Proses Kelahiran Harsya

Setiap orang pasti punya pengalaman melahirkan yang berebeda.
Hari itu Sabtu, 14 September 2013 saya berangkat dari rumah untuk kontrol ke dokter kandungan dengan mengetahui kalau saya akan melahirkan hari itu. Dokter sudah mengatakan kalau sampai Jumat saya tidak melahirkan maka induksi akan dilakukan hari Sabtu. Kedua adik saya sudah diberitahu dan akan pulang dihari itu.
Saya hanya pergi berdua suami naik angkot setelah sebelumnya menyampaikan kalau saya hanya ingin ditemani suami dan mamah ketika melahirkan nanti. Singkat cerita, dokter melakukan pemeriksaan dan kondisi semua baik. Ketika dilakukan VT ternyata sudah pembukaan 1 dan induksi tetap akan dilakukan. Sementara suami melakukan proses administrasi, sekitar pukul 10 pagi saya menerima proses induksi pertama. Katanya untuk melenturkan mulut rahim.
Semua masih dijalani dengan santai, saya masih bisa jalan-jalan keliling rumah bersalin. Setelah 6 jam proses induksi pertama, kembali dilakukan VT dan baru pembukaan 3. Induksi kedua melalui infus dilakukan. Pembukaan 3-7 masih bisa dilalui dengan senyum dan mengatur nafas. Ketidaksabaran mulai muncul ketika pembukaan 8 tidak kunjung datang, sementara afirmasi positif sudah mulai sulit dilakukan karena ternyata pasien tetangga sudah melahirkan anak laki-lakinya. Pikir saya waktu itu, dia sudah tidak merasakan lagi semua sakit yang sedang saya lalui. Tak lama berselang, datang seorang pasien yang sudah pasti akan SC hanya setengah jam sudah terdengar suara tangis bayi. Sementara saya masih menunggu pembukaan 9! Rasanya ingin sekali menyerah dan operasi saja, bertanya-tanya “ini RSB memangnya ga punya suntikan epidural?” .
Yang bisa saya lakukan hanya memeluk tangan suami berusaha untuk tidak menyakitinya dengan cakaran atau yang lain. Akhirnya pembukaan lengkap, dokter dan 3 orang bidan mempersiapkan peralatan untuk persalinan. Saya diminta mengejan hanya ketika kontraksi kuat muncul. Tapi ternyata kepala bayi sudah terjepit karena saya sudah mengejan dari pembukaan 9, dokter memutuskan untuk membantu dengan vakum. Saya hanya bisa mengiyakan, episiotomi dilakukan karena akan dimasukkan alat. Pukul 22.15 dengan dua kali mengejan bayi kami akhirnya keluar dan diletakkan di perut saya. Lalu IMD? Engga! Bayi kami langsung dibawa untuk dibersihkan sementara suami saya langsung berlutut lemas dan pergi keluar sementara saya menerima proses berikutnya. Saya diminta untuk mengejan sekali lagi dan dokter membersihkan rahim lalu melakukan proses penjahitan. Siapa berani bilang sama saya kalau dijahit setelah melahirkan itu ga sakit saking terlalu bahagianya? Rasanya dijahit setelah melahirkan itu SAKIT! Bahkan untuk saya yang pain tolerannya cukup tinggi.
Tidak lama saya dipindahkan ke kamar rawat, euforia seluruh anggota keluarga saya menyambut anggota keluarga baru juga tidak lama. Sejam kemudian saya hanya berdua suami di kamar rawat disusul bayi yang kata bidan menangis terus menerus. Lama saya berusaha menyusui bayi yang sepertinya lapar dan saya yang baru tahu bahwa saya ini si flat nipple sehingga bayi kami kesulitan untuk menyusu.
Cerita belum berakhir, 2 jam kemudian saya merasa sakit luar biasa di bekas luka jahitan. Lapor ke suster jaga hanya dibilang “biasa, disuruh mobile aja Pak, supaya darahnya turun” saat itu saya pikir ada yang salah tapi akhirnya dilakukan juga saran suster itu sementara saya sampai gemetar menahan sakit. Ketidaknormalan semakin terasa ketika suami melihat ada darah menetes di lantai, kepanikan dimulai dan saya masih berusaha tenang dan meminta diantar ke kamar mandi untuk BAK. Kejadian terakhir yang saya ingat malam itu adalah saya duduk di toilet duduk, muntah dan pusing.
Saya baru sadar besok paginya, bingung karena terpasang oksigen dan infus sudah berpindah posisi. Semalam saya mengalami pendarahan, kata suami. Tensi turun sampai 80, sedangkan hb turun sampai 7. Ngantuk, pusing dan badan bau susu basi ditambah bayi kami dikembalikan bidan dalam keadaan wangi telah dimandikan beserta dot plus sekotak susu formula merk terkenal. Kecewa luar biasa, tapi ya sudahlah… Keinginan saya untuk asi ekslusif pupus sudah karena anak saya sudah tercemar sufor sejak hari pertama kelahirannya. Semoga saja bayi imut, ganteng dan lucu ini selalu sehat.

 

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s