Suami Super

Sekali-kali bikin tulisan tentang suami, sambil nunggu dia pulang.
Ketergantungan emosional saya sama suami itu sangat tinggi. Setelah tinggal serumah dari awal tahun sampai sekarang jarang sekali saya berpisah lama dengan suami. Kami secara normal berpisah pada jam kerja saja karena perjalanan pergi dan pulang otomatis selalu bersama. Weekend selalu bersama kecuali pada saat ngidam karena kewajiban dan kebutuhan sebagai anak pada orang tua, suami pulang rumah orang tua dan saya tetap tinggal di rumah.
But anyway… Suami itu selalu membuat saya kagum dengan “keunikannya” sebagai laki-laki. Selama menikah, bisa dihitung dengan jari kapan saya nyapu dan ngepel rumah karena biasanya dikerjakan oleh suami meski dulu suami hanya ada di rumah hari sabtu dan minggu saja🙂 (yes, I’m not that wifey). Saya adalah menteri urusan servis perut, menjamin makanan yang masuk ke mulut dan perut suami selalu enak dan sehat.
Sekarang, saya sedang hamil awal tri semester kedua. Sejak awal kehamilan saya tidak bisa masak karena hidung saya super sensitif dengan bau dapur, praktis urusan cooking, laundry, cleaning is his responsibility. Setiap harinya sejak subuh suami saya akan sibuk di rumah dan malam hari nya akan sibuk dengan kemanjaan saya yang lelah karena aktifitas seharian. I know why “I love my husband so much”
Suami saya ini lucu, dia sukes membuat saya tertawa terbahak-bahak jam 11 malam karena melihat dia yang melakukan gerakan unik tiba-tiba. Sering sekali dia tiba-tiba melakukan gerakan unik yang lucu disaat yang tak terduga.
Kemarin, saya dibuat terharu ketika kami sedang makan malam di pinggir jalan karena saya sering lapar mendadak. Tiba-tiba suami nanya “itu ada tukang jagung rebus, masih mau?” saya hanya mengangguk dan bingung mengingat kapan saya pernah bilang mau jagung rebus. Mengingat saya sering sekali bilang mau ini itu dengan sembarangan, lihat tukang jus saya bilang mau jus, ada tukang cilok saya mau cilok, suami bilang mie ayam saya langsung mau, semua itu bukan sedang diam tapi sedang dalam perjalanan yang tidak mungkin kami berhenti. Dan saya takjub, karena suami masih ingat semua permintaan saya yang ecek-ecek itu.
Saya suka dengan caranya memanjakan saya, mencium pipi atau kening saya ketika bangun tidur, pulang kerja dan memeluk saya kapanpun saya mau. Saya suka caranya mencium perut saya, atau bermain “semut-semutan” di perut saya.
Ah sebaiknya saya berhenti, it’s too cheesy…saya memang kecanduan suami saya.

*dalam episode menunggu suami diterimani rintik hujan dan saya baru berpisah 8 jam dengan suami

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

2 thoughts on “Suami Super”

  1. tehhh hahaha sama banget. sejak nikah ampe sekarang aku mah belum pernah berurusan sama halaman rumah. taneman, rumput semua urusan simasbro :))

    bahkan sampe detik ini aku belum bisa pake mesin cuci. bakat ART sih, biasa nyuci manual dikasi mesin cuci kaget :))

    emang kita gak pantes ditiru banget deh.

  2. Jeng… tapi kamu keren banget lho bertahan dengan cuci manual. hahaha…(padahal aku pun yang nyuci pake mesin cuci juga suami)

    aaaah.. aib banget deh ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s