Merasa muda, kembali melajang

 Akggio6kJ0ETNoMpmgcy64YKUWpLfZH72_gmBrKFSzqc (1)

Dengan niat mau nengokin istri teman kami yang sudah menjalani operasi 2 hari lalu kami berangkat dengan pemikiran kami akan kembali paling lambat 13.30 dari RS, tapi tenyata sampai Jl. Wastukencana jalanan sudah macet parah. Beruntungnya saya adalah teman yang lain sudah beberapa mobil kedepan jadi mereka bisa ngasih kabar harus lewat mana.

Di tengah kemacetan parah tiba-tiba ada yang nyeletuk “Asa bujang deui kieu nya?” (kayak lajang lagi ya?). Mau tidak mau saya kembali ingat jaman dulu kami sering jalan-jalan bareng. Mau itu makan, ngerayain ulang taun temen, ngerayain temen jadian, ngerayain temen putus, ya pokoknya apapun kami rayakan lah. LOL

Karena satu setengah jam masih terjebak macet akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan niat nengok ke RS dan berhenti untuk makan di salah satu mall di Jl. Pajajaran. Setelah sampai di parkiran tiba-tiba Rena bilang “Ih, berasa muda lagi ga sih?” saya ketawa karena sorry to saya, Rena, saya mesti bilang kalau saya masih muda sampai sekarang.

ie

Tapi memang sih, saya juga akhirnya menyetujui bahwa kami kembali seperti belum menikah. Bolos kerja bareng karena memang keadaan yang memaksa untuk bolos dan sampai pada keputusan “ga apa-apa dimarahin bos yang penting perut udah kenyang”. Ternyata setelah akan 7  tahun kami bersama masih tetap saja kami dengan peran seperti dulu. Kang Riki tukang ngabisin makanan, Kusmadi yang dipaksa bayarin makan karena honornya banyak, Nenny yang makanannya ga habis, Galuh yang pesanan makanannya selalu beda dari yang lain, Dini yang diam-diam isi piringnya kosong  dan yang pasti saya yang selalu menghabiskan makanan di hadapan saya.

ps :: lihat foto diatas yang mukanya paling stress karena udah telat balik ke kantor :D

Outbond : Permainan Tongkat Ajaib

tongkat ajaib

Image Credit to : Ibu Srimiati

Beberapa saat lalu saya mengikuti kegiatan Outbond dari kantor saya sebagai penutupan masa kepemimpinan pejabat periode saat ini. Sejak dulu saya tertarik kegiatan outbond hanya bagian permainan ketinggian, tapi kemarin saya memutuskan hanya mengikuti kegiatan permainan tanpa permainan ketinggian karena saya membawa Harsya untuk ikut selama kegiatan.

Ada satu permainan yang menarik bagi saya yang kata trainernya adalah permainan tongkat ajaib. Perintahnya adalah bambu ini harus bisa turun ke tanah dengan posisi jari tangan peserta hanya menyentuh sedikit saja. Mudah ya? salah banget. Susah banget untuk bikin tongkat bambu seringan itu menyentuh tanah, setiap kali sudah hampir menyentuh tanah pasti saja kembali ke atas. Ada yang bilang, ini emang tongkatnya ajaib deh :)

Saya mempelajari bahwa setiap permainan di outbond pasti ada hubungannya dengan kepemimpinan, kerjasama, keberanian dan keyakinan. Begitupun dengan permainan sederhana ini, sederhana juga penyelesaiannya satu pemimpin yang lain ikuti dengan dengan keyakinan sama pemimpinnya lalu kerjasama antar pemainnya.

Jadi kalau sulit untuk menyentuhkan bambu itu ke tanah mungkin karena tidak percaya dengan pemimpin yang sudah ditunjuk. Begitupun, ketika ada pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan mungkin karena tidak adanya kepercayaan sama pemimpin atau mungkin karena ada yang over power setelah menunjuk orang lain menjadi pemimpin tapi masih ingin memimpin.

