17 Agustus 2013

Dirgahayu Indonesia yang ke 68!

Saya ini berasal dari sebuah kota kecil yang makin lama makin kecil karena keriuhan wisatawan. Saya juga besar dan tinggal di sebuah perumahan yang ada di kampung.
Ya, saya orang kampung yang dulu masih sering merasakan euforia peringatan 17 agustusan. Jaman saya kecil dulu, saya sering berpartisipasi dalam berbagai lomba hingga pesta puncak perayaan hari kemerdekaan. Lomba makan kerupuk, balap karung, lomba kelereng (itu lho yang kelerengnya disimpen di sendok terus sendoknya kita gigit), berbagai lomba olahraga, joget2 di panggung 17an. Terus menang? Engga! Hahaha…saya ini orang yang biasa aja. Paling jago ya cuma si lomba kelereng itu, itu pun klo ga jatuh kelerengnya. Mau tau kenapa? Keseimbangan saya jelek jadi sering jatuh, maka jangan ngarep itu lomba balap karung bisa menang. Lomba olahraga? Saya baru main voli jaman kuliah, itu pun klo serve bola ga nyampe lewatin net. Jadi satu-satunya keahlian saya ya si joget2 itu, yang musiknya adalah musik yang lagi hits banget jaman itu terus gerakannya sok-sok modern dance padahal itu-itu aja.
Yang paling seru dari lomba yang sering ada jaman dulu itu, lomba panjat pinang. Hadiah yang dipasang di ujung atas itu mulai dari yang mewah hingga paling biasa aja. Seru soalnya rintangannya juga ga mudah, para pemuda bahkan tidak jarang bapak-bapak dengan perut yang tidak lagi seksi berebut untuk bisa paling duluan sampai ke atas lalu akhirnya mereka saling menolong untuk bisa membuat salah satu orang sampai ke puncak untuk bisa mengambil seluruh hadiah.
Satu lagi, di kota saya dulu suka ada pawai. Orang-orang dengan berbagai kostum dan kendaraan dihias untuk berkeliling kota. Sekarang entah itu masih ada atau tidak?
Sejak SMA, perayaan 17an saya berpindah ke pusat kota. Saya mulai ikut upacara resmi 17 Agustus, sebagai peserta dan sebagai tenaga bantuan medis dengan seragam putih-putih berlambang palang merah remaja warna kuning. Sejak itu pula saya tidak pernah lagi mengikuti segala bentuk perayaan 17an.
Lalu apa sekarang masih ada keriuhan perayaan 17an seperti dulu? Sekarang saya tinggal di ibu kota provinsi. Sepanjang jalan dari pusat kota hingga ke rumah saya yang berada di wilayah kabupaten hanya terlihat beberapa titik keramaian. Kebanyakan dari mereka sepertinya masih menyelenggarakan tradisi perlombaan seperti dulu sedangkan sisanya hanya menggelar panggung dangdutan.
Semoga pesta perayaan hari kemerdekaan ini tidak semakin hilang ditelan waktu dan orang-orang yang semakin tidak peduli dengan tradisi.

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s