26th week of pregnancy

Kehamilan saya sudah 26 minggu, alhamdulillaah bayinya semakin aktif bergerak, semakin pintar merespon suara dan sentuhan. Tapi ternyata ada cobaan dikehamilan 26 minggu ini, saya mengalami kontraksi prematur yang mengharuskan untuk bedrest total.
Senin, 24 Juni adalah deadline terakhir dokumen tesis dikumpulkan ke pihak prodi S2 dan hari pertama saya merasakan ada yang aneh dengan perut saya. Perut terasa sangat sakit, sedikit mulas, kencang dan sulit untuk bergerak. Karena saya masih pikir ini biasa saja, jadi saya hanya menghabiskan waktu dengan duduk di depan komputer setelah semua dookumen tesis saya terkumpul.
Esok harinya, saya merasa masih super lelah dan perut tidak kunjung membaik. Hanya saja saya masih harus melaksanakan beberapa kewajiban untuk persyaratan wisuda.
Rabu pun saya masih merasa kondisi perut yang sama dan semakin sulit untuk berjalan. Dari gerbang kampus sampai ke gedung jaraknya kurang lebih 500m dan saya beristirahat sampai 4 kali dengan waktu berjalan hampir setengah jam. Tapi karena ada syarat wisuda yang harus dikumpulkan saya masih berjalan ke gedung sebelah dan menggunakan tangga untuk naik ke lantai 2. Selama di kantor, berkali-kali saya mendapat teguran “muka kamu pucet banget” atau “lemes banget kayaknya” dan saya hanya menjawab “iya, mungkin karena flu”. Keadaan saya mulai memburuk ketika pulang kerja, di perjalanan menuju angkot tiba-tiba kaki saya semakin berat untuk bergerak dan perut semakin sakit, bayi saya rasanya makin kebawah. Akhirnya setelah sms obgyn dan konsultasi dengan sepupu yang bidan, saya dan suami memutuskan untuk ke dokter.
Antrian dokter hari itu luar biasa, saya dapat antrian no 15 dan sampai jam 9 malam baru diperiksa karena bisa menyalip antrian. Entah karena diprioritaskan dokter atau karena antrian sebelumnya yang kebetulan ngobrol dengan saya dan suami memberi tahu dokter kalau saya dalam kedalam darurat karena suster yang jaga seperti tidak melihat ada yang aneh dengan saya karena seperti biasa meski sakit saya pasti masih terlihat biasa saja.
Ketika masuk ruang praktek, dokter melihat ada yang aneh dengan cara berjalan saya dan saya bilang memang perut sakit banget kalau jalan. Dan ketika dokter memegang perut saya, wajah dokter langsung menegang dengan kening berkerut berkali-kali dokter memeriksa kondisi bayi saya. Saya melihat bayi saya dalam kondisi kepala dibawah, tangan mengepal dan kaki menekuk persis seperti bayi-bayi di poster-poster.
Ternyata itu bukan pertanda baik, dokter bilang saya mengalami kontraksi prematur bayi saya bisa lahir kapan saja. Pilihannya saya masuk rumah sakit malam itu juga atau pulang dan minum obat yang diresepkan lalu besoknya masuk rumah sakit. Bingung adalah ekspresi pertama saya, kontraksi? Rawat inap? Saya harus rawat dimana? Di rs yang dekat rumah atau rs yang dirujuk dokter dan dekat dengan tempat periksa? Setelah tanya mamah dan kakak sepupu, saya masuk rs terdekat dari praktek dokter malam itu juga.
Resmilah saya jadi pasien rawat inap tanpa persiapan bekal apapun, batre hp saya dan suami yang melemah tanpa ada charger, pulsa yang menipis, perut kelaparan karena menjelang tengah malam hanya makan bapau, bingung dan yang pasti takut terjadi sesuatu dengan bayi saya. Dirawat di rs masalah baru muncul, saya ini tidak pernah berhasil menggunakan pispot sementara saya sama sekali tidak boleh turun dari tempat tidur. Dimarahin suster jaga tapi sampai nangis pun tetap tidak berhasil untuk buang air di pospot, akhirnya suster yang nyerah saya diijinkan untuk turun dari tempat tidur. Mungkin karena terlalu lelah saya akhirnya bisa tidur nyenyak meski berkali-kali dibangunkan suster untuk tes antibiotik dan suntik antibiotik.
Sampai dua hari dirawat akhirnya boleh pulang juga meski masih harus bedrest di rumah sampai seminggu. Saya belajar dan disadarkan bahwa tidak salah menjadi wanita yang tetap aktif selama hamil, tapi tetap harus moderat karena ada bayi yang di perut yang harus tetap dijaga kenyamanannya.
Be safe my baby, you have to still in my womb until the right time. Setidaksabar apapun Ibu dan Ayah untuk ketemu kamu, kami tetap ingin kamu lahir sehar normal sempurna pada waktunya. XOXO

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s