Panggilan Sayang

Hampir semua orang punya panggilan sayang dari orang-orang terdekatnya. Baik dari keluarga, sahabat, atau pacar. Aku sendiri dipanggil Teteh oleh seluruh keluarga besar, teman-teman SMA ku memanggilku Onin, teman-teman kuliahku memanggilku Nina, pacar-pacarku (berkesan banyak, ups!) memanggilku Na, Ayang, dan yang paling aneh Nguknguk. Terlepas dari apapun panggilan mereka untukku yang pasti itu adalah bukti bahwa mereka sayang padaku.

Tapi bukan panggilan sayang itu yang aku maksud. Melainkan kata “sayang” itu sendiri yang menurutku sudah kehilangan kesakralannya. Bukan karena aku begitu mengagungkan kata ini, tapi memang begitu pendapatku sekarang. Hampir semua orang bisa mengatakan “sayang” dengan mudah. Yang aku maksud disini adalah kata “sayang” dari 2 orang berbeda jenis kelamin.

Mungkin dulu, “sayang” ini sangat sakral. Bahkan untuk mengucapkan kata itu saja mungkin Kakek Nenek kita bisa mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya. Coba lihat sekarang, dua orang yang baru mulai mengenal dan suka-sukaan bisa dengan mudah saling mengucapkan kata sayang. Bukan aku iri atau tidak menghargai mereka yang bisa mengatakan ini dengan mudah, tetapi aku merasa makin sini aku makin kehilangan rasa bahagia ketika mendengar panggilan sayang. Meski tidak dapat aku pungkiri, aku juga senang ketika mendengar kata itu diucapkan oleh laki-laki yang dekat denganku.(Dasar wanita!)

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s