Bulan ke 19

image

Terima kasih, Harsya. Karena kita sudah tumbuh bersama.
Terima kasih, Harsya. Karena tumbuh sehat, ceria, dan bahagia.
Terima kasih, Harsya. Karena sudah mengerti bahwa ibu seringkali tidak sabar.
Terima kasih, Harsya. Karena sudah mau membantu membuang sampah, mengambil sesuatu dan bahkan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring.
Terima kasih, Harsya. Untuk ciuman yang kadang enggan diberikan demi asi yang sudah dinanti sepanjang hari.

Terima kasih, anak baik. Karena sudah menjaga ibu selama ini

Ibu love you so much
Ayah love you more
xoxo

Bulan ke 18

image

Selamat 18 bulan anak baik kesayangan..
Tambah pinter, tambah aktif, tambah pengertian sama ayah dan ibu, makin pinter ngerajuk dan manja, makin sholeh juga.

Makin sering bikin ibu putar otak dengan pertanyaan “apa itu?” yang dengan lucunya bisa bilang “ga mau”, yang dengan baiknya memberikan mukena tiap ibu mau bilang mau sholat, mau bertahan duduk ketika makan sendiri atau disuapin, yang selalu cium ibu ketika mau mimi.

Tumbuhlah menjadi anak yang bahagia, sayang

I love you to the moon and back, baby.

Tentang meminta maaf

Tiga hari lalu harsya tiba-tiba menggigit saya pas lagi mimi. Saya kesakitan dan langsung tutup, tentu saja ini dilanjut dengan rengekan anak kecil minta mimi karena belum puas.

Harsya : *merengek sambil narik-narik baju

Ibu : No, ibunya sakit. tadi ade gigit ibu

Harsya : *masih keukeuh narik baju

Ibu : “minta maaf dulu sama ibunya, bilang “ibu ade minta maaf udah gigit ibu, ade ga akan gigit lagi”

Reaksi harsya diluar perkiraan saya, dengan memalingkan muka dia menarik nafas sambil pilih tiduran tanpa merengek minta mimi lagi. Ya saya otomatis membalikkan badan dan tidak mengacuhkannya, seperti sudah saya duga harsya langsung merengek lagi.

Ibu : “kalau ade mau mimi lagi, ade minta maaf dulu dan bilang “ibu ade minta maaf udah gigit ibu, ade ga akan gigit lagi””, saya mengatakan sambil melihat matanya berusaha menyamakan kedudukan dengan harsya.

Harsya : sambil menghela nafas dia akhirnya mencium pipi saya (cara minta maaf yang diajarkan ayah, tentu tanpa kalimat minta maaf yang panjang itu)

Ibu : “terima kasih sayang, sudah bisa minta maaf. Ibunya sayang sama ade”

dan malam itu berakhir damai :D

Kejadian berikutnya 2 hari lalu, harsya tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya tepat di pelipis saya. Ga usah ditanya rasanya seperti apa, tengkorak kepala harsya itu keras minimal seminggu masih kerasa sakitnya. Saya kembali meminta harsya untuk meminta maaf, kejadiannya persis sama dia menghela nafas berat lalu mencium saya sebagai tanda minta maaf.

Saya jadi ingat sebuah video youtube dimana seorang ayah mengajarkan anak perempuannya untuk meminta maaf kepada saudaranya, bahwa meminta maaf itu hanya tinggal mengeluarkan suara dari tenggorokannya, tidak perlu merasa harga diri terluka karenanya. Ternyata memang secara natural meminta maaf itu berat, bahkan harsya yang umurnya baru 17 bulan saja merasa berat untuk meminta maaf. Tapi saya yakin bahwa apa yang saya ajarkan padanya benar, meminta maaf ketika melakukan kesalahan sengaja atau tidak itu perlu bahkan harus. Konsekuensi setelah meminta maaf yang akan diterima ya terserah orang yang dimintai maaf.

