Menikah Dalam Satu Kata

phonto

Menikah itu CINTA


Gara-gara tegelitik topik #SassyThursday Annisa sama Nahla jadi ikutan mikir bagaimana mendefinisikan “menikah dalam satu kata”. Saya termasuk orang yang pernah bertanya sebetulnya bagaimana cara orang memutuskan untuk menikah sampai suatu saat akhirnya memutuskan untuk menikah.

Menikah itu adalah belajar. Bagi saya dan suami yang sama-sama orang teknik dengan pemikiran cenderung realistis segala sesuatu perlu alasan yang bisa diperhitungkan untuk setiap keputusan yang diambil. Bahkan lamaran pun dilakukan dengan pertanyaan “Neng, jadi kapan kita nikah? perlu biaya berapa?” tanpa cincin, bunga, kejutan atau makan malam mewah pake lilin.

Percayalah untuk orang seperti saya yang cenderung ingin mengerjakan dan memutuskan segala sesuatu sendirian, berdua itu sama sekali tidak mudah. Saya suka diam di kamar, suami maunya bergerak mulu kalau libur di rumah. Suami selera musiknya ga bergerak dari tahun 90an, saya maunya denger yang update. Dari perbedaan kecil seperti ini kami sama-sama belajar untuk memahami dan akhirnya berubah sendiri jadi saling menyesuaikan.

Untuk kami yang memutuskan menikah setelah “wawancara” selama kurang lebih 8 bulan. Nanyaaaaa mulu klo gini gitu gimana bahkan sampai hal-hal remeh pun dibicarakan jadinya sebetulnya relatif jarang berantem. Berantem itu hampir pasti karena cape, entah saya atau suami pasti sama-sama sensi kalau udah cape di kantor.

Dari wawancara itu saya belajar tentang suami, bagaimana pola pikirnya, cara memutuskan masalah, cara menghadapi saya dan anak, caranya mengatur keuangan dan hal-hal prinsip yang lainnya. Terus soal tugas rumah tangga gimana????

Lupa darimana awalnya, tugas itu terbagi jadi urusan suami adalah beberes dan pekerjaan rumah lainnya sementara urusan saya adalah memastikan perut kami kenyang dan sehat. Itu dulu pas masih berdua, sekarang udah ada anak ya begitu juga sih karena Harsya adalah anak nemepel ke Ibu DAN ayah. Urusan domestik rumah tangga tetep bagian suami dan kalau mau makan ya minta ke saya. (mungkin karena suami juga udah belajar bahwa saya ini bukan orang yang suka beres-beres 😀 )

Menurut saya, menikah tanpa mau belajar itu egois.

Advertisements

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s