Tentang Mengukur Diri

Jika ditanya apa yang tersisa di malam hari dari seorang Nina yang setiap pagi tampil dengan alis on fleek, winged eye liner, pipi merona segar dan tentu saja bibir yang tertutup oleh lipstik?

Baru saja kemarin saya menyadari betapa lelah wajah yang ada di hadapan cermin setelah seluruh makeup itu dihapus. Kantung mata yang menghitam,  bibir yang pucat dan kering, mata yang sayu dan rambut yang dirasa semakin tipis.

Menjalani keseharian sebagai seorang ibu bekerja dengan 3 bidang sekaligus adalah sesuatu yang saya sudah ukur resikonya. Seorang Ibu dari 1 balita, staf kantoran, dosen dan juga pebisnis online. Setiap pagi dan sore mengarungi kemacetan hampir 3 jam, menghadapi peraturan kantor yang kalau telat 1 menit dipotong honor sekian persen, berarti setiap pagi adalah EMOSIONAL.

Kok curhat? LOL
Nih, saya kasih gambaran setiap harinya. Bangun pagi, sholat, mandi, bersiap, bangunin anak, mandiin, masak, masukin semua bekal makan, nyetir dan sementara di jalan macam-macam gaya orang  bawa kendaraan. Karena merasa masih pagi banyak yang bawa kendaraan itu pelan di jalur kanan (berasa kayak mau liburan gitu) kadang ada yang sambil ngerokok, telepon, ada juga yang sambil dandan atau yang hanya ingin santai dan lebih parahnya ada yang berkemudi pelan karena sudah mau sampai tujuan tanpa peduli di belakangnya masih ada kendaraan yang mungkin 15km lagi baru akan sampai tujuan.

Kok bisa tahan? karena saya butuh hasil dari resiko yang saya jalani itu setiap harinya. Bangun ga boleh telat, mandi ga usah lama-lama, masak ga usah ribet tapi harus sehat, nyetir harus cepet tapi aman, baju tetep harus pantas dilihat dan masih banyak lainnya. Mudah aja kan?

Percayalah, sebulan pertama saya menjalani rutinitas ini bulan berikutnya saya kena hepatitis 2 minggu ga bisa aktifitas. Karena saya lelah dan karena saya tidak DISIPLIN. Kadang masih begadang, kadang masih bangun telat, kadang masih kepikiran males masak makanan sehat dan masih banyak hal lain yang saya anggap biasa implikasinya tidak biasa.

Padahal dari masih kecil saya sering dengar Papah bilang “jadi orang itu harus DISIPLIN, jangan LELET dll”

Untuk saya yang masih remaja, kata-kata disiplin itu menguap begitu saja. Karena oh tentu bosan mendengar hal yang sama setiap pagi. Sementara sekarang, setelah menjadi orang tua ternyata hal itu adalah sesuatu yang sakral. 

Jadi bagaimana saya menjalankan hari-hari saya dengan waras? 

1. Tentukan prioritas

Bahkan setiap hari, saya punya jadwal ini itu yang sama sekali tidak bisa dilewat dan diabaikan susunannya. Contohnya mandi dulu baru masak, karena kalau masak dulu baru mandi udah bisa dipastikan saya telat berangkat.

2. Lakukan rutinitas yang sama 

Ada banyak teori tentang ini. 21 hari, 28 hari, 66 hari, 90 hari dll. Yang penting bagi saya hanya biasakan setiap hari. Begitupun anak, setiap hari tidur dan bangun di jam yang sama. Kok anak dipaksa? Ya sis, anak saya mah di daycare berangkat sama pulang bareng ibunya jadi harus begitu biar sama-sama sehat jiwa raga

3. Miliki waktu untuk merencanakan

Setiap malam, saya punya waktu “sendiri” setelah anak tidur. Kadang sekedar mikir mau ngerjain apa besok tapi seringnya sambil nyicil siapin itu itu sebelum tidur.

3 hal itu saya lakukan demi saya bisa mengukur diri. Bahwa tidak semua bisa saya lakukan dalam satu waktu, setidaknya saya menularkan beberapa kebiasaan baik untuk anak. Agar dia belajat disiplin, bukan diteriaki agar disiplin  

Ditulis untuk #satuminggusatucerita

Advertisements

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s