Tentang Kehilangan

Rabu, 31 Agustus 2016 pukul 3 pagi

Suami : “Bu, bangun beresin baju yuk”

Saya : “hah, emang jam berapa?”

Suami : “jam 3, kita ke Garut. Mamah meninggal”

Saya : langsung terduduk dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Suami langsung memeluk dan saya hanya diam, bingung

Berjalan keluar kamar Harsya dan langsung lihat hp ada puluhan missed call dan dua  sms “teh, mamah ngantunkeun.nembe” dan “ieu sareng pak rw o7” iya, sampai Pak RW pun berusaha menghubungi saya sejak tengah malam. Dini hari itu adalah dini hari paling membingungkan yang pernah saya alami. Kalut saya menghubungi adik-adik, yang bungsu saya khawatirkan akan ngebut sepanjang jalan dari Sumedang ke Garut sementara kakaknya saya khawatirkan belum tahu berita ini karena hp silent juga seperti saya.

Sejak punya Harysa, saya alergi sama bunyi handphone karena sering mengganggu tidur anak. Jadilah malam itu, saya silent hp dan meningalkannya di meja tamu sementara saya tidur di kamar Harsya yang juga disusul suami tidur di ruangan yang sama sementara hp-nya silent dan ditinggal di kamar kami.

Pukul 4 pagi

Setelah selesai membereskan baju yang sembarang saya masukkan ke tas travel. Saya berganti baju dengan yang ada di gantungan yang kemudian saya sadari baju itu terakhir digunakan ketika nengokin mamah di rumah sakit. Dini hari itu saya memacu mobil dengan kecepatan tinggi, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar diantara truk-truk besar selama perjalanan Bandung-Garut.

Tersisa 2km menuju rumah, saya melambatkan kendaraan dan sangat tidak ingin sampai rumah. Berharap tidak pernah sampai ke kenyataan bahwa mamah tidak akan menyambut saya di rumah. Baru saat itulah saya menangis karena sadar penuh kalau saya sudah kehilangan.

Pukul 5 pagi

Saya turun dari mobil, mendapati tetangga dan saudara sudah sangat ramai di sekitar rumah. Hanya papah dan paman yang saya salami, kemudian melangkah kedalam rumah dan mengucap salam melihat dengan sudut mata, mamah yang sudah terbungkus rapi siap untuk dishalatkan. Saya, anak perempuannya ini tidak mau melihat mamah ada di sana.

Pelukan dari banyak orang berusaha menghibur dan satu yang saya tanyakan ke bibi adalah “bibi, mamah ditalqinin sama siapa?” lalu  mendapatkan jawaban kalau mamah sama bibi ketika “jemputan”nya datang. Subuh itu adalah waktu dimana saya bersungguh-sungguh meminta pada Allah agar dikuatkan.

Setelah shalat subuh, saya dekati mamah dan saya usap tangannya yang sudah terbungkus. Dalam hati saya bilang “Mah, ini teteh. Maaf teteh baru datang” saya lihat adik bungsu menghampiri dan duduk menangis di samping saya ketika diperlihatkan wajah tenang mamah yang sudah tidak merasakan sakit apapun. Pelukan terakhir saya ke mamah adalah hari Minggu lalu, ketika saya pamit untuk kembali ke Bandung. 3 kali mamah bertanya “langsung ke Bandung, neng?” dan 3 kali juga saya jawab “engga, mau ke karangpawitan dulu” padahal ketika kembali ke Bandung itu saya melewati komplek tempat tinggal papah dan mamah, sebetulnya tidak sulit bagi saya untuk belok sebentar kembali ke rumah. Jaraknya hanya kurang dari 1 meter saja. Hari itu saya tidak mau memeluk mamah yang tidak bisa membalas memeluk dan mencium pipi saya seperti biasa.

Pagi itu, luar biasa…begitu banyak orang datang melayat, saya meminta maaf atas semua kesalahan mamah dan meminta doa dari mereka. Jawaban yang hampir seragam saya dapatkan adalah “teh, mamah mah bageur pisan. Mamah sholehah pisan, insyaallah” masyaallah, mah

Sekali Harsya menghampiri saya melihat ummi-nya dengan kebingungan, saya katakan “itu ummi, nak. Ummi udah sembuh, umminya lagi bobo”

Pukul 8 pagi

Mamah dibawa ke mesjid, disholatkan banyak sekali orang. Tidak lama, adik saya datang dari Depok dan saya memilih kembali ke rumah memasuki kamar yang penuh sekali dengan jejak mamah. Mamah ada di sana sebelumnya, terbaring dengan hidung yang sudah sering berdarah karena kering akibat telalu lama memakai bantuan oksigen . Kursi roda yang terlipat digunakan untuk mengantar mamah ke mobil menuju rumah sakit. Selimut yang kusut, kayu putih, inhaler, minyak angin, sekantong pemanis buatan dari rumah sakit, baju dan kerudung bekas ke rumah sakit. Saya yang berusaha membaui aroma mamah yang semoga tersisa disana, percuma karena mamah memang tidak ada.

