Lebaran tahun ini

Apa kabar Ramadhan tahun ini? Saya ngerasanya sibuk banget dan lelah.

Jadwal harian saya nih, jam 3.30 bangun masak buat sahur sekeluarga. Abis subuh kalau mau tidur ya tidur-tidur ayam doang atau bablas ga tidur lagi sama sekali. Jam 6.15 berangkat ngantor dan 14.30 jalan pulang dari kantor. Jemput Harsya di daycare dan nyampe rumah jam 16.00. Abis itu ga bisa leyeh-leyeh karena lanjut ngapain buibuuuuu? Yak tentu saja masak buat buka puasa. Abis isya bisa tidur? Tentu tidak, ada kerjaan kantor yang biasanya harus dibawa ke rumah karena jam kerja berkurang tapi target kerjaan tetap sama. Jam 23.00 baru bisa tidur dan besoknya berulang.

Jadi ya lelah pastinya. Sama macet pagi ga terlalu berasa cape, tapi macet sore itu lho duh ampun deh. Pernah beberapa hari baru nyampe rumah 10 menit menuju maghrib, tapi juga ga ada makanan karena boro-boro lah mampir beli makanan buat buka puasa. 

Di tengah rutinitas tiba-tiba Harsya cacar, setelah sembuh lanjut mendadak sunat. Makin lah rasanya “kesenangan” menyambut lebaran itu pupus setitik demi setitik. Tapi, sebagai sulung dan satu-satunya anak perempuan di rumah dan rumah mertua tentunya malas pun tetap harus siapin ini itu. 

Meski tahun ini kurang Mamah yang biasanya udah nyodorin list keinginan ketika lebaran tiba tapi saya memutuskan untuk membuat ritual baru di keluarga. Kami akan kumpul, saya akan masak besar, saya ingin kami berfoto keluarga dll. Mamah pasti bahagia, insyaallah 😇

Mudik jadi cerita seru saya tiap tahunnya. Mobil kecil penuh sama barang bawaan bertiga plus persiapan masak yang selalu saya bawa dari Bandung karena belanja ke pasar menjelang lebaran itu terlalu bikin pahala puasa bisa menguap begitu saja😫😫😫

Saya mudik cuma 50km aja dari rumah. Cuma ke Garut yang jalur mudiknya fenomenal itu lho macetnya kalau dari Bandung. Keluar rumah jam 9 malam dengan harapan jalanan masih kosong, ternyata baru 5km dari rumah saja kendaraan sudah berjejer rapi di jalan. Jadilah neng ayla muter balik menuju jalan pintas yang penerangannya terbatas dan lebarnya juga cuma secukupnya yang penting sampai lebih cepat dan selamat. 

Tahun ini jatah lebaran di rumah keluarga saya. Karena sejak menikah saya dan pak suami memutuskan untuk bergantian tempat shalat Ied setiap tahun. Ya..meski suami juga berasal dari kota yang sama kami berusaha untuk adil sama orang tua. 

Keluarga kami punya ritual lebaran yang berbeda. Saya hanya tinggal di Garut, tapi Mamah berasal dari Ciamis dan Papah dari Majalaya. Rute lebaran kami selalu Bandung-Garut,1 Syawal Garut-Majalaya-Garut, 3 Syawal Garut-Ciamis-Garut.  Sementara suami asli turunan Garut, jadi lebaran itu 1 syawal keliling ke keluarga Mamah, 2 syawal ke keluarga Bapak. Sisa hari libur lebaran akan kami habiskan dengan bergiliran nginep di rumah orang tua saya dan rumah mertua. 1000km bisa kami tempuh hanya dalam libur lebaran seminggu😂😂😂

Eh, beli baju lebaran ga? Kalau saya sih engga. Coba deh balik lagi ke rutinitas saya di paragraf 2, kapan waktunya buat bisa belanja. Sejak menikah saya membiasakan beli baju shalat dan sarung baru untuk suami, Harsya juga Papah ditambah mukena baru buat saya dan Mamah. Baju lain, bisa dibeli tiap bulan kan?

Anyway…

Taqabbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum.

