Tentang meminta maaf

Tiga hari lalu harsya tiba-tiba menggigit saya pas lagi mimi. Saya kesakitan dan langsung tutup, tentu saja ini dilanjut dengan rengekan anak kecil minta mimi karena belum puas.

Harsya : *merengek sambil narik-narik baju

Ibu : No, ibunya sakit. tadi ade gigit ibu

Harsya : *masih keukeuh narik baju

Ibu : “minta maaf dulu sama ibunya, bilang “ibu ade minta maaf udah gigit ibu, ade ga akan gigit lagi”

Reaksi harsya diluar perkiraan saya, dengan memalingkan muka dia menarik nafas sambil pilih tiduran tanpa merengek minta mimi lagi. Ya saya otomatis membalikkan badan dan tidak mengacuhkannya, seperti sudah saya duga harsya langsung merengek lagi.

Ibu : “kalau ade mau mimi lagi, ade minta maaf dulu dan bilang “ibu ade minta maaf udah gigit ibu, ade ga akan gigit lagi””, saya mengatakan sambil melihat matanya berusaha menyamakan kedudukan dengan harsya.

Harsya : sambil menghela nafas dia akhirnya mencium pipi saya (cara minta maaf yang diajarkan ayah, tentu tanpa kalimat minta maaf yang panjang itu)

Ibu : “terima kasih sayang, sudah bisa minta maaf. Ibunya sayang sama ade”

dan malam itu berakhir damai :D

Kejadian berikutnya 2 hari lalu, harsya tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya tepat di pelipis saya. Ga usah ditanya rasanya seperti apa, tengkorak kepala harsya itu keras minimal seminggu masih kerasa sakitnya. Saya kembali meminta harsya untuk meminta maaf, kejadiannya persis sama dia menghela nafas berat lalu mencium saya sebagai tanda minta maaf.

Saya jadi ingat sebuah video youtube dimana seorang ayah mengajarkan anak perempuannya untuk meminta maaf kepada saudaranya, bahwa meminta maaf itu hanya tinggal mengeluarkan suara dari tenggorokannya, tidak perlu merasa harga diri terluka karenanya. Ternyata memang secara natural meminta maaf itu berat, bahkan harsya yang umurnya baru 17 bulan saja merasa berat untuk meminta maaf. Tapi saya yakin bahwa apa yang saya ajarkan padanya benar, meminta maaf ketika melakukan kesalahan sengaja atau tidak itu perlu bahkan harus. Konsekuensi setelah meminta maaf yang akan diterima ya terserah orang yang dimintai maaf.

Cerita tadi pagi :

Spion mobil saya disenggol sampai bengkok oleh sebuah mobil keluaran terbaru, mau tau reaksi orang itu? cuek aja lah, tanpa sedikitpun menurunkan spion untuk sekedar mengangguk minta maaf. Yang ada perempuan yang ada di kursi penumpang menunduk sambil memalingkan muka. Rasanya saya pengen banget posting  plat nomor mobil itu di media sosial supaya dia dapet pelajaran, tapi ya udahlah saya akhirnya cuma bilang ke harsya “ade jangan begitu, kalau salah ya minta maaf”.

Rasanya masih mending pengendara motor yang menyenggol spion dan berhenti sebentar untuk membetulkannya sambil nunjukin jempol, meski kesal tapi buat saya itu lebih baik daripada pengendara yang merasa kendaraannya udah oke banget terus malu lah kalo harus minta maaf sama mobil butut kanyaah papah saya. Sepertinya benar apa kata Pak Suami “harusnya produsen kendaraan di indonesia itu menjadikan spion dan lampu sein itu sebagai asesoris tambahan saja, karena seringnya fitur itu ga dipake sama orang indonesia biar kendaraan yang dijualnya jadi lebih murah” LOL

Jadi sebetulnya minta maaf itu ga melukai harga diri kok, bahkan menunjukkan seperti apa kepribadian kita. Meminta maaf itu baik, lebih baik lagi berusaha untuk tidak melalukan kesalahan, Tapi manusia mana yang tidak pernah salah kan?