Pukul 9.30

Kami mengantar mamah ke pemakaman. Dua adik saya dan suami yang ikut mengangkat mamah sampai di sana. Tidak lama saya lihat, dua anak laki-laki yang sering mamah bilang “penjaga”nya sudah berbaris rapi siap menyambut mamah untuk diistirahatkan. Si bungsu yang tidak kuat akhirnya menyerah, sementara kakaknya menyelesaikan sampai lubang itu tertutup tanah dan diberi tanda.

Pukul 10.00

Saya usap tanah itu dan kembali dalam hati mengatakan “Mah, teteh pulang” lalu melangkah meninggalkan mamah disana, sendirian.

Sisa hari dihabiskan dengan banyak sekali kunjungan dari banyak orang yang ingin mendoakan mamah. Ratusan pesan di handphone tidak bisa saya balas satu-satu. Saya masih bisa bersikap biasa ketika masih banyak orang di sekitar saya, sampai ada yang bertanya “kok bisa tegar?” padahal tanpa mereka tahu saya menangis ketika sendirian.

Jangan tanya saya bagaimana rasanya, jelas sampai hari ini pun saya merasa kalau mamah menuggu saya di Garut seperti biasa. Kemarin di rumah saya merasa hanya ditinggal mamah sebentar, lalu mamah akan membuka pintu sambil mengucapkan salam dengan nada khas mamah.

Kami ikhlas mamah pergi, itu takdir Allah yang tidak bisa kami ingkari. Tapi nyata kami kehilangan ibu, istri, nenek, mertua yang baik. Saya kehilangan teman ngobrol dan menunggu para lelaki ketika mereka shalat berjamaah di mesjid. Saya kehilangan ibu yang selalu menjadi panutan bersikap  terhadap suami dan mendidik anak dengan baik.

Saya ingat, tepat 3 minggu lalu mamah masuk CVCU (ICU khusus jantung) saya katakan “mah, teteh mau S3. Insyaallah tahun 2020 sekali lagi teteh wisuda di Sabuga” karena saya tahu harapan mamah adalah menemani anaknya wisuda sekali saja dan sudah 3 kali mamah mendampingi saya wisuda. Sementara itu ada adik bungsu yang akan menikah bulan depan, satu lagi anak mamah yang akan menikah dan tidak sempat mamah antarkan ke pelaminan.

Tapi sejak Selasa 3 minggu lalu itu pula saya merasa takut kehilangan mamah, saya takut umur mamah tidak panjang lagi, saya takut mamah akan pergi meninggalkan kami. Masih ingat saya tanyakan ke suami “yah, mamah ga akan kenapa2 kan?” dan saya tahu itu pertanyaan ganjil yang pada akhirnya segala ketakutan saya itu membuat saya menangis sepanjang 2 jam perjalanan menuju rumah sakit. Saya berusaha selama mungkin ada dekat mamah di ICU yang sangat terbatas jam besuknya itu, ketika mamah bisa pindah ke kamar rawat inap saya berusaha lebih lama lagi menemaninya. Percayalah, tidak satu haripun mamah di rumah sakit dalam keadaan tidak sadar. Mamah selalu sadar sejak hari pertamanya masuk rumah sakit, mamah bercerita segala macam ketika kami bersama, mamah tidak pernah mengeluh sakit kecuali sesak nafas.

Di hari terakhirnya, mamah tidak mau memberi kabar kepada kami anak-anaknya bahwa keadaannya sudah payah. Dari cerita bibi, saya tahu kalau mamah bahkan sudah tidak bisa membuka mata karena matanya bengkak. Mamah selalu bilang “kalau bisa meninggal ada papah, kalau bisa meninggal tanpa perlu merepotkan anak-anak” dan cita-cita mamah tercapai.

Dalam ingatan saya, ada mamah yang sehat yang selalu mengunjungi saya di Bandung ini dengan bekal makanan. Ada mamah yang selalu menghampiri saya ketika sedang setengah ngantuk menemani Harsya tidur dan menjadikan punggung saya sebagai bantalnya. Ada mamah yang sedang menggendong Harsya ketika menidurkannya sambil bershalawat. Ada mamah yang sedang duduk di ruang makan sambil memotong sayuran sementara saya malah duduk menontonnya. Ada mamah yang selalu bertanya “neng, ini udah rapi?” “neng, ieu teu ngewa?” atau “neng, mamah camerok teu?” ketika sedang berdandan. Ada mamah yang selalu bertanya “uih moal neng minggu ieu?”. Ada mamah yang selalu menelepon Harsya dan bertanya “lagi apa aca?”. Ada mamah yang tiduran di depan TV karena lelah. Ada mamah yang selalu menahan nafas ketika menyuntikkan insulin ke perutnya. Dan ada mamah yang hanya bisa saya lihat nisannya dengan tulisan

Hj. Rofi’ah

Binti

Iding

Lahir 7 Maret 1965

Wafat 30 Agustus 2016

 

Innalillahi wainna ilahi roji’un…

PS :
Mah,

teteh, aa, ami, papah sudah lebih baik meski kami kehilangan🙂
2 hari lalu aca nanya “umi kemana?”
tadi pagi aca bilang “mau telepon umi”
Teteh kangen, aca juga kangen

 

 

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s