Berpikir tentang daycare

Berawal dari perbincangan saya dengan mamah hari kamis minggu kemarin, akhirnya saya mulai mencari tentang daycare di Bandung yang saya rasa cocok untuk Harsya, Ibu dan Ayah. Kenapa harus cocok untuk kami bertiga? karena Harsya yang akan menjalani kehidupan di daycare, karena Ibu yang akan antar jemput tiap hari plus mulai menjalani hidup hanya berdua dengan Harsya, dan karena Ayah yang akan bayar biaya daycare nya :D

Banyak sekali muncul pertanyaan di benak saya ketika akan memasukkan Harsya ke daycare

1. dekat rumah atau dekat kantor Ibu?

2. berbasis pendidikan Islam?

3. bilingual?

4. disediakan makan?

5. berapa anak maksimal satu pengasuh?

6. jadwal kegiatan anak?

7. laporan harian, mingguan, bulanan anak?

8. uang pangkal, uang bulanannya berapa?

9.

10.

.

.

.

.

dan masih banyak sekali pertanyaan lainnya.

Sampai hari ini saya baru memutuskan Harsya akan masuk ke daycare yang dekat dengan Ibu, padahal selama ini saya meninggalkan Harsya di rumah dan jauh dari Ibu. Pertimbangan saya sih karena ini notabene Harsya dititipkan pada orang lain jadi lebih baik dekat dengan saya. Mendengar dekat kantor saya ada mesjid yang ada daycarenya juga saya mulai mempertimbangkan tempat tersebut, tentu saya sangat ingin Hasrya belajar mengenai agamanya dengan baik.

Persoalannya adalah di daycare tersebut tidak disediakan makan, berarti saya harus ekstra untuk menyiapkan makan dan cemilannya. Bukan karena saya tidak terbiasa memasak makanan Harsya, tapi karena nanti kami akan tinggal berdua saja di rumah berarti saya harus mulai menyiapkan diri dan juga menyiapkan Harsya untuk berkerja sama dengan baik.

Ada lagi sebetulnya kekhawatiran yang muncul, apakah Harsya siap untuk diasuh orang lain? Harsya sampai saat ini masih sulit untuk tidur begitu saja, pasti harus di eyong kalau sama orang lain atau harus mimi kalau sama saya. Gimana nanti tidurya di daycare? menyuapi Harsya itu super tricky, apa pengasuhnya nanti akan sesabar umi atau abahnya?

Saya juga tau banyak sekali sisi positifnya daycare, anak bisa bersosialisasi, belajar untuk mandiri, belajar disiplin juga. Soal sosialisasi ini jadi perhatian saya karena Harsya ini jarang banget ketemu orang lain selain yang dirumah. Dulu pas ayahnya masih di Bandung tiap pagi pasti jalan-jalan dulu jadi minimal ketemu orang sekomplek, sekarang dia paling nongkrong didepan rumah terus yang dilihat cuma mamang roti bakar, mamang bubur ayam, mamang buah, sama tetangg yang memang keliatan dari rumah. Jadinya tiap ketemu orang baru dia akan diem, jutek. Akhirnya saya sama suami mulai program jalan-jalan ke keramaian tiap hari libur dan lumayan sekarang Harsya bisa senyum meski sama orang baru.

Soal bahasa, saya mah mau Harsya bisa berbahasa apapaun dengan baik. Bahasa Indonesianya baik, bahasa Sundanya baik, bahasa Arabnya baik, dan bahasa Inggrisnya juga baik. Jadi untuk sekarang saya memang hanya mengenalkan bahasa Inggris sedikit, tapi pasti bahasa arabnya banyak karena doa, dan bahasa sunda hanya untuk istilah-istilah yang sering digunakan, plus bahasa indonesia untuk bahasa sehari-hari. Jadi yang penting daycarenya bisa mengenalkan Harsya pada bahasa yang baik, itu saja.

Mahal murah daycare buat saya relatif, selama saya dan suami masih dicukupkan rejeki untuk itu maka berarti kami mampu bayar :)

Ah, baru kemaren saya baca postingan seorang ayah yang anaknya baru saja diwisuda tentang bagaimana perasaannya ketika mengantar anaknya sekolah sampai akhirnya sekarang mengantar anaknya melihat dunia setelah wisuda. Tidak lama lagi mungkin saya akan merasakan bagaimana merasakan mengantar anak “sekolah” meski baru di daycare :’)

Menjadi pendamping diabetesi

Mamah saya divonis diabetes dari 10 tahun lalu, nenek saya dari mamah meninggal karena komplikasi diabetes 11 tahun lalu, nenek saya dari papah juga diabetesi masih bugar sampai sekarang.

