Tentang belajar mengelola uang

previewDisclaimer : Ini bukan tips-tips ala pakar keuangan yang gelarnya panjang banget itu. Ini murni cuma cerita bagaimana saya belajar mengelola uang selama ini.

“Ya enak atuh kamu mah kerjaan 2 kan double gajinya, suami juga kerja masih kadang dapet dari proyekan juga, anak baru satu. Saya mah tanggungan udah banyak banget”

Alhamdulillah, kalo patokannya cuma pendapatan sih ya begitu pandangannya. Tapi kalo saya ceritain apa saja pos biaya yang harus saya keluarkan setiap bulannya pasti paham kenapa saya dan suami bisa sampai mendapat penghasilan seperti sekarang.

Perjalanan saya mengelola keuangan bukan penuh sukses sampe punya tabungan banyak, tapi yang pasti saya diajari mamah saya sejak masih kelas 5 SD. Saya masih ingat uang jajan saya saat itu seribu rupiah sehari, sekolah dari senin sampe sabtu dikasih uang mingguan 5rb rupiah saja!. Cukup? ya harus cukup, berhasil ga? engga! hahaha…awal-awal saya dikasih uang 5000 sekaligus uangnya udah habis di hari ke 3, soalnya waktu itu baru ada supermarket di kota saya dan saya menghabiskan uangnya untuk beli alat tulis lucu-lucu. Sisanya gimana? saya cuma nyisain uang buat ongkos pulang pergi sekolah aja, tanpa jajan. Tersiksa banget, udah uang jajannya dipotong sehari masih harus ngatur juga keuangannya. Padahal umur saya baru 10 tahun waktu itu. Lulus SD saya masuk asrama pesantren, yang meski dekat rumah berarti saya harus belajar mengatur keuangan dan kehidupan saya.  Mamah mulai memberi uang 2 mingguan, yang sering berujung saya jalan kaki dari sekolah ke rumah soalnya uangnya habis ditengah 2 minggu itu.

Mulai beranjak SMA, mamah saya memberikan tantangan lebih. Uang jajan mulai dikasih bulanan dan termasuk bayar spp sekolah, bayar les, ongkos sekolah dan les dan uang jajan. Ga banyak cuma 60rb aja sampai kelas 3 SMA saya punya uang bulanan 140 ribu tapi harus nanggung semuanya. Susah, berat apalagi kalau lihat teman-teman punya barang baru lucu-lucu, jajan bisa apa saja dimana saja bahkan sampai bisa main kemana saja.

Nah, pas awal kuliah justru saya merasa sedikit berlebih dibanding dengan sebelumnya karena waktu kuliah saya kembali diberi uang mingguan dengan ongkos pp rumah-kosan ditanggung papah. Setiap pulang diberi bekal makanan yang bisa bertahan minimal untuk 2 atau 3 hari. Dari tabungan kecil-kecilan sisa uang jajan saya bisa beli hp baru motorola warna putih yang saya lupa tipenya dan berakhir dengan jatah uang bekal saya dipotong karena masih bisa nabung :)) Papah saya punya prinsip yang kaku soal uang bekal, seharusnya uang bekal itu untuk makan dan ongkos kalau ada kebutuhan lain diluar itu harus bilang ke papah. Tapi, bukan berati papah saya memanjakan kami anak-anaknya karena kami hanya punya sesuatu yang baru ketika tahun ajaran baru berupa seragam, tas, sepatu serta momen lebaran. Adik saya bergelimpangan mainan ketika mereka disunat sedangkan saya punya barang baru karena berhasil dapat beasiswa karena mendapat IP jurusan teknik lebih dari 2,75.

Begitulah saya dan kedua adik saya dididik mengenai uang, kami biasa hidup biasa saja. Kami punya apa yang orang lain punya dengan level berbeda, sepatu kami baru tapi bukan keluaran terbaru dari merk terkenal, baju kami baru bukan keluaran distro terkenal, motor kami motor biasa saja, Komputer dan laptop yang kami pakai bukan yang paling canggih tapi bisa dipastikan memenuhi kebutuhan kami selama belajar.

Pengalaman saya belajar mengenai mengelola keuangan itulah yang akhirnya bisa membuat saya bertahan mengelola keuangan rumah tangga. Sejak masih lajang dan mulai mempunyai penghasilan tetap sendiri saya mulai lepas dari sokongan dana dari papah. Saya mulai bebas untuk punya barang-barang yang saya inginkan dan butuhkan sesuai dengan gaji yang saya dapatkan.

Ini list yang pasti saya lakukan setiap bulannya :

1. Nabung; sesaat ketika uang gaji masuk minimal 10% dari gaji

2. Bayar tagihan; tagihan rumah, sekolah anak, telepon, listrik, kartu kredit, iuran keamanan&sampah komplek,arisan,cicilan ini itu lainnya

3. Belanja kebutuhan rumah bulanan; segala barang yang dipakai sama seisi rumah dibeli sekaligus supaya hemat waktu hemat bensin dan hemat uang karena sudah terstruktur.

4. Pos uang; sistem AMPLOP! ya saya masih konservatif soal ini, semua uang anggaran saya masukan ke amplop supaya mudah untuk mengetahui ketika ada kelebihan penggunaan

5. Belanja kebutuhan dapur mingguan; kalau ini tukang sayur langganan saya udah hapal banget, dia cuma akan mampir ke rumah saya 3 hari sekali dan tiap weekend karena saya akan masak besar pada hari libur dan hanya akan menghangatkan makanan ketika hari kerja. Hemat gas, hemat uang.

6. Karena kebiasaan itu saya jadi masih bisa makan diluar, jajan baju, dan seringnya sih beli-beli barangnya anak.

Kebiasannya emang sama dengan yang disuruh para pakar keuangan, ya mereka kan harusnya udah meneliti sistem yang mereka buat itu akan bekerja dengan baik. Saya belum di level bisa investasi beli reksadana atau LM karena saya masih harus banyak belajar mengelola keuangan tapi mudah-mudahan kedepannya saya bisa lebih baik lagi.

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s