Tentang belajar mengelola uang

previewDisclaimer : Ini bukan tips-tips ala pakar keuangan yang gelarnya panjang banget itu. Ini murni cuma cerita bagaimana saya belajar mengelola uang selama ini.

“Ya enak atuh kamu mah kerjaan 2 kan double gajinya, suami juga kerja masih kadang dapet dari proyekan juga, anak baru satu. Saya mah tanggungan udah banyak banget”

Alhamdulillah, kalo patokannya cuma pendapatan sih ya begitu pandangannya. Tapi kalo saya ceritain apa saja pos biaya yang harus saya keluarkan setiap bulannya pasti paham kenapa saya dan suami bisa sampai mendapat penghasilan seperti sekarang.

Perjalanan saya mengelola keuangan bukan penuh sukses sampe punya tabungan banyak, tapi yang pasti saya diajari mamah saya sejak masih kelas 5 SD. Saya masih ingat uang jajan saya saat itu seribu rupiah sehari, sekolah dari senin sampe sabtu dikasih uang mingguan 5rb rupiah saja!. Cukup? ya harus cukup, berhasil ga? engga! hahaha…awal-awal saya dikasih uang 5000 sekaligus uangnya udah habis di hari ke 3, soalnya waktu itu baru ada supermarket di kota saya dan saya menghabiskan uangnya untuk beli alat tulis lucu-lucu. Sisanya gimana? saya cuma nyisain uang buat ongkos pulang pergi sekolah aja, tanpa jajan. Tersiksa banget, udah uang jajannya dipotong sehari masih harus ngatur juga keuangannya. Padahal umur saya baru 10 tahun waktu itu. Lulus SD saya masuk asrama pesantren, yang meski dekat rumah berarti saya harus belajar mengatur keuangan dan kehidupan saya.  Mamah mulai memberi uang 2 mingguan, yang sering berujung saya jalan kaki dari sekolah ke rumah soalnya uangnya habis ditengah 2 minggu itu.

Mulai beranjak SMA, mamah saya memberikan tantangan lebih. Uang jajan mulai dikasih bulanan dan termasuk bayar spp sekolah, bayar les, ongkos sekolah dan les dan uang jajan. Ga banyak cuma 60rb aja sampai kelas 3 SMA saya punya uang bulanan 140 ribu tapi harus nanggung semuanya. Susah, berat apalagi kalau lihat teman-teman punya barang baru lucu-lucu, jajan bisa apa saja dimana saja bahkan sampai bisa main kemana saja.

Nah, pas awal kuliah justru saya merasa sedikit berlebih dibanding dengan sebelumnya karena waktu kuliah saya kembali diberi uang mingguan dengan ongkos pp rumah-kosan ditanggung papah. Setiap pulang diberi bekal makanan yang bisa bertahan minimal untuk 2 atau 3 hari. Dari tabungan kecil-kecilan sisa uang jajan saya bisa beli hp baru motorola warna putih yang saya lupa tipenya dan berakhir dengan jatah uang bekal saya dipotong karena masih bisa nabung :)) Papah saya punya prinsip yang kaku soal uang bekal, seharusnya uang bekal itu untuk makan dan ongkos kalau ada kebutuhan lain diluar itu harus bilang ke papah. Tapi, bukan berati papah saya memanjakan kami anak-anaknya karena kami hanya punya sesuatu yang baru ketika tahun ajaran baru berupa seragam, tas, sepatu serta momen lebaran. Adik saya bergelimpangan mainan ketika mereka disunat sedangkan saya punya barang baru karena berhasil dapat beasiswa karena mendapat IP jurusan teknik lebih dari 2,75.