Seminggu terakhir ini pembicaraan di rumah kecil selalu seputaran gula darah. Berawal dari mamah saya yang pernah bengkak sebadan-badan dan dokter memvonis bengkak jantung, berobat lalu sembuh. Kemudian tiba-tiba mamah harus masuk rumah sakit dan divonis ada kristal di ginjalnya, berobat lalu sembuh. Berlanjut bengkak lagi, ke dokter jantung di Bandung dan dokter mengatakan tidak ada masalah di jantung mamah memang ada penebalan otot jantung kemungkinan karena diabetes lalu dokter menyarakankan mamah untuk diperiksa oleh dokter ahli diabetes. Berselang beberapa bulan akhirnya mamah saya mau juga diperiksa ke dokter ahli diabetes ini, saya cari info sebanyak-banyaknya dan berakhir di dokter endokrin di rumah sakit dekat kantor saya.

Sebetulnya saya mengerti masalah psikologis yang mamah hadapi, siapa yang tidak bosan dengan minum obat terus menerus, membayangkan makan harus dibatasi sementara mulut doyan makan, lemes ngantuk tapi beser, sekarang obat berganti dengan suntik insulin belum masalah-masalah lain yang membuat diet dan obat tidak berjalan dengan baik.

Kunjungan pertama ke dokter endokrin seperti biasa saya menemani mamah bertemu dengan dokternya untuk memastikan mamah menyampaikan informasi dan mendapatkan informasi dengan benar. Benar saja, dokternya bilang kalo selama ini mamah saya salah memberikan treatment pada badannya

1. Ketika suntik insulin (ya, mamah saya hanya suntik insulin 1 kali untuk sepanjang hari). Bahwa dua jenis insulin yang diresepkan harus digunakan keduanya karena fungsinya beda Novorapid untuk setiap sebelum waktu makan dan Levemir untuk setiap malam. Ini penting karena jika salah salah satu tidak digunakan maka percuma saja.

2. Pola makan, dokter menyarankan mamah untuk bertemu ahli gizi supaya mamah bisa mengetahui pola makan yang benar. 9 bulan terakhir mamah memang tinggal dengan saya jadi otomatis saya yang bertanggung jawab pada menu makan setiap harinya kecuali weekend. Setelah mendengar penjelasan ahli gizi saya bisa menyimpulkan bahwa menu makanan yang saya sediakan sudah benar meski ada beberapa hal yang harus dihindari seperti seafood dan beberapa pucuk sayuran karena mamah saya asam urat dan kolesterolnya tinggi. Tapi….sekali lagi mamah saya pola makannya berantakan, bangun tidur ngemil karena laper, ngemilnya bisa apa aja yang ada toples yang rajin banget diisi sama mamah. Trus sering banget udah makan segala macem lalu laporan ke saya “duh lupa belum disuntik” :)) Laaaah… sering banget juga ga makan malem tapi cemilan malemnya tepung-tepungan semua. Plus..mamah saya orang sunda banget yang makan nasi kentang sama mi sama bihun :D . Saya sendiri tahu bahkan sudah mengurangi karbo dalam makanan saya, gula, garam, penyedap rasa, berusaha nambahin bumbu untuk masakan saya dengan harapan saya mengubah asupan makanan yang dimakan mamah sedikit demi sedikit supaya lebih sehat. Kenapa? karena saya tidak mau mamah saya stress dengan diet lalu malah akhirnya males dan makan sembarangan. Buah yang selalu ada di rumah dengan alasan untuk cemilan Harsya sekarang sudah mulai merubah mamah untuk sering makan buah.

3. Pola hidup, mamah saya ibu rumah tangga yang aktif seluruh pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Semakin anak-anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri semakin banyak waktu yang mamah punya untuk istirahat. Akhirnya selesai makan, tiduran bahkan tidur nyenyak :) sementara itu gula dalam darah semakin menumpuk. Baru mulai semangat olahraga, selalu ada aja masalahnya. Terakhir sejak vonis bengkak jantung itu mamah ga bisa banyak bergerak karena ketika lelah pasti mamah sesak nafas. Saya sendiri ngarepnya setelah gula darah mamah semakin stabil bisa bikin mamah kembali olahraga sedikit-sedikit.