Cerita tadi pagi :

Spion mobil saya disenggol sampai bengkok oleh sebuah mobil keluaran terbaru, mau tau reaksi orang itu? cuek aja lah, tanpa sedikitpun menurunkan spion untuk sekedar mengangguk minta maaf. Yang ada perempuan yang ada di kursi penumpang menunduk sambil memalingkan muka. Rasanya saya pengen banget posting  plat nomor mobil itu di media sosial supaya dia dapet pelajaran, tapi ya udahlah saya akhirnya cuma bilang ke harsya “ade jangan begitu, kalau salah ya minta maaf”.

Rasanya masih mending pengendara motor yang menyenggol spion dan berhenti sebentar untuk membetulkannya sambil nunjukin jempol, meski kesal tapi buat saya itu lebih baik daripada pengendara yang merasa kendaraannya udah oke banget terus malu lah kalo harus minta maaf sama mobil butut kanyaah papah saya. Sepertinya benar apa kata Pak Suami “harusnya produsen kendaraan di indonesia itu menjadikan spion dan lampu sein itu sebagai asesoris tambahan saja, karena seringnya fitur itu ga dipake sama orang indonesia biar kendaraan yang dijualnya jadi lebih murah” LOL

Jadi sebetulnya minta maaf itu ga melukai harga diri kok, bahkan menunjukkan seperti apa kepribadian kita. Meminta maaf itu baik, lebih baik lagi berusaha untuk tidak melalukan kesalahan, Tapi manusia mana yang tidak pernah salah kan?

Tentang belajar mengelola uang

previewDisclaimer : Ini bukan tips-tips ala pakar keuangan yang gelarnya panjang banget itu. Ini murni cuma cerita bagaimana saya belajar mengelola uang selama ini.

“Ya enak atuh kamu mah kerjaan 2 kan double gajinya, suami juga kerja masih kadang dapet dari proyekan juga, anak baru satu. Saya mah tanggungan udah banyak banget”

Alhamdulillah, kalo patokannya cuma pendapatan sih ya begitu pandangannya. Tapi kalo saya ceritain apa saja pos biaya yang harus saya keluarkan setiap bulannya pasti paham kenapa saya dan suami bisa sampai mendapat penghasilan seperti sekarang.

Perjalanan saya mengelola keuangan bukan penuh sukses sampe punya tabungan banyak, tapi yang pasti saya diajari mamah saya sejak masih kelas 5 SD. Saya masih ingat uang jajan saya saat itu seribu rupiah sehari, sekolah dari senin sampe sabtu dikasih uang mingguan 5rb rupiah saja!. Cukup? ya harus cukup, berhasil ga? engga! hahaha…awal-awal saya dikasih uang 5000 sekaligus uangnya udah habis di hari ke 3, soalnya waktu itu baru ada supermarket di kota saya dan saya menghabiskan uangnya untuk beli alat tulis lucu-lucu. Sisanya gimana? saya cuma nyisain uang buat ongkos pulang pergi sekolah aja, tanpa jajan. Tersiksa banget, udah uang jajannya dipotong sehari masih harus ngatur juga keuangannya. Padahal umur saya baru 10 tahun waktu itu. Lulus SD saya masuk asrama pesantren, yang meski dekat rumah berarti saya harus belajar mengatur keuangan dan kehidupan saya.  Mamah mulai memberi uang 2 mingguan, yang sering berujung saya jalan kaki dari sekolah ke rumah soalnya uangnya habis ditengah 2 minggu itu.

Mulai beranjak SMA, mamah saya memberikan tantangan lebih. Uang jajan mulai dikasih bulanan dan termasuk bayar spp sekolah, bayar les, ongkos sekolah dan les dan uang jajan. Ga banyak cuma 60rb aja sampai kelas 3 SMA saya punya uang bulanan 140 ribu tapi harus nanggung semuanya. Susah, berat apalagi kalau lihat teman-teman punya barang baru lucu-lucu, jajan bisa apa saja dimana saja bahkan sampai bisa main kemana saja.