Begitulah saya dan kedua adik saya dididik mengenai uang, kami biasa hidup biasa saja. Kami punya apa yang orang lain punya dengan level berbeda, sepatu kami baru tapi bukan keluaran terbaru dari merk terkenal, baju kami baru bukan keluaran distro terkenal, motor kami motor biasa saja, Komputer dan laptop yang kami pakai bukan yang paling canggih tapi bisa dipastikan memenuhi kebutuhan kami selama belajar.

Pengalaman saya belajar mengenai mengelola keuangan itulah yang akhirnya bisa membuat saya bertahan mengelola keuangan rumah tangga. Sejak masih lajang dan mulai mempunyai penghasilan tetap sendiri saya mulai lepas dari sokongan dana dari papah. Saya mulai bebas untuk punya barang-barang yang saya inginkan dan butuhkan sesuai dengan gaji yang saya dapatkan.

Ini list yang pasti saya lakukan setiap bulannya :

1. Nabung; sesaat ketika uang gaji masuk minimal 10% dari gaji

2. Bayar tagihan; tagihan rumah, sekolah anak, telepon, listrik, kartu kredit, iuran keamanan&sampah komplek,arisan,cicilan ini itu lainnya

3. Belanja kebutuhan rumah bulanan; segala barang yang dipakai sama seisi rumah dibeli sekaligus supaya hemat waktu hemat bensin dan hemat uang karena sudah terstruktur.

4. Pos uang; sistem AMPLOP! ya saya masih konservatif soal ini, semua uang anggaran saya masukan ke amplop supaya mudah untuk mengetahui ketika ada kelebihan penggunaan

5. Belanja kebutuhan dapur mingguan; kalau ini tukang sayur langganan saya udah hapal banget, dia cuma akan mampir ke rumah saya 3 hari sekali dan tiap weekend karena saya akan masak besar pada hari libur dan hanya akan menghangatkan makanan ketika hari kerja. Hemat gas, hemat uang.

6. Karena kebiasaan itu saya jadi masih bisa makan diluar, jajan baju, dan seringnya sih beli-beli barangnya anak.

Kebiasannya emang sama dengan yang disuruh para pakar keuangan, ya mereka kan harusnya udah meneliti sistem yang mereka buat itu akan bekerja dengan baik. Saya belum di level bisa investasi beli reksadana atau LM karena saya masih harus banyak belajar mengelola keuangan tapi mudah-mudahan kedepannya saya bisa lebih baik lagi.

Ketika Nyonya rumah banyak maunya

image

Pengen laptop baru alesannya karena bikin bahan kuliah pake notebook kecil kok ya cape banget karena udah biasa pake komputer kantor yang layarnya besar.
Pengen mesin jahit baru alesannya karena pengen aja seriusin jahit. Mesin jahit sekarang ga mumpuni buat jahit serius.
Pengen mobil baru alesannya karena pengen banget mobil matic buat mengarungi jalanan macet bandung yang luar biasa.
Pengen kitchen set baru alesannya karena atuhlah pengen aja dapurnya keren kayak di majalah interior.

Demikianlah ketika nyonya rumah banyak maunya.

Persahabatan bagai kepompong, kadang kepo kadang rempong.

10941375_10205958326221246_8638580194928502325_n

Ini kami dalam formasi kurang lengkap, 29 Januari 2015

Beberapa dari kami sudah berteman dari sejak kuliah, beberapa baru bertemu ketika mulai bekerja di tempat yang sama dengan profesi berbeda-beda. Hari ini sudah lewat 5 tahun kami berteman, hampir selalu bertemu setiap bulan dengan kedok arisan padahal mau makan gratisan. Dari jaman single, masih bisa maen-maen hore sampe malem sampe sekarang hampir semuanya punya anak. Dari jaman kredit motor, sampe sekarang nyicil mobil. Dari tinggal dikosan sampe pindah ke rumah. Dari traktiran ikhlas, sampe traktiran todongan :D kami bahkan pernah ngasih kejutan ultah ditengah hujan sepulang kerja yang alhamdulillah bisa membuat kami dapet traktiran di tempat yang rada mahal.