Dokter endokrin kemarin bilang “kita udah dikasih badan bagus-bagus berarti kewajiban kita buat jaga biar tetap sehat”, kata mamah ini yang sering diinget. Padahal ya…saya udah pernah bilang lho itu ke mamah tapi dianggap sambil lalu *nangis dipojokan

Anyway…selama sejarah mamah diabetes saya sering denger saran ini itu yang katanya bikin sembuh tapi dokter juga bilang “diabetes ini penyakit yang tidak bisa sembuh dalam artian perlu maintenance seumur hidup mungkin dibantu obat, suntik insulin atau ya perubahan gaya hidup“. Nurunin gula darah itu perlu bertahap, contoh gula darah mamah saya itu rata-rata diatas 270an, bahkan sebelum ke dokter endokrin kemaren malah 517. Sehari suntik dengan jadwal yang benar meski makan masih agak berantakan langsung turun dibawah 200 tapi mamah saya malah pusing sama lemes persis orang hipoglikemi. Pernah juga mamah rajin minum jus wortel sama mengkudu hasilnya gula darahnya drop terus diomelin dokter :D ga usah ditanya deh itu segala pahit-pahitan yang udah mamah masukin ke mulutnya, memang benar semua itu menurunkan gula darahnya tapi kalau takarannya ga benar pasti ada efek buruk juga ke badannya.

Dokter mewanti-wanti untuk JAMU alias Jaga Mulut artinya menjaga asupan makanan yang masuk lalu jangan sampai hipoglikemi karena bahaya untuk tubuh mamah. Tes gula darah minimal seminggu sekali kalau memang sudah stabil pasti akan lebih ringan ke badannya. Disini perlu sekali niat, konsisten dan dukungan dari lingkungan.

Menjadi pendamping diabetesi buat saya otomatis merubah diri saya juga, bagaimanapun saya punya resiko kena diabetes karena faktor turunan atau malah gaya hidup saya yang berantakan. Dadah-dadah sama yoga sama lari :)) Kelebihan berat badan yang sudah menahun harus segera disingkirkan tapi makan enak kok doyan banget -_-. Berubah segera, berubah sedikit-sedikit semoga kita semua selalu sehat.

#20factsaboutme

Camera 360

1. anti ribet, mau ya mau, engga ya engga
2. suka banget sama yang namanya perabot rumah tangga
3. paling susah disuruh bangun lebih pagi
4. ngebut klo bawa motor tapi slow motion klo nyetir mobil
5. bisa masak, bikin kue, jahit, rajut, motret, benerin alat elektronik, manjat tower, benerin keran air. Ya, saya random :))
6. paling ribut kalo suami udah beberes. Soalnya banyak kehilangan barang padahal cuma diberesin
7. suka banget nonton asal jangan film horor
8. flat shoes lover
9. ga pernah tetap suka sama warna, tiap taun warna kesukaan pasti beda
10. betah banget di kasur, saya sih bisa tahan seharian ga turun dari kasur sama sekali
11. Susah banget nabung klo ga dipaksa.
12. suka makan suka jajan
13. sering banget gagal beli baju cuma karena “ah gini doang sih bisa bikin sendiri” padahal ga juga bikin baju sendiri
14. dulu bisa segala macem sekarang “ayaaaaah…”, Pak Suami adalah segalanya :-*
15. paling suka kalo abang Faqiih udah manggil “Ninaaaaaa” keponakan cerewet sepanjang masa
16. Teh atau kopi? saya pilih kopi!
17. i love pinterest so much
18. baru dandan 2 taun terakhir
19. suka musik, ga suka Rhoma Irama
20. Blogger, suka nulis tapi juga suka lupa posting :D

Menjawab tantangan Ajeng .. dan saya bingung harus nantang siapa. Hahaha

Selamat Ulang Tahun, Harsya

14 September 2013-14 September 2014

Harsya

Satu tahun sudah umurmu, anak lelakiku, pemimpinku, kebahagiaanku…Alhamdulillaah..

Terima kasih, Nak

untuk satu tahun penuh kejutan

untuk satu tahun penuh kebahagiaan

untuk satu tahun yang ramai dengan tangis dan tawa

untuk satu tahun yang membuat kami lebih semangat menjalani hidup

Tumbuhlah menjadi anak bahagia

Peluk cium Ibu dan Ayah

Tentang wawancara kemarin

Kemarin saya ditanya seseorang dalam suatu acara wawancara 

Dia : “anda teknisi? sudah lulus S2? lulusan kampus ini?”

Saya : ‘Iya, Bu”

lalu saya menceritakan perjalanan saya dari awal sampai saat ini

Dia : “anda belum lelah kan bekerja seperti sekarang ini?”

