I’ve Met my Future Mother In Law (Camer)

Ini cerita week end saya kemarin. Sesuai dengan rencana dua minggu lalu, saya dan kakang berencana untuk memperkenalkan saya secara resmi kepada Ibu nya. Seharusnya ini dilakukan minggu kemarin, tapi karena kakang harus seminar TA jadi rencana ini batal dan baru dilakukan seminggu kemudian.

Perjalanan Bandung-Garut yang dilalui seperti biasa, penuh dengan peluh dan perjuangan (berlebihan..hehe). Berangkat dari kosan hampir tengah hari, lalu naik bis Tasik-Bandung non AC (dengan pertimbangan agar perjalanan lebih cepat), kemacetan dimana-mana, total perjalanan yang dilalui adalah 4 jam. Ya ampun, Bandung-Garut di hari biasa saja 4 jam! ini adalah penderitaan luar biasa. Kalau saat mudik lebaran sih saya tidak heran. Panas, keringat, dan hasilnya muka saya kucel. Padahal dari kosan sudah disiapkan serapi mungkin (kan mau ketemu camer).

Hadiah pertama yang saya terima sesampainya di Garut adalah Teh Kotak super dingin (Alhamdulillah…), rasanya itu adalah minuman paling enak di dunia saat itu. Setelah itu perjalanan berlanjut, jujur saja sampai saat itu perasaan saya aneh rasanya. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya saya ke rumah kakang, bertemu dengan Ibu nya. Ibu yang selama ini saya bayangkan sangat menyayangi anak bungsunya, bahkan kalau bisa anaknya itu selalu ada di dekatnya. Dan saya akan diperkenalkan sebagai perempuan yang akan mendampingi anak laki-laki lajangnya. Dan tentu saja, seperti biasa jika saya datang ke tempat baru. Tengok kanan kiri, baca semua papan nama yang terpampang di pinggir jalan seakan memastikan kalau saya tidak akan diculik kakang  ^_^ (Maaf, tapi saya rasa ini adalah ketakutan yang wajar :D). Meskipun saya dan kakang berasal dari kota dan kecamatan yang sama, tapi saya benar-benar tidak kenal daerah rumah kakang (bukti kalau saya anak rumahan).

Lalu turunlah kami di pinggir jalan, di depan sebuah rumah kecil dengan halaman yang sangat besar dan langsung mengingatkan saya pada rumah Almarhumah Mimih di Ciamis. Jreng-jreng…akhirnya bertemulah saya dengan Ibu nya, saya cium tangannya dan tersenyum semanis mungkin. Dan kesalahan terbesar saya adalah TIDAK MENYEBUTKAN NAMA. Ini parah, karena akhirnya saat Ibu nya menanyakan nama saya pada kakang, dia menjawab Nyi Icih (langsung mengingatkan saya pada nama salah satu keripik pedas fenomenal Keripik Ma Icih). Jadi sepanjang obrolan kami yang tidak terlalu lama itu, kami hanya saling memanggil Ibu dan Neng.

Setidaknya cerita saya bertemu camer hari itu berlangsung relatif lancar, kecuali bagian saya tidak memperkenalkan nama. Maaf Bu, nanti saya sebutkan nama kalau bertemu Ibu lagi ^_^

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s