Orang yang Jatuh Cinta Diam-Diam – MMJ- Raditya Dika

Akhirnya bisa baca buku ini, buku tidak penting yang justru jadi sangat penting di saat-saat seperti ini. Pertama mencari di Gramedia Merdeka ternyata habis, sempat kesal tapi akhirnya bisa dapat buku ini di Gramedia IP. Kronologisnya gini, aku masuk ke Gramedia, mencari di komputer dengan kata kunci “Marmut Merah Jambu”, dan whoalaaaaa ada! stocknya tinggal 34 buku tapi masalah berlanjut, aku tidak bisa langsung menemukan buku itu, bahkan tidak ada petugas yang bisa ditanyai di mana buku itu berada. Tapi beruntung seorang teman menemukannya,dan berakhirlah buku itu di tanganku sekarang.

Chapter pertama yang dibaca sebenarnya How I Met You, Not Your Mother. Tapi sepertinya me-review satu-satu lebih enak. Membaca Orang yang Jatuh Cinta Diam-Diam ini sebetulnya membuatku merasa ini sangat AKU. Paragraf terakhir dari chapter pertama itu

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yg ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yg jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yg kita inginkan. Terkadang yg kita inginkan bisa jadi yg tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yg kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yg jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yg mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian

ya orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Tapi jelas kalau aku tidak menginginkan ini. Jatuh cinta diam-diam itu melelahkan, kita membiarkan seluruh dunia tahu bahwa kita jatuh cinta kecuali orang yang kita cintai itu hanya dengan alasan gengsi atau mungkin justru malu atau malah tidak mampu untuk mencintai dengan terang-terangan.

Buatku bagian paling menyentuh dari chapter ini justru ketika Dika mengutip kalimat Oscar Wilde

“Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain, tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun,kita tidak punya apa pun untuk dikatakan”

See that, memang seperti itulah orang yang jatuh cinta diam-diam. Begitu seringnya bersinggungan, tapi kadang terlalu sulit untuk membuat sinyal. Mengetahui bahwa kita telah berpapasan, lalu aku malah berusaha lari sekuat mungkin tapi ini bukan karena aku benci, malah justru karena aku tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri. Jangankan bertemu, hanya dengan memikirkan saja aku sudah dag dig dug, hanya dengan mendengar suaranya di telepon aku bisa merekam jelas seperti apa suaranya, hanya dengan melihat di situs jejaring sosial lalu dengan terus menekan older post sampai lelah aku bisa tersenyum puas sendirian, hanya ketika teman mengingatkan aku padanya wajahku bisa terasa sangat panas. Begitulah orang yang jatuh cinta diam-diam, senang, sedih, kangen hanya bisa dirasa sendirian.

“Orang yang jatuh cinta diam-siam memenuhi catatannya dengan perasaan hati yang tidak tersampaikan..”

Sama saja sepertiku, catatanku penuh tentangnya, entah berapa puluh postingan blog selama 6 bulan yang aku hapus, entah berapa lembar buku harian yang selalu saja bercerita tentang dia, entah berapa banyak arsip sms yang berasal dari dia (jika saja si putih tidak pernah rusak), atau entah berapa banyak received call dan dialled number yang tidak pernah terhapus (kembali jika saja si putih tidak pernah rusak), bahkan gilanya aku masih menyimpan tagihan kartu pasca bayarku yang menuliskan seberapa sering aku menghubunginya (which is tagihan ini adalah tagihan 3 tahun lalu). Memang begitu orang yang jatuh cinta diam-diam, seperti Raditya Dika tuliskan “Orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detil semua informasi orang yang dia taksir, walaupun mereka belum pernah ketemu”.

*Aku tidak ingin hanya jadi orang yang jatuh cinta diam-diam
. Chapter ini sudah memberitahu dan mengingatkanku akan banyak hal

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s