1936406_1194827474827_731383_n 1936406_1194827674832_8082854_n 4395_1157540862685_1561424_n10392221_1263650435358_3694762_n

10150725_10201287836710922_1348007444_nKami sekarang punya cerita sukses masing-masing, ada yang sudah jadi pejabat, ada yang sudah jago banget di bisnisnya, ada yang udah jadi pns, ada yang baru lulus kuliah, ada yang udah jadi dosen, ada yang udah pindah ke bumn, ada yang karirnya makin berkembang. Jangan heran, kalau mendengar percakapan kami dari mulai kebijakan terbaru di tempat kerja sampai eyeliner terbaru yang keluar dan lagi promo bulan ini. Kami random, kami rempong, kami kepo satu sama lain. Karena kami memang kepompong!

twenty nine my age

 I’m old

Alhamdulillaah, sampai ke umur 29.

Punya suami super baik, punya anak yang luar biasa membahagiakan, orang tua yang alhamdulillah sehat, adik-adik yang perhatian.

Saya sama suami selalu nanya “mau hadiah ulang taun apa?” jadi ga ada itu kejutan penuh haru berbunga-bunga. hehe… kami tau persis apa yang kami dapatkan di hari ulang taun. Di tahun pertama sama suami saya minta perhiasan, tahun kedua minta blender terbagus satu set full dengan alesan klo mau bikin makanan anak gampang (padahal hamil aja belum), tahun ketiga minta panci satu set alesannya ya kan kepake bikin makanan buat orang rumah, tahun ini saya minta mobil (matre) tapi ternyata Abah udah duluan ngasih mobil ke Harsya jadi ga mungkin di rumah dengan garasi kecil ada 2 mobil akhirnya keinginan saya direvisi saya minta suami bisa nyetir mobil ke Garut :D. Sampe sekarang belum terpenuhi soalnya belum ada aja waktunya.

Saya bersyukur sekali di umur 29 saya sudah mengalami banyak hal dan sudah memiliki banyak hal. Semoga tahun-tahun kedepan juga akan selalu hidup diliputi syukur dan sabar.

Parenting : Never ending learning

MARI BERHENTI MEMBENTAK ANAK
dan gunakan The Power of “BERBISIK” – Ayah Edy

Saya dapat ujian naik kelas dari Harsya beberapa hari ini. Anak yang biasanya anteng aja di mobil tiba-tiba bisa teriak-teriak minta perhatian, ada saja alasannya kadang minta minum, minta cemilan, minta nyalain dvd, nyalain ac, minta diambilkan berbagai hal yang dia tunjuk. Dengan posisi saya lagi nyetir tentu saja saya jadi multitasking dan membahayakan kami berdua. Akhirnya saya hanya berhenti dan berusaha lembut tapi tegas mengatakan “Ibu lagi nyetir, dek. Kalau ade mau sesuatu nanti ibu kasih di rumah ya” hasilnya? Teriakannya makin kenceng sampai saya rasanya bisa memvisualisasikan ribuah syaraf di tubuh saya sedang terputus.

Saya lalu istighfar dan berusaha menikmati setiap teriakannya. Harsya saya biarkan menangis sampai akhirnya dia lelah dan tertidur di jalan. Ah..saya ini ibu biasa, ketika dia diam dan akhirnya tertidur giliran saya nangis. Segini berat ternyata perjuangannya untuk mendidik anak.

Setiap harinya saya selalu belajar hal baru dari Harsya dan beberapa hari ini saya dihadapkan pada persoalan bagaimana mengelola emosi. Normalnya ketika ada yang berteriak saya juga pasti ikut teriak, ingin rasanya saya marah pada Harsya karena dia tiba-tiba mudah tantrum. Tapi setelah dipikirkan kembali memang tidak ada gunanya, saya tidak mengerti apa yang Harsya mau dan Harsya juga malah makin depresi karena saya marah.

