalu berasa cape, tapi macet sore itu lho duh ampun deh. Pernah beberapa hari baru nyampe rumah 10 menit menuju maghrib, tapi juga ga ada makanan karena boro-boro lah mampir beli makanan buat buka puasa. 

Di tengah rutinitas tiba-tiba Harsya cacar, setelah sembuh lanjut mendadak sunat. Makin lah rasanya “kesenangan” menyambut lebaran itu pupus setitik demi setitik. Tapi, sebagai sulung dan satu-satunya anak perempuan di rumah dan rumah mertua tentunya malas pun tetap harus siapin ini itu. 

Meski tahun ini kurang Mamah yang biasanya udah nyodorin list keinginan ketika lebaran tiba tapi saya memutuskan untuk membuat ritual baru di keluarga. Kami akan kumpul, saya akan masak besar, saya ingin kami berfoto keluarga dll. Mamah pasti bahagia, insyaallah 😇

Mudik jadi cerita seru saya tiap tahunnya. Mobil kecil penuh sama barang bawaan bertiga plus persiapan masak yang selalu saya bawa dari Bandung karena belanja ke pasar menjelang lebaran itu terlalu bikin pahala puasa bisa menguap begitu saja😫😫😫

Saya mudik cuma 50km aja dari rumah. Cuma ke Garut yang jalur mudiknya fenomenal itu lho macetnya kalau dari Bandung. Keluar rumah jam 9 malam dengan harapan jalanan masih kosong, ternyata baru 5km dari rumah saja kendaraan sudah berjejer rapi di jalan. Jadilah neng ayla muter balik menuju jalan pintas yang penerangannya terbatas dan lebarnya juga cuma secukupnya yang penting sampai lebih cepat dan selamat. 

Tahun ini jatah lebaran di rumah keluarga saya. Karena sejak menikah saya dan pak suami memutuskan untuk bergantian tempat shalat Ied setiap tahun. Ya..meski suami juga berasal dari kota yang sama kami berusaha untuk adil sama orang tua. 

Keluarga kami punya ritual lebaran yang berbeda. Saya hanya tinggal di Garut, tapi Mamah berasal dari Ciamis dan Papah dari Majalaya. Rute lebaran kami selalu Bandung-Garut,1 Syawal Garut-Majalaya-Garut, 3 Syawal Garut-Ciamis-Garut.  Sementara suami asli turunan Garut, jadi lebaran itu 1 syawal keliling ke keluarga Mamah, 2 syawal ke keluarga Bapak. Sisa hari libur lebaran akan kami habiskan dengan bergiliran nginep di rumah orang tua saya dan rumah mertua. 1000km bisa kami tempuh hanya dalam libur lebaran seminggu😂😂😂

Eh, beli baju lebaran ga? Kalau saya sih engga. Coba deh balik lagi ke rutinitas saya di paragraf 2, kapan waktunya buat bisa belanja. Sejak menikah saya membiasakan beli baju shalat dan sarung baru untuk suami, Harsya juga Papah ditambah mukena baru buat saya dan Mamah. Baju lain, bisa dibeli tiap bulan kan?

Anyway…

Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum.

Semoga kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.

Selamat berkumpul dengan keluarga

Tentang Khitanan Harsya

 

Alhamdulillah,

Tepat hari ini satu lagi sunnah Rasulullah SAW sudah dilaksanakan. Kami sudah mengkhitankan anak kecil yang umurnya 3 tahun 9 bulan. Beberapa pertanyaan muncul ketika mendengar Harsya mau sunat, “memang anaknya udah mau?”” Duh, ga nunggu nanti aja udah sekolah” “Kan masih kecil, kenapa buru-buru?” jawaban saya adalah “karena kami sudah niat”

Iya, memang niat ini dulu pernah tersampaikan ketika Umi-nya Harsya (Allahu yarhamha) masih ada. Saya bilang, nanti Harsya sunat kalau udah bisa membedakan sakit dan udah berkomunikasi dengan baik. Nah, tahun ini Harsya udah ada di usia threenager yang membuat segala hal lebih mudah dan lebih kompleks (hehe).

Beberapa lama yang lalu, Ayah ngobrol sama Abah Haji-nya Harsya dan munculah petuah untuk segera khitan sebelum 4 tahun. Sebetulnya saya juga udah ada niat untuk melakukannya ketika libur Idul Fitri yang tahun ini lebih lama dibanding biasanya. Jadi cocok kan? pilah pilih jadwal awalnya akan dilaksanakan ketika sesampainya kami di Garut. Tapi kok ternyata mepet banget ke Lebaran ya…hitung lagi dan jatuhlah di tanggal 18 Juni 2017.

Selanjutnya pilih tempat khitan yang mana untuk Harsya. Kami awalnya bersepakat bahwa metode khitan yang konvensional lah yang akan kami pilih. Sedikit ulasan tentang metode biasa ini, melalui proses sebagai berikut :

  • Pembiusan lokal
  • Pemotongan menggunakan pisau/gunting bedah oleh tenaga medis yang professional
  • Menggunakan benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan untuk menghentikan pendarahan yang timbul.

Keuntungan sunat biasa :

1. Kemungkinan terpotongnya glands penis sangat rendah.

2. Tindakan medis yang dilakukan sangat akurat sehingga hasilnya relatif paling baik

3. Semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Kelemahan sunat biasa :

1. Menimbulkan pendarahan yang lebih banyak

2. Proses sunat yang berlangsung relatif lama

3. Proses penyembuhan pasca sunat lebih lama

Untuk yang lainnya, boleh googling sendiri aja ya 🙂

Ada dua klinik yang sering saya dengar untuk khusus khitan di Bandung. Pusat Khitan Paramedika di Jl. Sukarno Hatta dan Klinik Seno Jl. Ahmad Yani. Kontak udah punya dan survey hanya dilakukan via telepon. Saya sudah mengerucutkan pilihan supaya ga kelamaan liat sana sini.

