Parenting : Never ending learning

MARI BERHENTI MEMBENTAK ANAK
dan gunakan The Power of “BERBISIK” – Ayah Edy

Saya dapat ujian naik kelas dari Harsya beberapa hari ini. Anak yang biasanya anteng aja di mobil tiba-tiba bisa teriak-teriak minta perhatian, ada saja alasannya kadang minta minum, minta cemilan, minta nyalain dvd, nyalain ac, minta diambilkan berbagai hal yang dia tunjuk. Dengan posisi saya lagi nyetir tentu saja saya jadi multitasking dan membahayakan kami berdua. Akhirnya saya hanya berhenti dan berusaha lembut tapi tegas mengatakan “Ibu lagi nyetir, dek. Kalau ade mau sesuatu nanti ibu kasih di rumah ya” hasilnya? Teriakannya makin kenceng sampai saya rasanya bisa memvisualisasikan ribuah syaraf di tubuh saya sedang terputus.

Saya lalu istighfar dan berusaha menikmati setiap teriakannya. Harsya saya biarkan menangis sampai akhirnya dia lelah dan tertidur di jalan. Ah..saya ini ibu biasa, ketika dia diam dan akhirnya tertidur giliran saya nangis. Segini berat ternyata perjuangannya untuk mendidik anak.

Setiap harinya saya selalu belajar hal baru dari Harsya dan beberapa hari ini saya dihadapkan pada persoalan bagaimana mengelola emosi. Normalnya ketika ada yang berteriak saya juga pasti ikut teriak, ingin rasanya saya marah pada Harsya karena dia tiba-tiba mudah tantrum. Tapi setelah dipikirkan kembali memang tidak ada gunanya, saya tidak mengerti apa yang Harsya mau dan Harsya juga malah makin depresi karena saya marah.

Biasanya kejadiannya begini :

Harsya mau sesuatu->Ibu ga kasih dengan alasan tertentu->Harsya nangis->Ibu jelasin kenapa ga boleh->Harsya teriak makin kenceng->Ibu usap kepalanya atau pegang tangannya atau peluk kalau memungkinkan->Harsya tetap nangis teriak-teriak->Ibu bilang dengan kalem “ya udah ade nangis aja, ibu ga ngerti ade mau apa kalau nangis teriak-teriak kayak gini, ibu lagi (melakukan sesuatu)”->Harsya teriak lagi sampai cape->Ibu diam->Harsya diam karena cape->Ibu bilang “udah nangis teriak-teriaknya?Maafin ibu ya tapi ade minta maaf juga sama ibu->Harsya peluk leher saya dan cium pipi->Ibu bahagia anak tenang->Harsya mimi terus senyum atau malah tidur.

Ya, saya akhirnya lebih pilih mendiamkan Harsya ketika dia sudah nangis teriak-teriak setelah saya bilang kalau saya akan menunggu sampai dia selesai nangis dan bisa menyampaikan keinginannya atau menerima alasan saya dengan baik. Saya memang berbicara padanya dengan bahasa orang dewasa karena saya yakin Harsya pasti paham apa yang saya maksud dari sikap dan intonasi bicara saya. Sebisa mungkin saya tidak membentak meski rasanya sangat ingin. Ah parenting, never ending learning

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

1 thought on “Parenting : Never ending learning”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s