Tentang Khitanan Harsya

 

Alhamdulillah,

Tepat hari ini satu lagi sunnah Rasulullah SAW sudah dilaksanakan. Kami sudah mengkhitankan anak kecil yang umurnya 3 tahun 9 bulan. Beberapa pertanyaan muncul ketika mendengar Harsya mau sunat, “memang anaknya udah mau?”” Duh, ga nunggu nanti aja udah sekolah” “Kan masih kecil, kenapa buru-buru?” jawaban saya adalah “karena kami sudah niat”

Iya, memang niat ini dulu pernah tersampaikan ketika Umi-nya Harsya (Allahu yarhamha) masih ada. Saya bilang, nanti Harsya sunat kalau udah bisa membedakan sakit dan udah berkomunikasi dengan baik. Nah, tahun ini Harsya udah ada di usia threenager yang membuat segala hal lebih mudah dan lebih kompleks (hehe).

Beberapa lama yang lalu, Ayah ngobrol sama Abah Haji-nya Harsya dan munculah petuah untuk segera khitan sebelum 4 tahun. Sebetulnya saya juga udah ada niat untuk melakukannya ketika libur Idul Fitri yang tahun ini lebih lama dibanding biasanya. Jadi cocok kan? pilah pilih jadwal awalnya akan dilaksanakan ketika sesampainya kami di Garut. Tapi kok ternyata mepet banget ke Lebaran ya…hitung lagi dan jatuhlah di tanggal 18 Juni 2017.

Selanjutnya pilih tempat khitan yang mana untuk Harsya. Kami awalnya bersepakat bahwa metode khitan yang konvensional lah yang akan kami pilih. Sedikit ulasan tentang metode biasa ini, melalui proses sebagai berikut :

  • Pembiusan lokal
  • Pemotongan menggunakan pisau/gunting bedah oleh tenaga medis yang professional
  • Menggunakan benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan untuk menghentikan pendarahan yang timbul.

Keuntungan sunat biasa :

1. Kemungkinan terpotongnya glands penis sangat rendah.

2. Tindakan medis yang dilakukan sangat akurat sehingga hasilnya relatif paling baik

3. Semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Kelemahan sunat biasa :

1. Menimbulkan pendarahan yang lebih banyak

2. Proses sunat yang berlangsung relatif lama

3. Proses penyembuhan pasca sunat lebih lama

Untuk yang lainnya, boleh googling sendiri aja ya ūüôā

Ada dua klinik yang sering saya dengar untuk khusus khitan di Bandung. Pusat Khitan Paramedika di Jl. Sukarno Hatta dan Klinik Seno Jl. Ahmad Yani. Kontak udah punya dan survey hanya dilakukan via telepon. Saya sudah mengerucutkan pilihan supaya ga kelamaan liat sana sini.

Pusat Khitan Paramedika
Biaya kelas VIP : 1juta dengan waktu khitan maksimal 5.30 pagi. Bedanya dengan kelas umum adalah obatnya.

Klinik Khitan Seno

Kami akhirnya pilih Seno dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah. Iya jarak sangat berpengaruh  untuk mengambil keputusan.

Tapi rencana manusia tetap Allah yang menentukan, 8 Juni 2017 Harsya resmi kena cacar air. Kami akhirnya hanya menunggu kondisi Harsya siap, jika sembuh maka khitan dilakukan 18 Juni, tapi jika tidak memungkinkan ya berarti di Garut aja pas mudik nanti. Teleponlah ke Klinik Seno dan setelah diperiksa (ini wajib sebelum khitan) maka Harsya bisa khitan tanggal 17 Juni karena kliniknya libur di hari Minggu.

Hasil pemeriksanaan ternyata phimosis, jadi sebaiknya memang khitan dilaksanakan sesegera mungkin sebelum terjadi infeksi atau pembengkakan. Kan, memang Allah yang menentukan kapan waktu terbaiknya

Persiapan sebelum anak dikhitan, untuk anak seperti Harsya segala bujuk rayu itu ga akan mempan. Kami sudah terbiasa berkomunikasi dan negosiasi sampai akhirnya sepakat. Jadi, langkah awalnya adalah SOUNDING.

Ibu : “Aca, mau sunat ga?” ¬†jawabnya jelas sekali “ga mau, takut”

Ibu : “Kenapa takut? padahal sunat itu dibersihin lho. Mau ga jadi bersih?”

Harsya : “mmm..tapi aku takut digunting” mari salahkan orang disekitar yang nakut-nakutin anak laki-laki dengan sunat

Ibu: “Sunat itu dibersihin sayang, Ayah, Abah haji, Abah Dede, Om, Mamang, Uwa semua udah disunat”

Harsya :”Tapi nanti sakit”

Ibu : “Iya, kalau sakit kan bisa ditiupin sama Ibu. Kalau Aca jatuh sakit kan sama ibu suka ditiupin sambil berdoa biar sembuh. Jadi mau sunat?” Harsya : “mau” sambil ragu.¬†

Pembicaraan ini terus berulang setiap hari sampai akhirnya yang diulang adalah “Aca mau kok sunat, tapi mau dibeliin tas, sepatu, tenda buat tempat sembunyi sama kotak makan. Nanti kalau sakit, ga apa-apa biar ditiupin sama ibu sampai sembuh”¬†Semua benda yang dijadikan syarat sudah diberikan, bahkan tenda sampai saya jahit sendiri. Semua contoh kejadian yang sudah sunat dari film kartun yang sering ditontonnya juga jadi bahan sounding. Ini dialog setelah nonton film Adit dan Sopo Jarwo

Ibu: ¬†“Lihat deh Adit berani lho disunat”

Harsya : “Tapi kalau Denis takut tau, aku mah berani”

Ibu :”Iya, aca mah berani ya. Tapi Denis juga akhirnya berani lho. Malah katanya sunat itu cepet banget”¬†

Kenapa saya tetap membawa isu bahwa sunat ini sakit, karena ini kenyataannya yang harus dihadapi Harsya. Jadi dia tidak merasa dibohongi, penting buat saya supaya Harsya juga tahu resiko dari sunat ini selain segala keuntungan yang dia dapatkan.

Alhamdulillah…
Sekarang saatnya ibu menjalani drama “Ibu, ini sakiiiit….tiupiiiiiin”

Advertisements

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

1 thought on “Tentang Khitanan Harsya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s