UP IN THE AIR


Setelah hampir 3 bulan tidak menonton film karena kesibukan menyelesaikan TA, akhirnya minggu ini Aku mulai kembali untuk menonton film yang seharusnya ditonton sejak berbulan-bulan lalu. Sebetulnya film pertama yang ditonton adalah Avatar, tapi cerita yang itu nanti dulu ah.

Up in the air, film ini sebenarnya sempat mengingatkanku pada saat Aku menghabiskan waktu di darat, air dan udara untuk sebuah pekerjaan 3 tahun lalu. Packing adalah sebuah rutinitas yang selalu dilakukan, semua barang berada dalam koper yang sama agar mudah dibawa kemanapun dan tentu saja untuk lebih menghemat waktu. Koper dan backpack adalah dua jenis tas yang selalu dibawa kemanapun.

Koper, isi tas yang ini adalah beberapa potong celana jeans, banyak kaos, banyak jilbab, banyak undies (karena setiap datang ke satu daerah selalu membeli baru), sarung, kaos kaki, sandal jepit, sepatu dan bantal kecil.

Backpack, isi tas yang ini adalah laptop, buku kecil, buku besar, beberapa pena, baju kaos, jilbab, alat shalat, alat mandi, handuk, lotion anti nyamuk, tisu basah, dompet, charger hp, dan kacamata.

Jadi flyers untuk beberapa saat karena harus berangkat dari satu kota ke kota lain, jadi penumpang mobil selama berminggu-minggu untuk menempuh satu desa ke desa lain, dan menjadi penumpang kapal laut untuk menyebrang dari satu pulau ke pulau lain. Tapi tetap ada satu tempat yang ingin selalu dituju yaitu rumah. Ya, rumah dimana keluargaku akan selalu ada.

Up in the air, film yang memberikan beberapa pelajaran penting (kita akan selalu dapat mendapat pelajaran dari apapun).

  • Sebuah kesempurnaan itu datang dari kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Ryan dapat melakukan persiapan perjalanan dinas dengan mudah dan cepat karena dia telah melakukan itu selama 322 hari dalam satu tahun. Sedangkan Natalie, seorang karyawan baru yang baru akan melakukan perjalanan dinas berjalan lambat dengan sebuah koper lama dan barang-barang yang sama sekali tidak cocok untuk dibawa dalam sebuah perjalanan dinas.
  • Personal touch itu penting dalam dunia kerja dan kehidupan pribadi. Begitu banyak kemajuan teknologi saat ini yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya perjalanan dinas atau ongkos pulang ke rumah. Tapi dalam kenyataannya, ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan melalui YM, MySpace, e-mail, telepon, fax, atau sms. Teknologi itu hanya alat bantu yang tidak lebih pintar dari manusia.
  • Idealisme karyawan baru dan pengalaman kerja para karyawan senior adalah sesuatu yang dapat di gabungkan untuk mendapatkan hal yang jauh lebih baik. Seorang karyawan baru dengan pengetahuan baru dan segala idealisme yang dimiliki akan menjadi nilai tambah bagi sebuah perusahaan, dan seorang karyawan dengan pengalaman yang banyak dan sudah tahu segala hal tentang perkerjaannya juga merupakan nilai tambah. Karyawan baru membagi pengetahuannya pada senior, dan senior membagi pengalamannya pada junior. Ini merupakan sesuatu yang jauh lebih positif dibandingkan saling mempertahankan keinginan masing-masing dan akhirnya perang dingin.
  • Keluarga adalah sebuah tempat untuk kita pulang kapanpun. Terlalu lama tidak ada di rumah, kadang membuat seseorang sangat merindukan rumah atau malah bahkan tidak ingin kembali ke rumah. Tapi pada akhirnya, rumah itu akan selalu menunggu kita untuk kembali.

Most of all, film ini sangat bagus. Alur cerita yang rapi, gambar yang bagus, kata-kata yang lugas dengan pemikiran yang baik dan banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini.

Life’s better with company, everybody needs co-pilot.

Author: Nina Lestari

Daughter, Sister, Lover, Worker, Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s