Semoga kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.

Selamat berkumpul dengan keluarga

Tentang Khitanan Harsya

 

Alhamdulillah,

Tepat hari ini satu lagi sunnah Rasulullah SAW sudah dilaksanakan. Kami sudah mengkhitankan anak kecil yang umurnya 3 tahun 9 bulan. Beberapa pertanyaan muncul ketika mendengar Harsya mau sunat, “memang anaknya udah mau?”” Duh, ga nunggu nanti aja udah sekolah” “Kan masih kecil, kenapa buru-buru?” jawaban saya adalah “karena kami sudah niat”

Iya, memang niat ini dulu pernah tersampaikan ketika Umi-nya Harsya (Allahu yarhamha) masih ada. Saya bilang, nanti Harsya sunat kalau udah bisa membedakan sakit dan udah berkomunikasi dengan baik. Nah, tahun ini Harsya udah ada di usia threenager yang membuat segala hal lebih mudah dan lebih kompleks (hehe).

Beberapa lama yang lalu, Ayah ngobrol sama Abah Haji-nya Harsya dan munculah petuah untuk segera khitan sebelum 4 tahun. Sebetulnya saya juga udah ada niat untuk melakukannya ketika libur Idul Fitri yang tahun ini lebih lama dibanding biasanya. Jadi cocok kan? pilah pilih jadwal awalnya akan dilaksanakan ketika sesampainya kami di Garut. Tapi kok ternyata mepet banget ke Lebaran ya…hitung lagi dan jatuhlah di tanggal 18 Juni 2017.

Selanjutnya pilih tempat khitan yang mana untuk Harsya. Kami awalnya bersepakat bahwa metode khitan yang konvensional lah yang akan kami pilih. Sedikit ulasan tentang metode biasa ini, melalui proses sebagai berikut :

  • Pembiusan lokal
  • Pemotongan menggunakan pisau/gunting bedah oleh tenaga medis yang professional
  • Menggunakan benang jahit yang bisa menyatu dengan jaringan untuk menghentikan pendarahan yang timbul.

Keuntungan sunat biasa :

1. Kemungkinan terpotongnya glands penis sangat rendah.

2. Tindakan medis yang dilakukan sangat akurat sehingga hasilnya relatif paling baik

3. Semua dokter dapat melakukan tindakan ini.

Kelemahan sunat biasa :

1. Menimbulkan pendarahan yang lebih banyak

2. Proses sunat yang berlangsung relatif lama

3. Proses penyembuhan pasca sunat lebih lama

Untuk yang lainnya, boleh googling sendiri aja ya 🙂

Ada dua klinik yang sering saya dengar untuk khusus khitan di Bandung. Pusat Khitan Paramedika di Jl. Sukarno Hatta dan Klinik Seno Jl. Ahmad Yani. Kontak udah punya dan survey hanya dilakukan via telepon. Saya sudah mengerucutkan pilihan supaya ga kelamaan liat sana sini.

Pusat Khitan Paramedika
Biaya kelas VIP : 1juta dengan waktu khitan maksimal 5.30 pagi. Bedanya dengan kelas umum adalah obatnya.

Klinik Khitan Seno

Kami akhirnya pilih Seno dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah. Iya jarak sangat berpengaruh  untuk mengambil keputusan.

Tapi rencana manusia tetap Allah yang menentukan, 8 Juni 2017 Harsya resmi kena cacar air. Kami akhirnya hanya menunggu kondisi Harsya siap, jika sembuh maka khitan dilakukan 18 Juni, tapi jika tidak memungkinkan ya berarti di Garut aja pas mudik nanti. Teleponlah ke Klinik Seno dan setelah diperiksa (ini wajib sebelum khitan) maka Harsya bisa khitan tanggal 17 Juni karena kliniknya libur di hari Minggu.