Pusat Khitan Paramedika
Biaya kelas VIP : 1juta dengan waktu khitan maksimal 5.30 pagi. Bedanya dengan kelas umum adalah obatnya.

Klinik Khitan Seno

Kami akhirnya pilih Seno dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah. Iya jarak sangat berpengaruh  untuk mengambil keputusan.

Tapi rencana manusia tetap Allah yang menentukan, 8 Juni 2017 Harsya resmi kena cacar air. Kami akhirnya hanya menunggu kondisi Harsya siap, jika sembuh maka khitan dilakukan 18 Juni, tapi jika tidak memungkinkan ya berarti di Garut aja pas mudik nanti. Teleponlah ke Klinik Seno dan setelah diperiksa (ini wajib sebelum khitan) maka Harsya bisa khitan tanggal 17 Juni karena kliniknya libur di hari Minggu.

Hasil pemeriksanaan ternyata phimosis, jadi sebaiknya memang khitan dilaksanakan sesegera mungkin sebelum terjadi infeksi atau pembengkakan. Kan, memang Allah yang menentukan kapan waktu terbaiknya

Persiapan sebelum anak dikhitan, untuk anak seperti Harsya segala bujuk rayu itu ga akan mempan. Kami sudah terbiasa berkomunikasi dan negosiasi sampai akhirnya sepakat. Jadi, langkah awalnya adalah SOUNDING.

Ibu : “Aca, mau sunat ga?”  jawabnya jelas sekali “ga mau, takut”

Ibu : “Kenapa takut? padahal sunat itu dibersihin lho. Mau ga jadi bersih?”

Harsya : “mmm..tapi aku takut digunting” mari salahkan orang disekitar yang nakut-nakutin anak laki-laki dengan sunat

Ibu: “Sunat itu dibersihin sayang, Ayah, Abah haji, Abah Dede, Om, Mamang, Uwa semua udah disunat”

Harsya :”Tapi nanti sakit”

Ibu : “Iya, kalau sakit kan bisa ditiupin sama Ibu. Kalau Aca jatuh sakit kan sama ibu suka ditiupin sambil berdoa biar sembuh. Jadi mau sunat?” Harsya : “mau” sambil ragu. 

Pembicaraan ini terus berulang setiap hari sampai akhirnya yang diulang adalah “Aca mau kok sunat, tapi mau dibeliin tas, sepatu, tenda buat tempat sembunyi sama kotak makan. Nanti kalau sakit, ga apa-apa biar ditiupin sama ibu sampai sembuh” Semua benda yang dijadikan syarat sudah diberikan, bahkan tenda sampai saya jahit sendiri. Semua contoh kejadian yang sudah sunat dari film kartun yang sering ditontonnya juga jadi bahan sounding. Ini dialog setelah nonton film Adit dan Sopo Jarwo

Ibu:  “Lihat deh Adit berani lho disunat”

Harsya : “Tapi kalau Denis takut tau, aku mah berani”

Ibu :”Iya, aca mah berani ya. Tapi Denis juga akhirnya berani lho. Malah katanya sunat itu cepet banget” 

Kenapa saya tetap membawa isu bahwa sunat ini sakit, karena ini kenyataannya yang harus dihadapi Harsya. Jadi dia tidak merasa dibohongi, penting buat saya supaya Harsya juga tahu resiko dari sunat ini selain segala keuntungan yang dia dapatkan.

Alhamdulillah…
Sekarang saatnya ibu menjalani drama “Ibu, ini sakiiiit….tiupiiiiiin”

Tentang Petasan

images (12)

Tulisan ini untuk Harsya, jika suatu saat dia sudah ada di umurnya ingin tau rasanya bermain petasan.

Nak, Ibu bahkan ga tau apa asyiknya bunyi petasan itu. Dari jaman Ibu masih anak-anak dulu, Umi (nenekmu) selalu marah ketika ledakan-ledakan kecil itu berbunyi. Bahkan, percayalah Mamang sama Om pernah disuruh untuk pegang petasannya sambil mau disundut api ketika Umi tau kalau mereka juga ikut-ikutan membuat kegaduhan itu.

Nak, mungkin faktor umur. Ibu bahkan bisa terduduk lemas ketika mendengar satu saja ledakan kencang petasan yang mampir ke telinga Ibu. Bayangkan jika itu didengar oleh bayi, orang yang sudah sepuh, atau orang-orang yang memang tidak bisa dikagetkan seperti Ibu, bersyukur Ibu hanya lemas mungkin orang lain bisa sampai kena serangan panik atau bahkan pingsan.

Nak, boleh anggap Ibu ga asyik. Tapi percayalah, Ibu melahirkan kamu dengan utuh dan sempurna. Seperti itu juga Ibu ingin melihat anak Ibu yang utuh dan sempurna. Petasan itu bahaya, Nak. Untuk generasi Z seperti kamu, sangat mudah mencari informasi seperti apa bahayanya petasan itu. Kamu lecet saja Ibu menyesal, bayangkan jika Ibu harus melihat anak Ibu terluka karena petasan.

Nak, kalau kamu memang sangat ingin mendengarkan bunyi ledakan petasan. Ingat Ibu, itu saja