Nah, pas awal kuliah justru saya merasa sedikit berlebih dibanding dengan sebelumnya karena waktu kuliah saya kembali diberi uang mingguan dengan ongkos pp rumah-kosan ditanggung papah. Setiap pulang diberi bekal makanan yang bisa bertahan minimal untuk 2 atau 3 hari. Dari tabungan kecil-kecilan sisa uang jajan saya bisa beli hp baru motorola warna putih yang saya lupa tipenya dan berakhir dengan jatah uang bekal saya dipotong karena masih bisa nabung :)) Papah saya punya prinsip yang kaku soal uang bekal, seharusnya uang bekal itu untuk makan dan ongkos kalau ada kebutuhan lain diluar itu harus bilang ke papah. Tapi, bukan berati papah saya memanjakan kami anak-anaknya karena kami hanya punya sesuatu yang baru ketika tahun ajaran baru berupa seragam, tas, sepatu serta momen lebaran. Adik saya bergelimpangan mainan ketika mereka disunat sedangkan saya punya barang baru karena berhasil dapat beasiswa karena mendapat IP jurusan teknik lebih dari 2,75.

Begitulah saya dan kedua adik saya dididik mengenai uang, kami biasa hidup biasa saja. Kami punya apa yang orang lain punya dengan level berbeda, sepatu kami baru tapi bukan keluaran terbaru dari merk terkenal, baju kami baru bukan keluaran distro terkenal, motor kami motor biasa saja, Komputer dan laptop yang kami pakai bukan yang paling canggih tapi bisa dipastikan memenuhi kebutuhan kami selama belajar.

Pengalaman saya belajar mengenai mengelola keuangan itulah yang akhirnya bisa membuat saya bertahan mengelola keuangan rumah tangga. Sejak masih lajang dan mulai mempunyai penghasilan tetap sendiri saya mulai lepas dari sokongan dana dari papah. Saya mulai bebas untuk punya barang-barang yang saya inginkan dan butuhkan sesuai dengan gaji yang saya dapatkan.

Ini list yang pasti saya lakukan setiap bulannya :

1. Nabung; sesaat ketika uang gaji masuk minimal 10% dari gaji

2. Bayar tagihan; tagihan rumah, sekolah anak, telepon, listrik, kartu kredit, iuran keamanan&sampah komplek,arisan,cicilan ini itu lainnya

3. Belanja kebutuhan rumah bulanan; segala barang yang dipakai sama seisi rumah dibeli sekaligus supaya hemat waktu hemat bensin dan hemat uang karena sudah terstruktur.

4. Pos uang; sistem AMPLOP! ya saya masih konservatif soal ini, semua uang anggaran saya masukan ke amplop supaya mudah untuk mengetahui ketika ada kelebihan penggunaan

5. Belanja kebutuhan dapur mingguan; kalau ini tukang sayur langganan saya udah hapal banget, dia cuma akan mampir ke rumah saya 3 hari sekali dan tiap weekend karena saya akan masak besar pada hari libur dan hanya akan menghangatkan makanan ketika hari kerja. Hemat gas, hemat uang.

6. Karena kebiasaan itu saya jadi masih bisa makan diluar, jajan baju, dan seringnya sih beli-beli barangnya anak.

Kebiasannya emang sama dengan yang disuruh para pakar keuangan, ya mereka kan harusnya udah meneliti sistem yang mereka buat itu akan bekerja dengan baik. Saya belum di level bisa investasi beli reksadana atau LM karena saya masih harus banyak belajar mengelola keuangan tapi mudah-mudahan kedepannya saya bisa lebih baik lagi.

Ketika Nyonya rumah banyak maunya

image

Pengen laptop baru alesannya karena bikin bahan kuliah pake notebook kecil kok ya cape banget karena udah biasa pake komputer kantor yang layarnya besar.
Pengen mesin jahit baru alesannya karena pengen aja seriusin jahit. Mesin jahit sekarang ga mumpuni buat jahit serius.
Pengen mobil baru alesannya karena pengen banget mobil matic buat mengarungi jalanan macet bandung yang luar biasa.
Pengen kitchen set baru alesannya karena atuhlah pengen aja dapurnya keren kayak di majalah interior.

Demikianlah ketika nyonya rumah banyak maunya.