Bulan ke 22

C360_2015-07-25-17-28-19-280

Harsya : “Beli ini” sambil nunjuk mobil-mobilan seharga 2mio

Ibu sama Ayah sukses melongo dan menghela nafas.

Itu pertama kalinya Harsya meminta mainan pada kami dan harganya ga nanggung. LOL

Kami ini orang rumahan, jarang banget main kecuali pas waktunya belanja bulanan. Sepulang mudik kemarin, kulkas di rumah kosong karena memang sengaja dikosongkan ketika akan mudik (dipindahkan ke kulkas rumah mamah :D). Kami memutuskan untuk belanja sambil sowan ke mal baru di daerah rumah Trans Mart Cipadung, udah deh nanti kalau ada bioskop dan toko buku di daerah sekitaran rumah pasti lengkap sarana hiburan saya.

Balik lagi ke soal mainan, mobil-mobilannya dibeliin ga? YA KALIIIII…nggak lah! saya bikin tawaran yang sulit buat Harsya mengingat dia udah bisa diajak main tawar menawar. “Kalo mau mobil, berarti miminya udahan ya” hasilnya dia mengucapkan perpisahan dengan mobil-mobilan itu sambil mengusap-ngusap setir. Fix ini anak drama banget LOL

Setelah drama mobil, dia tiba-tiba menunjuk ke miniatur kereta api merk Fisher Price sebut saja karakternya Thomas (dijelasin) harganya sama kayak biaya belanja bulanan kami sekeluarga. Coba diturunin ke yang lebih murah, dia konsisten mau yang itu. Eh ga lama berselang ada Hot Wheels yang harganya setengah dari mainan kereta, Harsya kesenengan dan mulai meninggalkan keretanya. Saya mikir “Oke beliin yang ini aja, harganya masih realistis”. Lalu kami bergerak ke stand mainan kayu yang katanya oleh-oleh khas Bandung, si HotWheels ditinggalin dan dia beralih ke mainan alat musik seharga 35ribu saja. Ibu bahagia, anaknya seneng, ayahnya nyengir karena hampir membelikan mainan yang harganya luar biasa.

Jadi gini, Harsya itu sudah saya ajari tentang timbal balik. Ketika dia meminta sesuatu pada saya, saya akan meminta “bayaran” yang bisa dia mengerti. Bahkan kalau minta mimi pun saya minta dia membayar dengan ciuman🙂 . Nah karena hal ini, dia jadi bisa mulai melakukan tawar menawar, jika saya minta “bayaran” yang dia tidak mau maka saya akan mengajukan tawaran yang lain yang setara dan begitu seterusnya sampai deal.

Kenapa saya tega banget sama anak? Bukan tega, tapi ini cara saya mendidik Harsya. Sering saya mendengar komen kalau saya ini “galak” sama anak, tapi saya hanya berusaha tegas dan sangat ingin Harsya mandiri. Ketika dia jatuh selama saya melihat dan mendengar tangisannya biasa saja maka saya akan menyuruhnya untuk berdiri sendiri dan menunjukkan bagian mana yang sakit. Ini tujuannya untuk membuat dia lebih percaya diri dan supaya dia tahu kalau jatuh adalah hal yang biasa selama proses belajar, dengan jatuh dia akan tahu bahwa berhati-hati itu penting.

Harsya suka tantrum? saya akan menyebutnya mencari perhatian. Ini akan dia lakukan ketika ibu atau ayah terlalu sibuk dan dia tidak diperhatikan atau ketika dia sangat cape dan ngantuk. Sisanya karena dia sudah tahu tentang tawar menawar dan tidak semua keinginannya akan terkabul begitu mudah maka meskipun dia nangis jejeritan karena seatbelt car seatnya terpasang saya hanya akan mengabaikan setiap lengkingan teriakannya. Jadi saya biarkan dia nangis sampai cape, setelah berhenti saya akan bantu dia mendefiniskan apa yang dia rasakan, apakah dia marah, kesal, ngantuk, lapar, sakit dll lalu saya akan melanjutkan definisi itu. Marah kenapa, kesal kenapa, ngantuk harus bagaimana, sakit yang mana.

Anak nangis kok dibiarin? nangisnya kenapa dulu, gitu aja sih prinsip saya. Kalau Harsya ngotot melakukan sesuatu padahal sudah saya larang ya saya biarkan selama tidak membahayakan dan jika akhirnya dia merasakan akibatnya misal jatuh atau barangnya rusak ya sudah. Resiko dia, saya akan mengobati lukanya dan mengatakan bahwa larangan saya itu beralasan. Karena saya memang tidak mengharamkan kata jangan atau tidak di rumah saya, tapi tentu saja setiap larangan itu ada alasannya.

Meski saya dibilang tega soal pendidikan, tapi ini tidak berlaku soal makanan dan pakaian. Saya mah ga  tega liat anak pake baju kegedean sample kerahnya melorot >.< saya juga maunya Harsya mendapatkan nutrisi yang baik, minimal terjaga kebersihannya. Ya meski katanya anak kan cepet banget gedenya jadi bajunya beli 1 ukuran diatasnya tapi saya ga suka liatnya, jadi resikonya emang terbilang lebih sering beli baju.

Setiap ibu punya cara masing-masing kok buat mendidik anaknya

xoxo

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s