Biasanya kejadiannya begini :

Harsya mau sesuatu->Ibu ga kasih dengan alasan tertentu->Harsya nangis->Ibu jelasin kenapa ga boleh->Harsya teriak makin kenceng->Ibu usap kepalanya atau pegang tangannya atau peluk kalau memungkinkan->Harsya tetap nangis teriak-teriak->Ibu bilang dengan kalem “ya udah ade nangis aja, ibu ga ngerti ade mau apa kalau nangis teriak-teriak kayak gini, ibu lagi (melakukan sesuatu)”->Harsya teriak lagi sampai cape->Ibu diam->Harsya diam karena cape->Ibu bilang “udah nangis teriak-teriaknya?Maafin ibu ya tapi ade minta maaf juga sama ibu->Harsya peluk leher saya dan cium pipi->Ibu bahagia anak tenang->Harsya mimi terus senyum atau malah tidur.

Ya, saya akhirnya lebih pilih mendiamkan Harsya ketika dia sudah nangis teriak-teriak setelah saya bilang kalau saya akan menunggu sampai dia selesai nangis dan bisa menyampaikan keinginannya atau menerima alasan saya dengan baik. Saya memang berbicara padanya dengan bahasa orang dewasa karena saya yakin Harsya pasti paham apa yang saya maksud dari sikap dan intonasi bicara saya. Sebisa mungkin saya tidak membentak meski rasanya sangat ingin. Ah parenting, never ending learning

…6 tahun mengabdi

Apa yang ada dipikiran saya sekarang? Lalu Oemar Bakrie-Iwan Fals.

Saya diingatkan oleh sebuah postingan teman di media sosial 1 Desember 2008-1 Desember 2014. Sudah 6 tahun saya bertahan di tempat ini, masih di posisi yang sama ruangan yang berbeda sejak beberapa tahun terakhir. Apa yang sudah saya alami selama 6 tahun ini? Sudah menghasilkan apa? Sudah dapat apa?

Masih ingat saya menarik nafas panjang hingga berkali-kali ketika harus menandatangani surat kontrak kerja sampai masa pensiun. Tapi akhirnya saya tandatangani juga surat tersebut, karena pikiran saya “ini hanya untuk mengisi waktu sebelum kuliah dimulai”. Status saya masih mahasiswa S1 sebuah kampus swasta yang kuliahnya sore hingga malam hari.

Tentang teman kerja :

Seiring berjalannya waktu, beberapa fase sudah saya lewati. Masih ingat masa-masa gaji pertama yang dibicarakan ramai-ramai dengan teman yang “seangkatan”. Masih ingat juga ketika teman yang ini nge-DP motor dari gajinya, tidak lama teman yang lain juga sama. Kami sampai di masa pergi pake motor ngabring kesana kemari. Tidak lama masa-masa teman yang ini tunangan, teman yang itu menikah, roadshow kondangan masih rame-rame sama teman “seangkatan”. Berselang beberapa lama musim lahiran para bayi-bayi lucu, nengokin rame-rame juga. Sekarang sudah 6 tahun, pembicaraan saya dan beberapa teman sudah berkisar tentang “mobil, rumah, anak, sekolah anak..”

Tentang pekerjaan :

Yang paling berat buat saya adalah menyadari bahwa mahasiswa yang dulu saya layani di lab sudah ada yang jadi ini itu sekolah di luar negeri sementara saya masih di sini, duduk di ruangan yang sama seperti ketika mereka masih mahasiswa.

Makin lama makin tidak ada yang terasa sulit untuk saya hadapi dalam pekerjaan saya. Tantangan saya selama ini adalah menghadapi mahasiswa dengan berbagai karakter. Itu saja…

——————————————-

Terima kasih ITB untuk 6 tahun saya disini