Hasil pemeriksanaan ternyata phimosis, jadi sebaiknya memang khitan dilaksanakan sesegera mungkin sebelum terjadi infeksi atau pembengkakan. Kan, memang Allah yang menentukan kapan waktu terbaiknya

Persiapan sebelum anak dikhitan, untuk anak seperti Harsya segala bujuk rayu itu ga akan mempan. Kami sudah terbiasa berkomunikasi dan negosiasi sampai akhirnya sepakat. Jadi, langkah awalnya adalah SOUNDING.

Ibu : “Aca, mau sunat ga?”  jawabnya jelas sekali “ga mau, takut”

Ibu : “Kenapa takut? padahal sunat itu dibersihin lho. Mau ga jadi bersih?”

Harsya : “mmm..tapi aku takut digunting” mari salahkan orang disekitar yang nakut-nakutin anak laki-laki dengan sunat

Ibu: “Sunat itu dibersihin sayang, Ayah, Abah haji, Abah Dede, Om, Mamang, Uwa semua udah disunat”

Harsya :”Tapi nanti sakit”

Ibu : “Iya, kalau sakit kan bisa ditiupin sama Ibu. Kalau Aca jatuh sakit kan sama ibu suka ditiupin sambil berdoa biar sembuh. Jadi mau sunat?” Harsya : “mau” sambil ragu. 

Pembicaraan ini terus berulang setiap hari sampai akhirnya yang diulang adalah “Aca mau kok sunat, tapi mau dibeliin tas, sepatu, tenda buat tempat sembunyi sama kotak makan. Nanti kalau sakit, ga apa-apa biar ditiupin sama ibu sampai sembuh” Semua benda yang dijadikan syarat sudah diberikan, bahkan tenda sampai saya jahit sendiri. Semua contoh kejadian yang sudah sunat dari film kartun yang sering ditontonnya juga jadi bahan sounding. Ini dialog setelah nonton film Adit dan Sopo Jarwo

Ibu:  “Lihat deh Adit berani lho disunat”

Harsya : “Tapi kalau Denis takut tau, aku mah berani”

Ibu :”Iya, aca mah berani ya. Tapi Denis juga akhirnya berani lho. Malah katanya sunat itu cepet banget” 

Kenapa saya tetap membawa isu bahwa sunat ini sakit, karena ini kenyataannya yang harus dihadapi Harsya. Jadi dia tidak merasa dibohongi, penting buat saya supaya Harsya juga tahu resiko dari sunat ini selain segala keuntungan yang dia dapatkan.

Alhamdulillah…
Sekarang saatnya ibu menjalani drama “Ibu, ini sakiiiit….tiupiiiiiin”

Tentang Petasan

images (12)

Tulisan ini untuk Harsya, jika suatu saat dia sudah ada di umurnya ingin tau rasanya bermain petasan.

Nak, Ibu bahkan ga tau apa asyiknya bunyi petasan itu. Dari jaman Ibu masih anak-anak dulu, Umi (nenekmu) selalu marah ketika ledakan-ledakan kecil itu berbunyi. Bahkan, percayalah Mamang sama Om pernah disuruh untuk pegang petasannya sambil mau disundut api ketika Umi tau kalau mereka juga ikut-ikutan membuat kegaduhan itu.

Nak, mungkin faktor umur. Ibu bahkan bisa terduduk lemas ketika mendengar satu saja ledakan kencang petasan yang mampir ke telinga Ibu. Bayangkan jika itu didengar oleh bayi, orang yang sudah sepuh, atau orang-orang yang memang tidak bisa dikagetkan seperti Ibu, bersyukur Ibu hanya lemas mungkin orang lain bisa sampai kena serangan panik atau bahkan pingsan.

Nak, boleh anggap Ibu ga asyik. Tapi percayalah, Ibu melahirkan kamu dengan utuh dan sempurna. Seperti itu juga Ibu ingin melihat anak Ibu yang utuh dan sempurna. Petasan itu bahaya, Nak. Untuk generasi Z seperti kamu, sangat mudah mencari informasi seperti apa bahayanya petasan itu. Kamu lecet saja Ibu menyesal, bayangkan jika Ibu harus melihat anak Ibu terluka karena petasan.

Nak, kalau kamu memang sangat ingin mendengarkan bunyi ledakan petasan. Ingat Ibu, itu saja