Menu Lebaran

1437202124455

Jadi tahun ini saya dapet jadwal lebaran di rumah orang  tua saya, kami punya kesepakatan selama orang tua ada maka kami akan bergiliran lebaran di rumah orang tua kami.  Selain karena jarak juga dekat juga karena kami harus adil bersikap pada orang tua :)

Nah, berhubung saya ini anak perempuan pertama di keluarga saya dan di rumah mertua juga saya kebagian jadwal masak maka saya udah merencanakan menu lebaran yang akan dimasak. Standar ya, lebaran itu selalu ada menu berbagai daging dan kentang. Bumbu cabe, santan dan bersiap dengan kolesterol.

Nanti klo lagi punya “hidayah” saya posting juga deh resep-resep makanan yang saya masak kemarin :)

See you,

xoxo

Profesi : Ibu bekerja

Setiap kali memperkenalkan diri saya selalu bilang saya ini seorang Ibu bekerja bahasa gayanya Working Mom (WM)

kenapa pilihan ini yang saya sebut? bukan dosen/ staf di perguruan tinggi negeri?

Menjadi Ibu adalah profesi yang saya mimpikan dan usahakan. Berbulan-bulan menjalani terapi, memeriksakan diri, berdoa meminta yang terbaik supaya bisa menjadi Ibu.

Bukan hal mudah menjadi seorang Ibu, terlebih Ibu bekerja. Bangun pagi untuk memastikan seisi rumah terjamin makanannya, menyiapkan anak dan diri sendiri, mengarungi macetnya jalanan menuju kantor, bekerja sementara pikiran terbagi dengan anak yang dititipkan di daycare, menjaga komunikasi dengan suami, bahkan setelah pikiran lelah seharian masih harus bermacet-macet menuju rumah dengan anak yang moodnya juga belum tentu selalu sama. Setelah sampai rumah menemani anak tidur dan sering terjaga karena anak minta ASI.

Lalu apakah dengan itu saya menyerah? tidak. Lelah iya tapi bahagia, bagaimana tidak bahagia bila seringkali tiba-tiba pangeran kecil saya mencium pipi saya. Atau kadang dengan impulsivenya dia berulang kali memanggil Ibu Ibu Ibu Ibu tanpa alasan dengan binar bahagia di matanya. Bahagia karena pelukannya setiap kali saya menjemputnya di daycare, karena nyanyiannya dengan kalimat yang masih terbata, terharu karena alfatihah yang dibacakan setiap malam bisa diikuti dengan terbata :)

Bagi saya yang dibesarkan oleh seorang Ibu rumah tangga, betapa kemewahan itu berasal dari jawaban salam yang saya ucapkan setiap masuk rumah ketika pulang sekolah. Atau dari sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya ketika sarapan sebelum berangkat sekolah, bahkan saya masih disuapi sambil bersiap berangkat sekolah :) Lantas apakah saya harus memberikan kemewahan yang sama kepada anak saya? Sejujurnya saya sangat ingin menjadi Working at Home Mom atau Stay at Home Mom tapi rejeki saya masih lewat kantor dan kampus yang mewajibkan saya hadir setiap hari.

Karena menjadi seorang Ibu adalah kebahagiaan tanpa batas :)

Merasa muda, kembali melajang

 Akggio6kJ0ETNoMpmgcy64YKUWpLfZH72_gmBrKFSzqc (1)

Dengan niat mau nengokin istri teman kami yang sudah menjalani operasi 2 hari lalu kami berangkat dengan pemikiran kami akan kembali paling lambat 13.30 dari RS, tapi tenyata sampai Jl. Wastukencana jalanan sudah macet parah. Beruntungnya saya adalah teman yang lain sudah beberapa mobil kedepan jadi mereka bisa ngasih kabar harus lewat mana.

Di tengah kemacetan parah tiba-tiba ada yang nyeletuk “Asa bujang deui kieu nya?” (kayak lajang lagi ya?). Mau tidak mau saya kembali ingat jaman dulu kami sering jalan-jalan bareng. Mau itu makan, ngerayain ulang taun temen, ngerayain temen jadian, ngerayain temen putus, ya pokoknya apapun kami rayakan lah. LOL

Karena satu setengah jam masih terjebak macet akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan niat nengok ke RS dan berhenti untuk makan di salah satu mall di Jl. Pajajaran. Setelah sampai di parkiran tiba-tiba Rena bilang “Ih, berasa muda lagi ga sih?” saya ketawa karena sorry to saya, Rena, saya mesti bilang kalau saya masih muda sampai sekarang.

ie

Tapi memang sih, saya juga akhirnya menyetujui bahwa kami kembali seperti belum menikah. Bolos kerja bareng karena memang keadaan yang memaksa untuk bolos dan sampai pada keputusan “ga apa-apa dimarahin bos yang penting perut udah kenyang”. Ternyata setelah akan 7  tahun kami bersama masih tetap saja kami dengan peran seperti dulu. Kang Riki tukang ngabisin makanan, Kusmadi yang dipaksa bayarin makan karena honornya banyak, Nenny yang makanannya ga habis, Galuh yang pesanan makanannya selalu beda dari yang lain, Dini yang diam-diam isi piringnya kosong  dan yang pasti saya yang selalu menghabiskan makanan di hadapan saya.

ps :: lihat foto diatas yang mukanya paling stress karena udah telat balik ke kantor :D