Bengkak Payudara

Masih lanjutan dari cerita nursing strike kemarin. Sampai hari minggu Harsya masih kadang mau kadang tidak untuk menyusu langsung. Hari minggu saya memutuskan untuk tidak akan memberikan asip sama sekali meski itu berarti saya harus siap dipanggil untuk menyusui ditengah segala kesibukan akhir minggu di rumah.

Ternyata tidak semudah yang saya pikirkan juga untuk kembali bisa menyusui langsung.  Harsya masih menolak beberapa kali dan memilih untuk tidur dipelukan saya (kok bisa sih anak ini lebih milih laper?)

Perpaduan sedih, marah dan lelah membuat saya sama sekali ga pumping hari minggu. Padahal biasanya saya masih tetap pumping meski itu hari libur untuk menjaga produksi asi. Ternyata hal itu membuat masalah baru, Senin pagi saya merasa payudara penuh lalu dengan semangat ngambil pompa asi manual untuk pumping. Tapi lho? kok yang keluar sedikit? bahkan tidak sampai 10ml padahal saya yakin itu sakit karena penuh. 15 menit pumping hanya dapat 10ml saya mulai panik karena sakitnya sama sekali tidak berkurang. Pijat payudara, kompress panas dingin bergantian, pumping lagi hasilnya cuma 20ml! Saya langsung berpikir ini saluran asi tersumbat, ya sudah tetap berpikir positif bahwa ini akan segera hilang.

Sampai dikantor saya sukses meriang, mungkin karena sakit di payudara dan memang belum fit. Coba tanya sana sini ada yang memberi saran untuk kembali memijat payudara dengan gerakan melingkar terus menerus dan yang saya dapatkan adalah rembesan di breastpad berwarna hijau muda, berbau tajam seperti antibiotik dan rasanya asin. Kepanikan saya bertambah, karena hasil pumping yang 20 ml pagi itu saya minta untuk diberikan ke Harsya kalau dia bangun sementara saya tidak memeriksa kualitas asip itu sama sekali. “Kalau noda yang ada warnanya hijau muda jangan-jangan itu nanah” pikir saya saat itu. Apa ini mastitis atau abses payudara? segala macam pikiran buruk mulai berhampiran. Saya hanya berdoa diberi kesempatan untuk menyusui Harsya minimal sampai dua tahun.

Seharian di kantor hari itu benar-benar hanya mengurusi masalah payudara yang sakit, tidak ada perkerjaan kantor yang saya kerjakan sama sekali. Di rumah saya masih berusaha mengobati dengan menyusui dan memijat. Semua video di youtube dibuka untuk tau cara memijat yang paling bisa menolong. Malam itu setelah memijat hampir tiga jam saya merasa lebih nyaman untuk istirahat.

Pagi ini saya kembali memeriksa keadaan payudara yang sudah tidak terlalu sakit dan ternyata ketika dilihat ada beberapa bagian yang memerah dan terasa keras. Saya semakin yakin kalau ini bengkak payudara dan saya butuh pertolongan orang lain untuk memijat. Akhirnya saya memutuskan untuk ke klinik laktasi dan dibantu untuk breast care massage oleh bidan di KKK RS Boromeus. Rasanya luar biasa sekali sakit, ini untuk kedua kalinya saya kembali merasakan sakit hebat setelah melahirkan. Tapi setelah segala rasa sakit itu, payudara kembali terasa normal dan yang paling penting adalah jumlah hasil perahan saya kembali normal.

Rasanya bahagia melihat botol-botol kaca penampung asip kembali penuh di cooler bag. Pada akhirnya saya belajar dari pengalaman ini, jangan pernah kalah oleh rasa lelah. Menyusui itu butuh tekad yang kuat, fisik yang prima, mental yang siap dan keras kepala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s