Di Satu Perjalanan Pulang

Aku tidak tahu sudah berapa puluh kali aku melewati jalanan yang sama ini atau mungkin justru ratusan? coba saja hitung, aku sudah hampir 7 tahun ada di kota ini. Jika dulu tahun pertama aku seminggu sekali pulang dan pada tahun kedua mulai menjadi dua atau tiga minggu sekali sedangkan pada tahun ketiga mulai tiga minggu atau bahkan sebulan sekali dan sekarang hampir dua tahun terakhir ini frekuensi pulangku semakin jarang. Ah sudahlah, aku bukan ingin menceritakan pelajaran berhitung, aku hanya ingin menggambarkan seberapa sering aku melewati jalan yang sama ini. Dan ini adalah pertama kali aku naik bis lagi, sehingga aku bebas untuk membaca, mendengar musik, atau sekedar menulis notes.

Jalanan yang sama dengan ukuran bis yang semakin menciut saja. Akan terlihat bis jelas bis mana yang menuju ke rumahku, bis kecil dengan warna pink centil. Dulu bis nyaman menuju kota kecilku berwarna hijau terang. Sejenak aku kembali mengingat cerita hidupku sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Begitu banyak mimpi yang aku bawa dari rumah, dan begitu banyak cerita dan pengalaman yang aku bawa ketika pulang.

Dulu, jarang sekalia aku menghabiskan waktuku di jalanan ini sendirian. Selalu saja ada teman yang kadang sengaja berangkat bersama dari kampus atau memang tidak sengaja bertemu di terminal atau bahkan di bis. Masa itu adalah masa dimana teman adalah segalanya, saat beban hidup tidak lebih dari kuliah, pacar dan kehidupan pertemanan yang tidak selalu baik. Masih dapat aku menceritakan dengan jelas bagaimana setiap akhir minggu adalah saat yang dinanti dan pasti saja begitu banyak orang yang berebut bis untuk pulang. Kadang ketika bis nyaman itu sudah tidak ada di terminal, maka perjuangan naik bis ekonomi pun dimulai. Menunggu bis itu berangkat saja sudah lama, belum dalam perjalannya begitu sering bis ekonomi itu berhenti. Perjalanan yang seharusnya hanya 2 jam saja, bisa menjadi 4 jam. Tapi perjalanan itu tidak pernah sepi dari tawa atau kadang cerita sedih dari teman dan berakhir dengan gelap sepanjang sisa perjalanan, alias tidur nyenyak sampai terminal tujuan.

Beruntung aku pernah mengalami banyak hal dan masih bisa kau ceritakan. Apakah teman-teman perjalananku masih ingat cerita-cerita ini? Mungkin ya, mingkin juga tidak karena ingatan mereka sudah tertutup oleh begitu banyak cerita lain yang lebih penting. Dulu, aku melihat kota ini sangat jauh. Bagaimana tidak, papahku selalau menyiratkan sepertinya kota ini jauh sekali. Mungkin papahku hanya khawatir, bagaimanapun aku tetap putri kecilnya. Bahkan aku tidak diijinkan untuk menaiki bis umum dan lebih dipilihkan travel. Setelah semakin sering aku pulang pergi, semakin pintar juga aku memilih kendaraan umum untuk pulang pergi. Aku mengalami ongkos bis AC mulai 7000, 9000, 12000, 17000, 15000 dan sekarang ongkos bis mini ini 13000. Aku juga tidak sedang menceritakan pelajaran ekonomi, aku hanya ingin memperlihatkan seberapa besar perubahan itu terjadi selama ini.

Banyak cerita di jalanan ini, dari pulang bersama si pacar, lalu si pacar ini berganti oleh mantan sahabat yang akhirnya jadi pacar juga (mantan sahabat???hmm…), kadang bersama para sahabat yang akan menghabiskan berderet-deret kursi. Berbagi kursi yang seharusnya untuk berdua jadi digunakan untuk bertiga (dulu aku masih kurus sekali, dan hal itu tidak bisa dipraktekan sekarang), berdiri karena kehabisan tempat duduk, bahkan pingsan karena kehabisan oksigen dalam bis ekonomi ketika sedang puasa (hahaha), berkenalan dengan orang baru yang ternyata temannya teman, ngobrol dengan ibu atau bapak atau kakek nenek atau dengan anak kecil yang baru aku kenal di bis. Lihatlah, aku yang pendiam dan pemalu telah bertransformasi banyak karena cerita di jalanan. Dan yang paling penting, aku tidak pernah sendirian.

Hari ini, dijalanan yang sama saat matahati bergerak berganti dengan lampu-lampu mobil dan lampu jalan aku sedang bercerita sendirian. Dimana teman-temanku? Hilang? Bukan, mereka bukan hilang mereka masih saja ada untukku dalam bentuk yang berbeda. Mereka adalah sahabat yang tetap ada meski ceritaku bukan lagi cerita bahagia, atau mereak akan tersenyum dengan pelukan hangat ketika aku membawa cerita dengan penuh senyum di wajahku. Dengarlah, betapa aku rindu kalian sahabatku…

Bis kecil ini masih bergerak menuju rumahku, aku duduk melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan atau kadang melihat ke arah bulan yang ada diantara awan-awan. Kehadiran bulan membuat keadaan lebih dramatis, alasannya sederhana, aku tidak pernah berani melihat ke arah matahari dengan mata kosong tanpa pelindung seperti aku bebas melihat bulan. Berada di jalanan seperti ini aku seperti sedang merefleksikan diriku, jalanan yang tidak selalu lurus dan mulus, kadang belok, kadang berlubang, kadang melambat atau malah berhenti sama sekali, tapi bis kecil ini tetap berjalan menuju tujuan. Khusus kali ini, aku bebas memandang kiri kanan dan membaca setiap tulisan yang ada atau mengomentari sesuatu dalam hati. Tidak seperti biasanya waktu aku memacu Shaggy dengan kecepatan diatas 60 km/jam, aku harus tetap fokus pada jalanan yang memang selalu ramai.

Tiba-tiba seorang teman menghubungiku, hanya untuk menceritakan tadi dia melihat seorang laki-laki “smart looking” di angkot, katanya mirip dengan “Lex Luthor” berpenampilan seperti eksekutif muda dan dia bilang “untung saja tidak membabi buta tiba-tiba meminta nomor telepon orang itu” (hahaha)..untung saja, karena biasanya eksekutif muda tidak naik angkot, mungkin dia hanya salesman.

Cerita terakhir memberikan sedikit tawa di perjalanan ini. Perjalananku baru setengahnya dan mataku sudah minta untuk diistirahatkan meski rasanya berat mengorbankan pemandangan lampu malam. Sebentar lagi bis ini akan melewati turunan yang terkenal dengan kemacetannya ketika musim liburan tiba.

**menulis dalam perjalanan ditemani oleh earphone yang terpasang di telinga memutar lagu-lagu yang memang sesuai dengan suasana hati**

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s