Saya : saat itu hanya saya jawab sambil tersenyum “kalau sudah lelah saya akan kuliah lagi, Bu” 

Dia : tertawa

 

 

 

Cerita Harsya : GTM dan GMM

Harsya udah seminggu ini melakukan Gerakan Melepeh Makanan (GMM) yang berujung GTM (Gerakan Tutup Mulut), sebagai ibu bekerja saya merasa luar biasa stress karena kedua gerakan ini. Berhari-hari saya berusaha mengumpulkan informasi kenapa hal ini bisa terjadi pada Harsya

1. Cape, males makan. Ini saya sama suami banget, klo udah cape liat makanan males banget tapi berhubung karena umur  sekarang pasti maksain makan deh. Kondisi lambung sudah tidak mumpuni buat kelakuan males makan.

2. Pilek, idung mampet bikin aroma makanan ga tercium, lidah rasanya pahit, dan pasti males makan. Saya aja bisa turun berat badan minimal 2kg padahal sakitnya flu aja (coba turun 2 kg itu lagi hidup normal-normal aja)

3. Begah , beberapa hari Harsya pup nya ga teratur sementara biasanya jadwalnya udah pasti pagi-pagi bangun tidur sebelum mandi pagi. Jadi bersih-bersihnya dilanjutkan dengan mandi pagi.

4. Bosan, mungkin udah ga mau bubur oat, sup krim, nasi tim, saya coba kasih nasi biasa kuah soto full bumbu garam gula dan abis satu porsi makan Harsya. Umurmu baru 10bulan16hari, Nak. Kesalnya Harsya tidak pernah menolak kerupuk, keripik atau apapun yang kriuk-kriuk sampai saya rela bikin gorengan bayam yang bikinnya butuh kesabaran luar biasa. Sekarang saya sedang berpikir untuk membuat keripik buah-buahan untuk menyiasati keinginannya gigit menggigit ini.

5. Tumbuh gigi, ini asumsi saya karena dia selalu senang diberi buah potong dingin atau asip yang baru keluar dari kulkas yang tetep diminum dari botol kaca(dotnya udah saya masukin ke kotak plastik buat adiknya nanti–> nanti yang ga tau kapan)

Saya dituntut untuk lebih pintar mengelola emosi, memilih menu dan mengatur waktu. Ibu-ibu yang ngalamin anaknya GTM pasti tau banget rasanya udah masak terus pas disodorin ke anaknya malah dilepeh atau sama sekali tutup. Maunya marah, tapi sadar ini cuma bayi yang bahkan bilang “Ibu” aja belum bisa. Akhirnya ya itu makanan masuk perut ibu, gimana ibunya ga mau tambah melar aja coba. Sekarang udah bikin jurnal makanan supaya tau mana yang Harsya suka dan yang tidak, supaya juga tidak mengulang menu yang sama dua hari berturut dan supaya hemat (jiwa ibu-ibu). Semoga GTM dan GMM ini tidak lama, saya kangen mulut lucunya yang lagi ngunyah makanan :’)

 

 

 

Berhenti Memompa ASI

Hari pertama di kantor dan hari pertama berhenti memompa asi di kantor seperti yang sudah saya niatkan sebelum libur lebaran. Keputusan berhenti ini karena Harsya sudah tidak mau minum ASIP, stok di kulkas banyak dan  didonorkan belum ada yang mau juga. ASI saya Alhamdulillah masih banyak dan semoga selalu cukup sampai saatnya Harsya disapih nanti.

Rasanya hari pertama tidak memompa ASI adalah aneh, hehe..karena saya biasa menghilang jam 10-11 dan jam 3-4, lalu biasa membawa cooler bag berserta peralatan perang lainnya. Sekarang ke kantor cukup pake tas kecil saja, pulang kerja bisa langsung main dengan Harsya, pagi-pagi tidak perlu juga menyiapkan semua peralatan memompa ASI.

Berhenti memompa ASI ini bukan tanpa masalah, karena tadi pagi saja saya sudah merasa payudara super penuh dan akhirnya saya perah sedikit untuk mengurangi rasa sakitnya pulang kerja juga saya perah karena terlalu penuh. Pelan-pelan juga saya yakin pasti badan ini menyesuaikan kebiasaan baru seperti dulu ketika saya mulai menabung ASIP sedikit demi sedikit sampai suami bela-belain beli kulkas yang freezernya lebih besar.

Selamat beristirahat pompa asi Avent, botol dot Avent,  cooler bag Kalt, blue ice Rubbermaid dan seratus lebih botol kaca. Sampai bertemu lagi nanti ketika saya berkewajiban berusaha memenuhi hak anak saya lagi. Terimakasih sudah menemani selama hampir 11 bulan ini.